Catatan Harian Mbeling

Info Lomba

Cerpen

Buku

Gallery

TAGGED UNDER:

Pendidikan Kita: Jangan Berhenti Pada Wacana!

kembangkitan pendidikan

Terkait keterpurukan pendidikan Tanah Air, kita begitu yakin bawah ada sesuatu yang tidak beres. Dan jika pendidikan kita ibaratkan pasien maka sebenarnya ia adalah pasien yang telah dibawa ke banyak dokter untuk diobati. Dokter dengan ilmunya telah melakukan chek up lalu mendiagnosa penyakitnya, sudah pula memberinya obat. Jika sang pasien tidak kunjung sembuh maka ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, bisa jadi dokter salah dalam mendiagnosa sehingga memberikan obat yang salah. Kedua, dokter sudah benar dalam mendiagnosa tetapi obat yang diberikan salah atau tidak mampu menyembuhkan. Ketiga, dokter sudah benar mendiagnosa dan memberikan obat yang bagus, tetapi pasien enggan meminum obatnya.

Sudah banyak dokter spesialis (pakar) pendidikan berusaha mendiagnosa penyakit yang membuat pendidikan di negeri ini ogah bangkit. Kalau kita rajin membuka koran, maka hampir tiap hari kita menemukan opini perihal persoalan pendidikan. Belum lagi diskusi, seminar, dan obrolan-obrolan di warung kopi, tak terhitung banyaknya mulut ikut sibuk mengupas persoalan yang nyaris sama: pendidikan.

Tatkala dilangsungkan seminar tentang Peran Kurikulum dalam Pendidikan di Kota A, misalnya, di kota B sedang diadakan diskusi tentang Usaha-usaha Membangkitkan Semangat Pengabdian Guru. Pada hari yang sama pula di kota C digelar Refleksi dan doa bersama dengan tema: Meneladani Perjuangan Ki Hajar Dewantara. Begitu pula di kota D, E, F, G sampai Z, di koran A, B, C, D, sampai Z, tidak ada yang diam dalam memikirkan nasib pendidikan negeri ini yang terpuruk. Betapa luar biasa energi yang sudah kita salurkan untuk kemajuan bangsa ini!

Entah sudah berapa buku dan penelitian tentang pendidikan yang telah lahir, dan akan terus menetas bagaikan hujan. Berapa blog, berapa posting, berapa status, dan debat di kolom komentar yang meributkan persoalan pendidikan? Sudah tak terhitung. Namun, kenapa semua itu seolah tidak banyak membawa perubahan? Apakah karena tidak ada dukungan dana dari pemerintah dan masyarakat guna mengaplikasikan ide-ide yang telah begitu banyak? Tidak! Sekitar 20 % APBN sudah digelontorkan negara, meski hampir sebagian besar habis untuk menggaji pegawai tetapi toh sisanya cukup besar juga. Masyarakat juga tidak segan-segan untuk membayar mahal biaya sekolah dan buku. Lalu apa?

Duh, pendidikan negeri tercinta ini agaknya sudah terjangkit penyakit komplikasi yang kronis. Maka penanganan yang dilakukan juga mesti intensif. Tidak cukup hanya berpikir, beropini, berdebat, berdiskusi, soal bagaimana menyembuhkannya, tetapi yang terpenting adalah pengobatan itu sendiri. Bagaimana menyembuhkan adalah konsep atau wacana, dan pengobatan adalah aksi, kerja nyata.

Gagasan Kecil Kerja Besar Akan Membawa Hasil Besar

Saya selalu kagum pada orang-orang atau kelompok yang tidak banyak berwacana, tetapi aktif melakukan hal-hal nyata dalam memberikan perubahan. Mereka bergerak, bukan hanya ngomong. Mereka beraksi tidak sekadar bersilat lidah. Mereka menyalakan lilin, dan tidak hanya memperdebatkan bagaimana supaya lampu bisa menyala tanpa listrik.

Tentu saja kita sepakat, bahwa ide, gagasan, dan diskusi tetaplah penting. Buku-buku pemikiran dan protes juga harus ada. Namun, upaya membumikan gagasan jauh lebih mengena.

Gagasan Besar Kerja Kecil Bisa Jadi Tidak Menghasilkan Apapun

Apakah kita pernah kekurangan stok gagasan terkait pendidikan? Gagasan-gagasan baru memang akan terus lahir, tetapi bukan berarti gagasan lama tidak lagi kontekstual untuk diterapkan. Kalau kita datang ke perpustakaan, maka kita akan menemukan buku-buku tempat bersemayamnya berbagai diagnosa dan ramuan obat mujarab dari pakar pendidikan yang menunggu (ya, menunggu!) diterapkan. Tapi begitulah, sepertinya bangsa ini lebih senang untuk menambah stok gagasan atau memperdebatkannya, ketimbang segera melakukan pengobatan untuk pendidikan yang sakit. Maka beginilah nasib kita sekarang; belum beranjak! Padahal kita tahu benar akibat dari penyakit yang tidak segera ditangani.

Gagasan Besar Kerja Besar Akan Membawa Kesempurnaan

Pembangunan pendidikan karakter, pemerataan pendidikan, pendidikan murah, kesejahteraan para guru, pendidikan humanis, pendidikan berbasis komunitas, wa’ala alihi washahbihi ajma’in adalah gagasan-gagasan besar yang pernah tercetus, telah dibicarakan di forum-forum akbar, dan sebagian daripadanya telah pula diusahakan untuk dibumikan. Anies Baswedan telah cukup berhasil melakukan program Indonesia Mengajar, meski semenjak beliau menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan seakan-akan lupa dengan gagasan besarnya yang lain yakni mem-VIP-kan para guru. Bahruddin dan teman-teman di Qaryah Thayyibah telah menerbitkan matahari di desa Kalibening dengan pendidikan berbasis komunitas, dan Pemerintah telah hampir sekses mengajari para guru membuat RPP berbasis karakter, juga merehab kurikulum agar tidak hanya menggarap aspek pengetahuan.

Tentu saja ada orang-orang hebat yang tidak hanya menjadikan gagasan sebagai wacana di puncak menara gading, tetapi berusaha mengkonkritkannya. Terpujilah mereka. Dan bagi kita atau juga pemerintah yang hanya senang menerbitkan gagasan sebagai lipservice, atau bahkan untuk menenangkan para demonstran, maka hanya Allah-lah sebaik-baik pemberi petunjuk dan kekuatan.

Memang, siapapun paham, ngomong lebih mudah ketimbang melakukan. Gagasan besar tidak dibangun dalam semalam, dan untuk mewujudkannya tidak semudah mencari informasi terkait bocoran soal UN di Google. Tapi bagaimana lagi? Tidak ada cara terbaik membangkitkan pendidikan Tanah Air selain dengan action! Dan sebagai rakyat kita sudah sepatutnya bersabar untuk terus mengingatkan para pemimpin agar tidak keblinger dalam membuat suatu kebijakan.

sumber gambar: www.arkansasbusiness.com

Yusuf 5/13/2015 0
TAGGED UNDER:

Bebas: Ngeblog atau Mati?

untuk apa ngeblog

Kenapa harus ngeblog? Hah! Itu pertanyaan bodoh yang lebih pantas dijadikan sebagai judul buku ketimbang awal sebuah tulisan. Orang mungkin akan mengatakan bahwa blog memiliki segudang manfaat, dan karenanya kemudian ia berfatwa bahwa ngeblog adalah suatu keharusan. Apakah tidur dan facebookan tidak memiliki manfaat yang tidak lebih besar dari ngeblog? Toh hukumnya tidak sampai pada suatu kewajiban. Behhh! Apa perlu saya ungkapkan qaidah fiqihnya?

Kita memang pandai memberi label yang besar untuk sesuatu yang sebenarnya kecil. Ngeblog itu kecil, sebab hampir semua orang bisa melakukannya, termasuk anak kecil dan imut-imut macam saya. Tapi sesuatu yang kecil, tengau misalnya, bisa membuat tanganmu tidak keluar dari sarung sepanjang malam. Kecil, jika banyak, akan menjadi besar pula, seperti utang-utangmu pada teman dan tetangga. Dan karenanya tidak bisa kita meremehkannya (dhomir -nya kembali kepada blog, ok).
diskusi blog mbakyublogger

Ketika diminta sharing pengalaman seputar Ngeblog dalam acara #EduTalk dalam rangka Ultah @MbakYuBlogger saya pura-pura keget! Hah. Apa memang tidak ada pembicara yang lain? Dan karena beliau pengasuh MbakYuBlogger Wening Tias Suminar mengatakan tidak ada, ditambah lagi iming-iming akan diberi kaos, jadilah saya bilang “siaaaap!” Sayangnya saya tidak hanya diberi kaos EduTalk yang putih seperti susu, tetapi juga diberi cangkir raksasa, carica, dan diberi kesempatan foto bersama para Mbakyu Blogger yang imut-imut.

foto bareng mbakyublogger

 Lalu, seperti hendak berbicara di muka Seminar Nasional, saya membuat slide dengan master "Ngeblog atau Mati?” Pikir saya, pastilah hadirin akan merinding begitu membaca judulnya, ditambah melihat tubuh saya yang ringkih dan mendengar suara saya yang gemetar, mereka akan mengalami komplikasi aneh yang kemudian membawa mereka pada sebuah lorong gelap dan di sanalah mereka pelan-pelan akan saya tunjukkan seberkas cahaya. Subhanallah! Rasanya kalimat panjang itu tidak sengaja saya ketikkan.

Jadi begini…ekhem (dehem) Blog adalah bla…bla..bla… Masa’ saya mesti melihat file tesis saya (yang kebetulan juga mengupas soal blog) dan tempelkan di sini. Tidak ah! Adakalanya kita dapat dengan mudah memahami sesuatu setelah melihat contohnya, tidak penting benar suatu definisi tekstual kecuali ketika anda mengerjakan karangan ilmiah. Begitulah saya berkhotbah.

Klik spasi! Dan muncullah di layar sebuah pertanyaan: Apa manfaat ngeblog? Sebenarnya saya lupa mengatakan, kadang-kadang ngeblog bisa tidak bermanfaat sama sekali dan justru hanya membuat madzarat. Tapi ucapan seperti itu akan membuat semangat mereka yang ingin mengenal blog bisa jadi melempem.

Tahulah kita, bahwa sesuatu itu bisa memberi manfaat atau madharat bukan semata didasarkan pada kepentingan pribadi. Menurutmu mungkin blog esek-esek begitu najis dan bahaya (meski kadang-kadang kau sendiri mengintipnya), tapi bagi pemilik blog ia bisa membuatnya makan berhari-hari. Kadang pula manfaat bercampur dengan madharat, bagaikan alkohol dan rokok. Dan yang super adalah ketika tidak ada hal lain kecuali itu hanya berbagi sesuatu yang bermanfaat. Inilah yang anda harapkan! Soal postingan-postingan sebuah blog mengandung kontroversi, tentu saja itu tak bisa dihindari. So, kembali kepada hati di mana niat bersemayam dalam damai.

Sebagai tempat menampung kegelisahan, berekspresi, bersosial, menambah teman, berbagi ilmu, berbagi masalah, mendulang Dollar, hanyalah sebagian kecil saja dari apa yang didapat seseorang dari ngeblog. Bisa saja orang menjadi terkenal gara-gara blog, dan itu boleh. Menjadi terkenal adalah cita-cita yang tidak selalu miring, sebab dengan itu suara anda akan lebih banyak didengar, dan anda akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Wijaya Kusuma (Omjay), misalnya. Guru SMP Lab School Jakarta ini mengenalkan dirinya lewat blog dan media sosial. Akibatnya cukup gawat: Ia diundang ke sana-kemari, berkeliling Indonesia untuk berbagi ilmunya dan membawa pulang honor untuk sangu anak istri dan sisanya untuk beli Avansa. Tapi setiap orang punya jalannya sendiri, Omjay tidak harus anda jadikan patokan blogger sukses (untuk menyebut orang yang eksist karena blog)

Jangan pula tiru saya yang tidak pandai mencuri waktu untuk menulis di blog ini. Jadilah diri anda sendiri! Bebas! Di sinilah kenikmatan terbesarnya. Perasaan bebas. Sebebas-bebasnya. Termasuk ketika anda memutuskan memilih: Ngeblog atau mati? Orang Ngeblog akan mati. Tidak Ngeblog juga pasti mati. Tapi kalau orang ngeblog mati blognya bisa jadi akan tetap hidup. Jadi bebas saja. Hidup anda kok! Dan saya akan memberi tahu anda bagaimana contoh paling jelek dari wujud “kebebasan” itu dengan mengakhiri tulisan ini tanpa saya harus berjanji untuk melanjutkannya lain waktu. Blog-blog saya sendiri kok!

Yusuf 5/05/2015 0
TAGGED UNDER:

31

Angka macam apa itu? Usiaku!
Kau akan mengatakan betapa hidup berlari terbirit-birit
Kau akan mengatakan jika usia begitu singkat
Kau menanyakan apa saja yang sudah kau perbuat
Kau, iya kau! Aku

Sejauh ini saya merasa belum menjadi apa-apa, bahkan untuk sekadar menjadi manusia rasanya masih jauh. Tetapi saya menyadari bahwa hidup adalah proses.

Lalu kau bertanya, sampai kapan prosesmu itu akan menemu muara?

Tanyakanlah itu kepada semua orang dan tak seorang pun akan sanggung menjawabnya. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah ia telah sampai kepada sebuah kesempurnaan, puncak pencapaiannya sebagai manusia.

Saya merasa masih muda. Masih jauh dari apa yang mereka bilang dewasa. Tetapi Ia dapat mengambilku sewaktu-waktu, saya tahu. Dan saya sudah minta ampun, selalu. Semoga Allah menghapuskan dosa-dosa saya, memberikan cahaya, dan menuntun saya menemukan diri saya yang sebenarnya.

Pembaca...Minta Aminnya!

Yusuf 5/04/2015 0
TAGGED UNDER:

Saran dan Syarat Sertifikasi Guru Kemenag 2015

Sertifikasi Guru 2015 - Tidak hanya syarat, tetapi tulisan ini juga akan memuat saran. Inginnya tentu saja didengar, lalu direspon positif. Namun, jika pada kenyataannya saran ini tidak berarti apa-apa, "saya bisa apa sih?"

Membaca dan mencermati Juknis sertifikasi Guru Kementerian Agama Tahun 2015 membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan dan dibahas oleh orang-orang "di atas sana"? Saya menduga sebelum juknis itu ditetapkan ada rapat tapi saya kira rapatnya tidak lama-lama amat. Paling setengah jamlah. Memang ada beberapa perbedaan mengenai syarat mengikuti sertifikasi guru tahun ini dengan tahun lalu dan lalunya. Tetapi perbedaan itu tidak mendasar. Tidak lebih dari 3 phoin. Anda tidak percaya? Mari kita cermati syarat sertifikasi tahun ini dengan tahun-tahun yang telah lalu.

Sertifikasi Guru Kemenag 2015




Kriteria guru yang dapat mengikuti sertifikasi 2014.

  1. Berstatus sebagai Guru Tetap, dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) dari kementerian Agama atau Dinas Pendidikan bagi PNS. Bagi guru bukan PNS yang mengajar pada RA/Madrasah swasta, SK sebagai guru tetap diterbitkan oleh penyelenggara pendidikan/kepala satuan pendidikan, sementara guru bukan PNS yang mengajar pada madrasah negeri, SK dapat diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota atau Kepala Madrasah yang bersangkutan.
  2. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
  3. Aktif mengajar di RA/Madrasah, negeri maupun swasta, yang menjadi satuan administrasi pangkal (satminkal, atau tempat tugas induk/pokok) dan sekurang-kurangnya mempunyai beban kerja 6 (enam) jam tatap muka per pekan.
  4. Berusia maksimal 58 (lima puluh delapan) tahun pada tanggal 31 Desember 2014.
  5. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang memiliki izin penyelenggara.
  6. Guru RA/Madrasah yang belum sarjana (S-1) tidak bisa mengikuti sertifikasi tahun 2014, kecuali pada tahun 2013, telah berusia 50 (lima puluh) tahun per 1 januari 2013 dan mempunyai pengalaman kerja minimal 20 (dua puluh) tahun sebagai guru; atau mempunyai golongan IV/a.
  7. Jika mengajar tidak sesuai latar belakang keahlian yang dimiliki, harus memiliki pengalaman 5 tahun mengajar pada mata pelajaran yang diampu.
  8. Memiliki masa kerja sebagai guru (PNS aau bukan PNS) minimal 8 tahun per 31 Desember 2013 pada satuan pendidikan formal secara akumulatif, atau sudah menjadi guru RA/madrasah per 30 Desember 2005 sampai sekarang secara terus-menerus.
  9. Data calon peserta sertifikasi tahun/kuota 2014 diambil berdasarkan data hasil verifikasi dan validasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui program PADAMU NEGERI.
  10. Guru RA/Madrasah atau guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dapat diberi sertifikat pendidik secara langsung (PSPL) apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :
    • Memiliki kualifikasi akademik magister (S-2) atau doctor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran atau tugas kepengawasan yang diampunya dan mempunyai golongan sekurang-kurangnya IV/b, atau
    • Memiliki golongan serendah-rendahnya IV/c.
Dan berikut adalah Prosedur Sertifikasi Guru 2014:

  • Pola Sertifikasi Guru RA/Madrasah Tahun 2014 berdasarkan Petunjuk teknis sertifikasi guru Kemenag tahun 2014 akan dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2011, Guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti sertifikasi melalui salah satu dari pola berikut :
  1. Pemberian Sertifikasi Pendidik Secara langsung (PSPL)
  2. Portofolio (PF)
  3. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PKPG)
  4. Pendidikan Profesi Guru (PPG)
  • Pola Sertifikasi kecuali untuk PPG yang diatur oleh Kemenag secara terpisah
Dan berikut adalah syarat - kriteria mengikuti sertifikasi guru tahun 2015 untuk Kementerian Agama:
  1. Berstatus Guru Tetap. Status Guru Tetap ini dibuktikan dengan :
    • Surat Keputusan (SK) dari kementerian Agama atau Dinas Pendidikan bagi PNS
    • SK sebagai guru tetap diterbitkan Yayasan / Penyelenggara Pendidikan bagi Non PNS
  2. Memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) aktif
  3. Aktif mengajar di RA/Madrasah yang menjadi satminkal, atau tempat tugas induk dengan sekurang-kurangnya memiliki beban kerja 6 (enam) jam tatap muka per minggu
  4. Berusia maksimal 58 (lima puluh delapan) tahun pada tanggal 31 Desember 2015
  5. Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang memiliki izin penyelenggara
  6. Guru yang belum S-1 dapat mengikuti jika telah berusia 50 tahun (per 1 januari 2015) dan mempunyai pengalaman kerja minimal 20 tahun sebagai guru atau memiliki golongan IV/a.
  7. Guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang keahlian yang dimiliki, harus memiliki pengalaman 5 tahun mengajar pada mata pelajaran yang diampu.
  8. Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 10 tahun (per 31 Desember 2015) pada satuan pendidikan formal secara akumulatif. Atau telah menjadi guru RA/madrasah per 31 Desember 2005 secara terus-menerus hingga saat ini.
Penetapan calon peserta sertifikasi bagi guru RA/Madrasah dalam jabatan tahun 2015 tersebut diambil berdasarkan data hasil verval melalui program PADAMU NEGERI. Padamu Negeri adalah verval yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui situs www.padamu.siap.web.id.
Selain melalui jalur PLPG, Guru RA/Madrasah atau guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dapat diberi sertifikat pendidik secara langsung (PSPL). Syarat pemberian sertifikat pendidik melalui jalur PSPL antara lain :
  1. Memiliki kualifikasi akademik magister (S-2) atau doctor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran atau tugas kepengawasan yang diampunya dan mempunyai golongan sekurang-kurangnya IV/b, atau
  2. Memiliki golongan serendah-rendahnya IV/c
Menurut anda apanya yang beda?
1. Tahunnya. dulu 2014 sekarang 2015.
2. Minimal masa kerja. Dulu 8 tahun sekarang 10 tahun.

Apalagi? Silakan cari sendiri. Yang jelas, tidak ada perbaikan yang mencolok. Oh mungkin mereka menganggap bahwa aturan itu adalah yang terbaik. Mungkin orang-orang "di atas sana" menganggap bahwa imbas dari aturan yang mereka buat itu remeh temeh. Tidak, Sodara! Tidak. Sekecil apapaun aturan akan sangat mempengaruhi orang-orang di bawah sini. Jadi kalau rapat soal aturan-aturan macam ini tolong jangan cuma setengah jam.

Yang paling menyedihkan dari aturan ini adalah soal minimal masa kerja. Duh tambah tahun tambah mundur.  Jadi kapan guru-guru yang sudah mengabdi setelah 1 januari 2006 bisa ikut sertifikasi? Apa bedanya guru yang mengabdi 10 tahun dengan 9 tahun? Kenapa dulu ketika tahun 2011 punya masa kerja 6 tahun saja bisa sertifikasi dan sekarang punya masa kerja 9 tahun tidak bisa? Aneh sekali. Kalau kemudian patokan yang digunakan adalah UU guru dan Dosen yang disahkan Desember tahun 2005 alangkah sial nasib guru-guru yang bekerja setelah UU tersebut disahkan.

Kemudian yang patut juga ditanyakan adalah soal "Syarat pemberian sertifikat pendidik melalui jalur PSPL (sertifikat pendidik secara langsung). Tahukan anda bahwa aturan ini hampir-hampir tidak dipakai sama sekali alias sia-sia ada. Adakah guru yang punya golongan IVb atau bahkan IVc yang belum sertifikasi? Adakah? Kalau memang ada, tolong saya diberi tahu biar saya edit tulisan ini.

Saran saya aturan ini bisa ditinjau kembali. Kasihkan teman-teman. Itu saja.

Yang membutuhkan Juknis Sertifikasi Guru 2015 Silahkan unduh: JuknisSertifikasi Guru Madrasah 2015

Yusuf 4/09/2015 1

Kalau Saya Menjadi Kepsek

Pernahkah kau membayangkan menjadi angin? Pejamkan matamu dan bayangkanlah dirimu tiba-tiba menguap dari botol yang terbuka, lalu kau bergerak menampar-nampar jendela, sebelum kemudian menyelusup masuk melalui lubang ventilasi kamar pacarmu. Begitulah, kita bisa membayangkan menjadi apa saja dan kadang-kadang hal itu dapat membuat kita ngakak lebih keras, tersenyum lebih lebar, dan memiliki sensasi mendebarkan yang tidak bisa kau temukan di Dufan.

Akhir-akhir ini saya yang hanya guru ingusan iseng-iseng membayangkan menjadi kepala sekolah (Kepsek). Ini di luar dugaan. Membayangkan menjadi seekor jin pernah saya lakukan, hingga kemudian saya menulis novel yang tokoh utamanya adalah seekor jin. Membayangkan menjadi Tuhan, kadang terlintas juga, tetapi saya takut Tuhan tidak suka dengan keliaran imajinasi saya, dan karenanya segera saya stop. Tapi membayangkan menjadi Kepsek? Aduh! Sungguh keterlaluan. Bagaimana jika Kepsek saya membaca tulisan ini? Hem, bisa jadi saya diberi hadiah, atau malah diprenguti. Biarlah!

Jika saya menjadi Kepsek, dan tahu ada anak buah saya membuat tulisan semacam ini, maka saya akan merasa bangga, menyadari bahwa sebenenarnya saya punya anak buah yang tidak hanya lucu tapi juga pinter berkhayal. Tapi sebagai Kepsek, saya tidak benar-benar butuh orang macam itu. Yang saya butuhkan adalah orang yang loyal, manutan, dan setia mendukung gagasan dan ide saya yang brilian. Wow!

Kalau saya menemukan anak buah yang tidak loyal, saya tidak akan langsung memanggilnya, memarahinya, dan atau memberinya sanksi, meskipun hanya sebatas prengutan. Mula-mula saya akan mendekatinya, bicara baik-baik dengannya, jika ia perokok saya akan memberinya rokok. Lalu pelan-pelan saya tanyakan tentang kenapa berani-beraninya ia membelot dari kepemimpinan saya. Saya akan terbuka dengan kritikan, meski telinga saya pasti akan merah. Saya menyadari bahwa saya pernah menjadi anak buah, pernah menjadi guru biasa tanpa sampiran, dan melihat dengan jelas sesuatu yang tidak saya sukai (meski belum tentu itu salah) dari sikap dan kebijakan atasan saya.

Saya tahu, menjadi Kepsek tidaklah mudah. Jadinya saja sulit apalagi ketika sudah jadi. Tapi anggaplah saya benar-benar sudah menjadi kepala sekolah sekarang. Anggap saja, tidak sungguhan kok. Bermimpi atau bercita-cita pun tidak, sama sekali tidak pernah. Tapi saya bisa membayangkan betapa repot dan mendebarkan menjadi Kepsek. Tapi kan di balik kesulitan pasti ada keasyikan. Dan saya akan menjalani hari-hari memimpin sebuah sekolah yang besar, berusaha mati-matian untuk lebih membesarkan sekolah itu, juga membesarkan rekening pribadi, dan nama saya sendiri. Hahaha

Memang sih, ketika belum menjadi Kepsek saya ini orangnya idealis. Bersih. Karena tidak peluang untuk berkotor-kotor. Kalau melihat kecurangan sedikit saja saya muak. Tapi ketika sekarang menjadi Kepsek, saya mulai berhitung dengan banyak hal. Saya sudah benar-benar berubah, bukan guru lagi, tapi masih manusia, meski mungkin tinggal setengah. Kalau saya tetap idealis sebagaimana dulu ketika menjadi aktipis bagaimana mungkin saya dapat mengembalikan jutaan rupiah yang sudah saya berikan kepada orang-orang yang membantu saya menduduki jabatan paling keren di sekolah ini? Kepala sekolah lain juga begitu, bahkan di antara mereka ada yang sengaja membuat proyek-proyek yang sebenarnya tidak begitu penting. Lhah kok saya tahu? Dalam bayangan saya, kami sesama Kepsek sering curhat, dan secara terbuka ada yang mengatakan itu—tanpa malu.

Duhai asyiknya menjadi Kepsek! Saya selalu mendapat jatah yang paling besar dari setiap kegiatan. Ya wajarlah, kan dalam setiap kepanitiaan posisi saya sebagai Penanggung Jawab. Kalau ada kesalahan atau kekacauan dalam sebuah kegiatan saya akan menyalahkan ketua panitia. Saya akan bilang: "Bagaimana bisa begitu? Kalau tidak becus jadi ketua panitia ya bilang saja, biar diganti yang lain." Memarahi jangan diartikan negatif ya, karena itu bagian dari kerja saya sebagai Penanggung Jawab.

Saya tahu, tanggung jawab saya sebagai Kepsek dan semua kegitan di sekolah bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ketika memimpin rapat, di depan para guru, saya berkali-kali mengatakan hal itu. Bahwa dunia hanyalah sementara, kerja adalah ibadah, keikhlasan yang utama, bersyukur akan membuat bahagia, dan seterusnya yang terkesan mulia. Sesekali saya juga membaca puisi di depan para siswa. Saya kan Kepsek yang suka puisi gitu lhoh. Saya bangga dapat menceramai orang, meski saya kerap tidak ikhlas dalam bekerja, merasa kurang dengan gaji dan tunjangan, dan terus mengumpulkan pundi-pundi demi kesenangan pribadi dan keluarga. Kalau saya tidak mengajak mereka berbuat baik, bukan kepala sekolah namanya. Wibawa saya akan saya taruh di mana?

Ya, soal wibawa diri saya sebagai Kepsek memang harus saya junjung tinggi. Jika ketika masih menjadi guru saya sering berkumpul dengan sesama rekan guru, udud dan ngopi bersama, cekikikan, ngrumpi nggedebus gak jelas, ketika sudah menjadi Kepsek saya akan lebih banyak berdiam di ruangan saya. Aduh, enak sekali di ruangan itu. Saya buka laptop yang sudah tersambung dengan internet, saya mulai facebookan, ngeblog, menulis cerpen dan puisi tanpa dihantui bel ganji jam pelajaran. Lhah iya, saya cuma mengajar seminggu 6 jam kok. Kalau saya tidak mengajar pun tidak akan ada yang mencari saya. Waka Kurikulum tidak akan berani! Semua orang tahu kalau saya sibuk, punya urusan sendiri yang berbeda dengan para guru. Ah, tapi tidak! Saya akan tetap masuk kelas. Bagaimanapun, saya masih punya hati nurani dan tahu tanggung jawab. Tapi kalau sewaktu-waktu saya kosong, misal anak saya sakit, atau mobil saya bannya kempes, macet, bangun kesiangan, atau tiba-tiba saya ingin menghadiri temu sastra di luar kota, saya tidak bingung lagi. Tinggal SMS Waka Kurikulum, beres! Kalau anak buah tidak hadir karena berhalangan wajib membuat surat ijin yang ditujukan kepada saya, nah saya mau membuat surat ijin ditujukan kepada siapa? SMS saja cukuplah! Kepsek kok!

Sejak hari pertama saya menjadi Kepsek saya sudah merancang sekian agenda untuk mengangkat derajat sekolah ini; baik SDM-nya maupun sarana dan prasarananya. Saya tahu anak buah saya semuanya sudah Sarjana. Tetapi saya juga tahu bahwa kompetensi dan motivasi mereka sebagai guru harus ditingkatkan. Mereka butuh penyegaran keilmuwan, butuh lecutan motivasi dan saya kemudian akan mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan dan seminar keren di luar kota. Saya memilih mereka yang belum pernah mengikutinya, belum pernah mendapat surat tugas untuk ke luar kota. Saya tidak ingin anak buah saya menjadi seperti saya yang dulu, tidak pernah mendapat tugas mengikuti pelatihan atau kegiatan di luar sekolah karena yang disuruh adalah orang yang itu-itu saja, yang dekat dengan Kepsek tentunya.

Karena saya suka ngeblog, maka saya juga sudah merancang pelatihan pembuatan blog bagi para guru. Saya akan mengundang Omjay, Botak Sakti, Ibu Amiroh, Ibu Etna, dan teman-teman saya yang jago ngeblog untuk menyemangati anak buah saya berinovasi dan berkreasi dengan blog. Saya akan sangat malu jika punya anak buah yang gaptek dan karenanya saya mewajibkan semua guru punya laptop, email, blog dan bisa menggunakan itu semua dalam proses pembelajran.

Saya juga akan mengundang teman-teman saya untuk mengisi workshop penulisan karya ilmiah, juga workshop sastra dan jurnalistik untuk para siswa. Beliau Mas Joni Ariadinata mungkin akan saya undang, juga Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Ahmad Mukhlis Amrin, dan teman-teman saya di Kominitas Sastra Bimalukar. Saya akan berikan honor yang besar kepada mereka. Dan sebagai penanggung jawab kegiatan saya juga akan mendapat honor yang besar pula. Hehe

Impian saya yang lain adalah membangun perpustakaan yang hebat. Ketika menjadi guru tanpa sampiran Kepsek saya geram menyaksikan perpustakaan yang penuh sesak dengan buku teks pelajaran. Buku-buku yang usianya pendek. Padahal ada pos dana yang bisa digunakan untuk membeli buku bacaan. Kalau toh tidak ada, saya akan berjuang mati-matian untuk mengadakannya. Akan saya penuhi perpustakaan sekolah saya dengan buku-buku bagus, khususnya sastra, lebih khusus lagi novel-novel saya. Hahaha… Tentu saja saya agak rugi karena mengurangi belanja buku teks berarti mengurangi pendapatan saya dari rekanan penerbit. Tidak apa, saya sudah cukup gembira mendengar degub jantung sekolah yang saya pimpin itu sehat. Novel-novel saya juga akan banyak dibaca oleh siswa dan teman-teman guru, best seller jadinya. Hahaha

Ada satu lagi yang ingin saya perjuangkan, yakni nasib guru honorer. Sebagai Kepsek yang baik dan pernah menjadi guru honorer pula saya tidak mungkin menutup mata dengan nasib mereka. Disaat penyusunan Rencana Anggaran Pembelanjaan Sekolah saya sendiri yang akan mengusulkan kenaikan honor untuk mereka. Soal kenaikan tunjangan saya sebagai Kepsek nanti juga ada yang mengusulkan. Tidak hanya honor, saya juga akan memberi tambahan uang transpot dan dana kesehatan bagi guru honorer. Ketika pembagian bahan seragam, para guru honorer juga akan menerima ongkos untuk menjahit, agar mereka tidak seperti saya yang pernah menumpuk bahan pemberian sekolah karena berpikir 7 kali ketika akan menjahitkannya.

Demikianlah! Membayangkan menjadi Kepsek saya kira bukanlah kesia-siaan, bukan pula bermaksud memanjangkan angan. Justru dengan itu saya akan banyak menghayati kehidupan, merasakan dan seolah-olah mengalami lika-liku yang yang belum saya alami; empati. Dengan begitu, saya (semoga) tidak mudah menyalahkan orang lain, khususnya Kepsek. 

Yusuf 3/23/2015 2
TAGGED UNDER:

Menapak Jalan Menggapai Impian

menggapai cia-cita
Tulisan ini dimuat dalam Rubrik Laporan Utama Majalah Prestasi MTs N Wonosobo edisi 4 Desember 2014.

Tidak ada yang salah dengan impian atau cita-cita. Kita bebas untuk bisa bermimpi menjadi apa saja: Dokter, Polisi, novelis, atau menjadi ustadzah. Ketika masih anak-anak dulu, kita mungkin juga pernah punya impian menjadi Power Rangers, atau Gatot Kaca.

Benar, memang sering kali cita-cita seseorang berubah seiring dengan berjalanan waktu dan berubahnya situasi dan kondisi yang ia hadapi. Cita-cita kita waktu kecil bisa jadi berbeda dengan cita-cita kita saat duduk di bangku Madrasah. Kelak, ketika kita sudah Aliah atau kuliah, bisa saja impian kita akan berubah. Kenapa bisa begitu?

"Salah satu sebabnya adalah karena kita jarang atau bahkan belum pernah diajari untuk membangun sebuah impian dengan sungguh-sungguh," demikian Lasimin, selaku Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menuturkan. "Ketika kita ditanya, apa cita-citamu. Kita menjawab sesukanya, seolah itu pertanyaan yang tidak penting," lanjutnya.

Memiliki impian atau cita-cita merupakan sesuatu yang penting dimiliki oleh semua orang. Dan karenanya, BK MTs Negeri Wonosobo siap dan berusaha untuk mengarahkan para siswa untuk bercita-cita yang tepat. Dengan bercita-cita ia akan menjadi satu tumpuan atau fokus dalam mendapatkan sesuatu dalam kehidupan. Jika hidup diibaratkan sebagai perjalanan, maka impian dan cita-cita adalah tujuan dari perjalanan tersebut. Orang yang tidak memiliki cita-cita mirip seperti orang yang hidupnya tanpa tujuan, seperti kapal layar hilang layar.

Dengan memiliki cita-cita kita juga dapat lebih fokus pada apa yang kita tuju. Jika kita punya impian untuk menjadi seorang pemain sepak bola kelas dunia misalnya, maka kita dapat merancang langkah-langkah untuk menggapai impian itu.

Dalam sebuah buku Dreamstart Parents: Cara Smart Memandu Cita-cita karya Ir. Yudistira dinyatakan bahwa sebenarnya impian dan cita-cita dapat kita buat kapan saja. Yang penting adalah bahwa kita boleh membuatnya sesuai keinginan kita sendiri, tidak usah takut di larang oleh orang lain. Kita tidak perlu takut kalau cita-cita kita berbeda dengan harapan orang tua kita. Ada beberapa fakta yang membuktikan bahwa jika seorang anak melakukan apa yang dicita-citakan oleh orang tua mereka, atau jika hanya ikut-ikutan teman saja, sedangkan ia sendiri tidak menyuainya, akan terjadi hambatan dalam dirinya. Hambatan ini akan menyulitkan dalam mencapai cita-cita tersebut.

Salah seorang siswa Putri Rhobiyatul Adzewiyah, siswa 8H, mengaku jika cita-citanya adalah ingin menjadi Reporter VOA . Ketika ditanya, kenapa memilih ingin menjadi Reporter TV, Putri menjawab karena ia suka dengan tantangan. “Soal gajinya berapa saya tidak tahu, yang jelas saya suka Bahasa Inggris dan ketika melihat reporter TV saya merasa ingin menjadi seperti mereka,” tuturnya.

Beda lagi dengan Erma Sholikhatul Khosiyah yang ingin menjadi seorang seniman. Siswa 8F yang berumah di Sembungan, Kejajar, Wonosobo ini mengaku sudah menyukai dunia seni sejak kecil. Ia pun memantapkan langkah, dan sudah mulai membuat ancang-ancang untuk bisa menggapai citanya. “Saya ingin kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia_red). Semoga Tuhan mengabulkan,” akunya dengan nada yang mantap.

Sementara Atina Naili Fauziah (8E) dengan tegas mengatakan kalau dirinya ingin menjadi Guru. Siswa kelahiran 15 Februari 2001 ini punya motto hidup yang sederhana, tapi kuat: Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tak pernah melebihi batas kemampuan kamu. “Dengan menjadi guru, saya ingin berbagi, dan ikut mencerdaskan bangsa,” demikian Atina menerangkan ketika ditanya redaksi alasannya ingin menjadi Guru.

Masing-masing dari kita punya impian dan cita-cita yang berbeda. “Yang terpenting bukan cita-citanya, tetapi bagaimana upaya kita dalam meraih cita-cita tersebut,” jelas Bapak Yatiman, Kepala MTs Negeri Wonosobo. “Siswa MTs tidak boleh minder. Bercita-cita jadi Dokter, boleh. Jadi Pilot juga bagus. Tapi jangan kemudian apa yang sudah kita cita-citakan itu hanya menjadi angan-angan. Bersungguh-sungguhlah, pasti akan ada jalan.”

Apa yang disampaikan Kepala MTs N Wonosbo tersebut tidak berlebihan. Memang sudah banyak Alumnus MTs Negeri Wonosobo yang menjadi orang berhasil dalam menggapai impian. Tentu saja mereka meraihnya tidak seperti membalik telapak tangan. Harus ada ikhtiar yang diiringi dengan doa.


Man Jadda Wajada


Siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dan setiap orang mempunyai cara sendiri untuk menggapai impiannya. Setiap manusia diciptakan dengan keunikannya sendiri, dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Selain bakat dan kemampuan dasar yang berbeda, faktor bagaimana seseorang bergaul dengan lingkungan sekitar juga mempengaruhi tingkat keberhasilan masing-masing orang.

Dalam buku Man Jadda Wajada karya Akbar Zainuddin diterangkan bahwa banyak hal yang berpengaruh terhadap pencapaian kesuksesan ini. Yang paling utama adalah tentang cara pandang. Seseorang yang dibiasakan hidup dengan penuh optimis, ia akan terbiasa memandang semua persoalan dengan penuh optimis. Sebaliknya, jika ia dibiasakan memandang segala sesuatunya dengan pesimis, akan sulit mengubah cara pandang hidupnya terhadap berbagai persoalan dengan dengan optimisme. Ia akan terbiasa memandang pesimis terhadap berbagai persoalan yang ada.

Persoalan cara pandang ini menjadi penting karena di situlah kunci utama dan awal bagaimana seseorang membuka pintu-pintu keberhasilan yang akan ia masuki. Jika seseorang mampu membangun pola pikir yang optimis dan terbuka terhadap berbagai persoalan yang ada, maka akan lebih mudah baginya untuk berhasil di masyarakat.

Sebagai contoh, banyak orang di antara kita bercita-cita menjadi dokter, mungkin salah satunya karena bisa banyak bermanfaat bagi orang lain karena mengobati orang sakit. Tetapi dari sekian banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter, hanya sedikit orang yang kemudian berhasil mencapai cita-cita itu. Banyak sebabnya, ada yang kemudian hanya sekedar cita-cita, kekurangan dana untuk masuk kuliah kedokteran yang mahal, tidak lulus masuk Fakultas Kedokteran, dan berbagai sebab lain. Semua kesulitan dan rintangan yang ada di depan mata itulah yang kemudian menjadi penghalang seseorang mencapai cita-citanya. Padahal, belum tentu juga dengan segala rintangan yang dimiliki tersebut akan menghalanginya mencapai cita-cita, justru jika ia mampu mengatasinya, akan menjadi energi yang sangat kuat untuk terus menghidupkan cita-cita yang dimilikinya. (yusuf)

Yusuf 3/06/2015 0

Recent Articles

About Us

Apalah daya pena jika tidak ada tinta. Apalah daya pena yang sudah terisi tinta jika tidak ada tangan. Apalah daya tangan, jika tidak ada kekuatan dari Tuhan. Tapi tolong, jangan diartikan secara harfiah! Dan jika anda ingin menjadi kontributor www.tintaguru.com silakan kirimkan tulisan anda ke jusufan@gmail.com.
© 2014 Tinta Guru. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top