Komponen dan Format RPP K13 Revisi 2017

Format RPP Revisi 2017 – Saya membayangkan, aturan pembuatan RPP yang baku itu tidak ada. Dalam permendikbud, tidak ditegaskan secara rinci bagaimana RPP itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga semua RPP itu harus seragam. Permendikbud hanya memberikan garis-garis tentang komponen-komponen RPP, tetapi tidak memberikan keterangan yang lengkap. Kalau saya salah, tolong diluruskan. Dan silakan anda baca tentang aturan pembuatan RPP pada permendikbud terbaru.

Karena permendikbud itu, sebabagaimana dengan kitab peraturan dan undang-undang lain adalah niscaya untuk berbeda, maka lahirlah banyak perbedaan dalam pembuatan RPP. Jadi wajar. Kalau anda seorang pengawas, anda sudah sepatutnya tidak kaku dalam mengoreksi RPP para guru dibawah bimbingan anda. Bisa jadi RPP yang berbeda dibuat oleh tangan-tangan kreatif yang mengeluarkan keringat malam pukul 12.

Memang, beberapa orang sering keliling, apalagi pada masa ajaran baru seperti sekarang, dan lebih sering dari unsur pengawas sekolah untuk memberikan pelatihan atau workshop kepada guru-guru tentang pembuatan RPP. Sehingga RPP di sebuah sekolah mesti diseragamkan. Tapi sebenarnya yang terpenting bukanlah RPPnya, tetapi bagaimana aplikasi RPP tersebut. Maka, sebagus-bagusnya RPP, ia tidak bisa menilai seorang guru secara valid. Ia hanya menjadi acuan, yang kadang-kadang dilupakan begitu saja.

Komponen dan Format RPP K13 Revisi 2017


Daripada ngelantur, saya tunjukkan saja salah satu pemahaman tentang format RPP revisi 2017 berikut:  

Ada komponen-komponen yang mesti ada dalam RPP, meliputi identitas sekolah, mata pelajaran, kelas, alokasi waktu. Lalu bab-bab yang berisi kompetensi inti, Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Media Pembelajaran, dan Penilaian, serta lampiran-lampiran.

Secara rinci format RPP Revisi 2017 adalah sebagai berikut:

1.     Identitas Sekolah, mapel, dan alokasi waktu
Misal,
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah                                                 :  SMA N 1 PANGKALANKERINCI
Mata Pelajaran                                   :  BAHASA INDONESIA
Kelas/Semester                                :  X/2
Materi Pokok                                     :  Struktur dan Unsur Kebahasaan Teks Anekdot
Alokasi Waktu                                   :  120 menit (2 x pertemuan)


A.     Kompetensi Inti (KI)

        Kompetensi inti berisi 4 Kompetensi yang semuanya dimasukkan, jika itu
mata pelajaran agama dan PKN). Tetapi jika bukan mata pelajaran tersebut, cukup dituliskan 2 kompentensi inti, yakni KI 3 dan KI 4. Kalau dipikir-pikir apa maksudnya? Kenapa tidak dimasukkan semuanya?
format rpp k13 revisi 2017


B.      Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

 Khusus untuk mata pelajaran agama dan PKN dituliskan KD 1 dan KD2 beserta indikatornya. Sementara mata pelajaran lain Cuma KD 3 dan KD 4 beserta indikatornya. Contoh: 
format rpp revisi 2017


C.  Tujuan Pembelajaran
  Tujuan pembelajaran
dibuat dalam bentuk deskripsi. Aturan ini kaku benar, seperti skripsi. Kenapa tidak boleh misalnya, dibuat penomoran, kan lebih jelas. Tapi sudahlah. Contoh..
Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan pedagoge gendre, saintifik, CLIL dengan model pembelajaran discovery, peserta didik dapat mengidentifikasi struktur teks anekdot, menentukan abstraksi, orentasi, krisis, reaksi dan koda teks anekdot,menyusun teks anekdot dengan bahasa yang baik dan penuh tanggung jawab, displin selama proses pembelajaran dan bersikap jujur, percaya diri serta pantang menyerah.


D.Materi Pembelajaran
    
Materi Pembelajaran disajikan dari materi yang terdapat pada indikator pencapaian kompetensi.   Rincian materi setiap pertemuan dinyatakan dalam Lampiran.
  •          Teks anekdot
  •          Definisi teks anekdot
  •          Struktur teks anekdot
  •          Unsurkebahasaan teks anekdot
  •         Teknik menulis teks anekdot
  •          Langkah-langkah menulis teks anekdot



E.Pendekatan, Metode, dan Model Pembelajaran
       Model yang disarankan adalah model yang didalam langkah-langkah sesuai dengan proses berpikir saintifik. Model tersebut adalah discovery learning, inquri, problem base learning, dan project base learning.
Pendekatan        : Pedagogi Genre,  Saintifik, CILL
Model                      : Discovery
Metode                   : ceramah, diskusi, tanya jawab

F. Media Pembelajaran
 Contoh: 
Media/Alat : Lembar Kerja, Papan Tulis/White Board, LCD, alat Lab
G.  Sumber Pembelajaran
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
·        Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X  Tahun 2016
·       Buku teks bahasa Indonesia
H.   Kegiatan Pembelajaran
     pada kegiatan pembelajaran sebaiknya tergambar PPK, literasi, 4C, dan HOTS
. Ingat, sebaiknya, jadi sunnah saja hukumnya.
Contoh:

Indikator: …
(indikator yang dirujuk untuk pembelajaran pertemuan pertama) 

1.    Pertemuan Pertama: (2 JP)
a.      Kegiatan Pendahuluan
Contoh:

      (Contoh di atas PPK-nya adalah religius dengan cara berdoa sebelum melaksanakan pembelajaran)
b.      Kegiatan Inti 
     [Kegiatan inti pada pembelajaran ini merupakan langkah-langkah dari model discovery learning, karena diharapkan peserta didik menemukan konsep reaksi oksidasi dan reduksi secara mandiri dan/atau berkelompok. Model ini terdiri dari 6 langkah/sintak, yakni: 1)Stimulation(stimulasi/pemberian rangsangan), 2)Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), 3) Data collection (pengumpulan data), 4)Data processing (pengolahan data), 5)Verification (pembuktian), 6)Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)].

 
I. Penilaian
Di isi sebagaimana mestinya, Contoh:
Penilaian kurikulum 2013

A.      Penilaian
1.      Penilaian Sikap
a.       Teknik penilaian                           : Observasi : sikap religiius dan sikap sosial
b.       Bentuk penilaian                           : lembar pengamatan
c.        Instrumen penilaian     : jurnal (terlampir)

2.      Pengetahuan
Jenis/Teknik tes    :  tertulis dan lisan
a.  Tertulis
b. Penugasan
c. Instrumen Penilaian (terlampir)

2.     Keterampilan
Teknik/Bentuk Penilaian      :  Praktik/Performence
Instrumen Penilaian (terlampir)


Lampiran:
         1.         Materi Pembelajaran Pertemuan 1
                 (materi ini dapat berupa ringkasan materi atau hand out sehingga nanti kalau
                 dikumpulkan bisa menjadi modul)
         2.         Instrumen Penilaian Pertemuan 1
                 (instrumen penilaian ini terdiri dari kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
                 dilengkapi dengan bentuk/teknik penilaian dan instrumennya serta kisi-kisi dan pedoman
                  penskorannya)
         3.         Materi Pembelajaran Pertemuan 2
         4.         Instrumen Penilaian Pertemuan 2

dan seterusnya tergantung banyak pertemuan.

Sekali lagi, dan mungkin ini tidak terakhir kali saya mengingatkan. Bagi semua guru Indonesia, tidak perlu bingung dalam pembuatan RPP. Kalau kemudian pengawas anda tidak stuju dengan RPP yang anda buat karena menurutnya tidak sesuai, maka anda mungkin bisa memberikan argumen anda, bahwa anda misalnya sudah sesuai dengan permen, tetapi pemahaman anda berbeda dengan pengawas. Itu kalau anda berani. Adapun format revisi 2017 di atas, hanyalah contoh yang sekarang sedang cukup hot di kalangan guru. 

Untuk Contoh lengkap RPP revisi 2017 lengkap bisa anda download melalui tautan berikut:

RPP SMP Kelas 7 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMP Kelas 8 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMP Kelas 9 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMA Kelas 10 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMA Kelas 11 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)

download juga:

Bahan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK):
1. Penguatan Pendidikan Karakter
2. Konsep dan Pedoman PPK
3. Modul PPK bagi Komite Sekolah
4. Modul PPK bagi Kepala Sekolah
5. Modul PPK bagi Guru
6. Modul PPK bagi Pengawas
7. Panduan Penilaian PPK

Demikian ulasan singkat tentang Komponen dan Format RPP K13 Revisi 2017. semoga membantu.

Contoh Lengkap RPP Kurikulum 2013 Revisi 2017


RPP Revisi 2017 – Ganti menteri ganti kebijakan? Ganti menteri ganti aturan? Ganti menteri ganti kebijakan? Dikiranya mengganti ini dan itu di dunia pendidikan semudah membalikkan sendok makan. Perubahan memang suatu keniscayaan, tetapi sudah sepatutnya pemimpin memperhatikan banyak faktor, serta akibat dari kebijakannya.

Perubahan kurikulum sudah beberapa kali terjadi, dan sepertinya, yang paling tidak jelas adalah kurikulum 2013. Barangkali konsepnya bagus, tetapi konsep yang masih setengah matang itu kemudian direvisi dan direvisi sehingga membingungkan. Yang terjadi adalah multi tafsir dalam memandang aturan. Belum selesai kita berkutat pada kurikulum revisi 2013 yang baru, sudah muncul edisi revisi, lalu muncul lagi revisi tahun berikutnya, dan berikutnya. Sampai sekarang. Tidak hanya buku yang berubah, tetapi juga aturan-aturan tentang penilaian, dan pembuatan RPP.

Contoh Lengkap RPP Kurikulum 2013 Revisi 2017

RPP Kurikulum 2013 Revisi 2017

Tidak apa-apa. Toh pak menteri tidak merasakan bagaimana guru dirundung kebingungan. Tinggal rapat, lalu stempel. Aturan biar bawahan yang menjalankan.

Maka, mau bagaimana lagi, sebagai bawahan, ujung tombak pendidikan, guru mesti segera menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada. Syukur kalau pengawasnya masih mau menerima apa-apa yang sudah lama, atau bahkan pengawasnya tidak tahu perubahan macam mana lagi yang terjadi.

Tulisan ini hanya akan mengulas perubahan RPP K13 revisi 2017, yang sedang hot (istilah ini nanti juga mesti dimunculkan) dalam RPP. Baiklah, sebelum nanti akan diberikan contoh bagaimana pembatan RPP K13 revisi 2017, perlu disingung dulu tentang apa saja yang berubah.

Poin penting RPP Revisi 2017

rpp revisi 2017

RPP Revisi 2017 mesti memunculkan 4 hal berikut, yakni:

  • PPK, 
  • Literasi, 
  • 4C, dan 
  • HOTS 

Istilah-istilah itu saja banyak yang masih bingung kan? Tak apa. Mari kita kupas satu-satu.

PPK (Penguatan Pendidikan Karakter)

Dalam RPP Revisi 2017 guru mesti Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran, yang meliputi 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas atau 7 Karakter untuk mapel IPS dari 18 Karakter prioritas. Nanti kita lihat di contoh biar lebih enak ya. Tidak usah pusing dulu.

Literasi

RPP mesti mengintegrasikan literasi dan menginsert literasi baik sebelum, ketika dan sesudah pembelajaran dilaksanakan. Apa itu literasi? Bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Tetapi secara luas dan dalam konteks sekolah, literasi diartikan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

Literasi bisa dijabarkan menjadi Literasi Dasar (Basic Literacy), Literasi Media (Media Literacy), Literasi Perpustakaan (Library Literacy), Literasi Visual (Visual Literacy), Literasi Teknologi (Technology Literacy).

4 C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative);

empat ketarampilan tersebut dipentingkan ada untuk menghadapi tantangan era digital. Pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4 C adalah jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar 3. Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill)

RPP revisi 2017 juga mesti Mengintegrasikan HOTS atau kemampuan berpikir tingkat tinggi Level. Pertanyaan-pertanyaannya bukan lagi, sebutkan, apa, di mana, siapa, tetapi sudah jelaskan, hubungkan, simpulkan, bagaimana. Kira-kira begitulah. Mengajak siswa untuk berpikir yang lebih berat, yang dengan hanya nyontek sudah selesai. Tetapi HOTS mengajak siswa untuk berpikir aktif dan kreatif.

Bagaimana format RPP revisi 2017. Silakan lihat di sini (Format RPP Kurikulum 2013).

Okelah. Ketimbang harus menjelaskan banyak hal yang agak njlimet, kita bisa belajar langsung dari contoh RPP yang sudah dibuat yang mengacu pada RPP Kurikulum 2013 revisi 2017. Entah siapa yang memmbuat pertama kali RPP ini, tetapi saya percaya, bukan Pak Menteri.


RPP SMP Kelas 7 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMP Kelas 8 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMP Kelas 9 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMA Kelas 10 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)
RPP SMA Kelas 11 Kurikulum 2013 edisi revisi Semua mapel (Download)

1. Contoh RPP Kimia revisi 2017 
2. Contoh RPP PKn REvisi 2017
3. Contoh RPP Bahasa Indonesia revisi 2017
4. Contoh RPP Matematika Wajib revisi 2017
5. Contoh RPP Sejarah Indonesia revisi 2017

Demikian tulisan senam jari berkaitan dengan Contoh Lengkap RPP Kurikulum 2013 Revisi 2017. semoga bisa membantu atau mungkin menghibur.

Peran Ulama dalam Pembentukan Negara Indonesia

1936 di Banjarmasin; Para ulama ketika itu berkumpul, lalu menyatakan, kira-kira format kebernegaraan bagi nusantara ini seperti apa? Karena ketika itu kita belum menjadi negara yang merdeka. Maka, dalam forum atau pun majlis Mahtsul Masail, dilontarakanlah tiga gagasan bentuk negara. Yang pertama, diajukan apa yang disebut sebagai Darul Islah, negara agama. Yang kedua diajukan apa yang disebut sebagai Darul Harb, negara dalam keadaan darurat. Dan yang ketiga adalah konsep yang pada akhirnya dipilih oleh kita semua, yaitu konsep Darus Salam, negara keselamatan, negara perdamaian, yang pada hari ini kita sebut sebagai nation state atau pun negara bangsa dengan negara kesatuan repuplik indonesia.

Ketika itu, tidak sedikit, Bapak-Ibu dan saudara sekalian, yang mengusulkan bahwa Indonesia dijadikan sebagai negara agama, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar. Tetapi para ulama kita, yang arif dan bijaksana, menyatkan bahwa Indonesia adalah negara yang plural, Indonesia adalah negara yang dihidupi oleh berbagai macam agama, suku, etnis, ras, golongan. Maka kita yang besar harus melindungi yang kecil, karena ini adalah bagian dari dakwah, apa yang dikembangkan dan diajarkan Nabi Besar Muhammad SAW dalam piagam Madinah yang meletakkan hak-hak kewarganegaraan bagi siapapun, agama apapun, suku apapun, berdiri sama tegak dan duduk sama rendah.

Peran Ulama dalam Pembentukan Negara Indonesia


Maka untuk itu, Bapak Ibu dan saudara sekalian, jaga perjuangan dari para alim ulama kita di dalam meletakkan dasar-dasar pendirian negara Indonesia; ini luar biasa. Maka kalau ada hari ini kelompok yang menyatakan dan akan mengganti indeologi pancasila dengan ideologi yang lain,maka kami semuanya keluarga besar Nahdhatul Ulama akan berada di barisan terdepan, untuk mempertahankan Pancasila dan NKRI. Setuju?

Bapak-Ibu-Saudara sekalian. Semuanya tertutup dengan satu realitas negara yang luar biasa besar dan agung. Bahwa ternyata dengan Islam yang ramah bukan Islam yang marah; ternyata dengan Islam yang merangkul bukan Islam yang memukul; ternyata dengan Islam yang mengajak bukan Islam yang mengejek, Indonesia kini menjadi satu-satunya negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Ini adalah arya dan arsitek yang maha dahsyat dari para alim ulama kita.

Maka, Bapak-Ibu dan saudara sekalian. Kita melihat, hari-hari ini, terjadi pergolakan, terjadi suatu peristiwa yang tentu menyedihkan bagi kita semua. Hari-hari ini ekspresi kebebasan yang kebablasan terjadi di berbagai macam tempat. Di Kalbar baru-baru ini kita melihat, di Minahasa baru-baru ini kita melihat, di Aceh dan Papua terlebih dahulu kita sudah melihat. Di Jakarta, yang sebetulnya kita harapkan masyarakat Jakarta yang lebih edukatif, ternyata juga tidak bisa memberikan contoh yang baik bagi warga-warga di perkampungan. Apa itu? Ternyata perbedaan tidak lagi dijadikan sebagai khasanah yang positif. Tetapi sekarang ini, Bapak-Ibu saudara sekalian, budaya mencaci, budaya menghina, budaya menyebar kebencian melalui media sosial, budaya menghujat antara satu dengan yang lain ini sekarang sudah menjadi sebuah peristiwa yang marak dan kita temukan di berbagai macam tempat. Nah, maka kalau begitu, kita semuanya keluarga besar NU, mari kita kembali, ke.... apa yang disebut sebagai nilai luhur bangsa, yaitu kita saling hormat menghormati antara satu dengan yang lain, dan inti di dalam keberagamaan; Saya menyitir apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat an-Nisa ayat 114 yang menyebutkan bahwa:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Itu sebuah ayat yang sangat dahsyat sekali. Kira-kira terjemahan bebasnya adalah, tidak ada gunanya kita berbangsa-bernegara, berserikat, berkumpul, berormas, berpartai politik, berorganisasi, melakukan apapun, kalau tidak meletakkan prinsip-prinsip dalam tiga hal. Apa itu?

Yang pertama adalah, hendaknya kita membantu kaum yang lemah, kaum yang miskin, bi shadaqatin, dengan shadaqah kita. Yang kedua adalah dengan mengerjakan hal-hal yang baik, amar makruf nahi munkar. Dan yang ketiga ini adalah suatu peletakkan dasar yang paling dalam kehidupan kita, yang disebut sebagai melakukan upaya-upaya perbaikan bagi peningkatan harkat martabat manusia sebagai sebuah transformasi bagi peningkatan kualitas hidup manusia di masa-masa yang akan datang...

(Ditranskrip oleh Jusuf AN dari Orasi Sekjen PBNU, Dr.Helmy Faishal Zaini dalam Apel Kebangsaan Kebangkitan Nasional Keluarga Besar NU Kab. Wonosobo, 21 Mei 2017 di alun-alun Wonosobo).

Madzhab Akidah, Fiqih, dan Tasawuf NU

sikap keagamaan NU

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw., telah melalui perjalanan yang panjang. Pasca wafatnya Rasulullah Saw., bermunculan firqah-firqah (golongan-golongan) dalam umat Islam, yang satu dan lainnya sulit didamaikan, apalagi dipersatukan.[1] Nahdhatul Ulama (NU) yang berpaham Ahlussunah wal Jama’ah memiliki tanggung jawab besar dalam rangka melindungi umat Islam tetap berada dalam tuntunan ajaran Islam yang lurus. Oleh sebab itu, NU telah memberikan garis-garis yang jelas tentang sikap keagamaannya, baik dalam masalah akidah, syariah, tasawuf, maupun siyasah.
NU mendasarkan paham keagamaannya pada Al-Qur’an, hadist, ijma’ dan qiyas. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadist sendiri tentu berbeda-beda antara satu paham dan lainnya. Jadi, meskipun paham-paham dalam Islam mendasarkan sikap keagamaan terhadap Al-Qur’an dan Hadist, namun pemahaman dan tafsir atas dasar tersebut berbeda.
Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumbernya, NU mengikuti Ahlussunnah wal Jamaah dengan menggunakan jalan pendekatan madzhab:
1. Dalam bidang akidah, NU mengikuti paham Ahlussunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi
2. Dalam bidang fiqih, NU mengikuti jalan pendekatan (madzhab salah satu dari madzhab Imam Abu Hanifah an-Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
3. Dalam bidang tasawuf mengikuti, antara lain Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali, serta imam-imam lainnya,[2] seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
4. Dalam Siyasah mengikuti Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad al-Mawardi
Di bawah ini dijelaskan lebih rinci tentang sikap keagamaan NU, baik dalam hal akidah, syariah, tasawuf, dan siyasah. Penjelasan tentang hal tersebut tidak mungkin menghindarkan dari biografi tokoh pendiri madzhab yang diikuti oleh NU.

A. Akidah
Permasalahan-permasalahan keagamaan sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., masih hidup. Namun, waktu itu, setiap kali persoalan muncul, para sahabat dapat segera memecahkannya dengan jalan Rasulullah Muhammad Saw. Apabila ada ayat-ayat yang kurang bisa dipahami, Sahabat akan menanyakannya langsung kepada Rasul, dan segera mendapatkan jawabannya. Apabila terjadi perbedaan pendapat, Rasulullah Saw. akan menengahi dan selesailah masalah.
Namun begitu, setelah wafatnya Baginda Rasulullah Muhammad Saw., seiring dengan berjalannya waktu, berbagai permasalahan keagamaan terus bermunculan. Al-Qur’an dan Hadist yang menjadi pondasi utama umat Islam dalam berakidah dan beribadah ditafsirkan secara berbeda-beda, sehingga niscaya menimbulkan pemahaman yang berbeda.
Sesungguhnya persengketaan akidah pada mulanya diakibatkan oleh pertentangan masalah imamah. Dari persoalan tersebut, kemudian merambah ke wilayah agama, terutama seputar hukum seorang muslim yang berdosa besar dan bagaimana statusnya ketika ia meninggal; mukmin ataukah sudah kafir.[3] Dari situ, pembicaraan tentang akidah kemudian meluas ke persoalan-persoalan Tuhan dan manusia baik menyangkut perbuatan dan kekuasaan Tuhan, juga sifat keadilan Tuhan, sampai pada persoalan apakah Al-Qur'an termasuk makhluk atau bukan.
Sampai kemudian lahirlah paham-paham akidah, seperti Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah, Asy'ariyah dan Maturidiyah. Dua kelompok terakhir itulah yang mengambil sikap moderat yang kemudian dikenal dengan pahamnya Ahlusunnah wal Jamaah.
Disebut Asy‘ariyah karena madzhab tersebut didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, dan Maturidiyah karena pendirinya adalah Imam Abu Manshur al-Maturidi.

1. Abu Al-Hasan Al-Asy’ari
Ahlusunnah wa Jama’ah sering juga disebut dengan ahlussunnah, atau sunni, atau kadang-adang disebut 'Asy'ari atau Asy'ariyah, dikaitkan kepada guru besar yang bertama, Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari. Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Isma'il, bin Abdillah, bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah, bin Abi Musa al-Asy'ari.[4]
Abu Hasan 'Ali, lahir di Bashrah (Irak) tahun 260 H, 55 tahun sesudah meningalnya Imam Syafi'i. Pada mulanya, Abu Hasan merupakan murid dari ayah tirinya sendiri, bernama Syeikh Abu 'Ali Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jabai yang merupakan ulama besar Mu'tazilah. Pada waktu Abu Hasan berusia remaja, Mu'tazilah memang menjadi paham penguasa, dan ulama-ulama Mu'tazilah banyak sekali bisa dijumpai, baik di Bashrah, Kuffah, maupun Baghdad.
Imam Abu Hasan al-Asy'ari kemudian mendapatkan hidayah bahwa dalam paham Mu'tazilah terdapat banyak kesalahan besar yang bertentangan dengan i'tiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad Saw., dan sahabat-sahabat beliau, selain juga banyak yang bertentangan dengan al-Qur'an dan Hadis. Maka, beliau kemudian memutuskan keluar dan tampil sebagai penentang untuk melawan pendapat-pendapat kaum Mu'tazilah.[5]
Abu Hasan Al-Asy’ari banyak berjuang menegakkan akidah Ahlusunnah wal Jamaah dengan menggunakan tulisan maupun lisan, menandingi kaum Mu’tazilah. Beliau telah merumuskan dan menulis kitab-kitab akidah sehingga namanya terkenal sebagai seorang ulama Tauhid. Di antara kitab-kitab terkenal karangan beliau adalah, Ibanah fi Ushuluddiyanah yang tediri dari 3 jilid besar, Maqallatul Islamiyiin, Al Mujaz, dan masih banyak lagi.
Akidah Asy'ariyah merupakan jalan tengah (tawasuth) di antara kelompok-kelompok keagamaan yang berkembang pada masa masa itu (abad 3 H).[6] Kita paham, paling tidak ada dua kelompok yang saling bertolak belakang, yakni Jabariyah dan Qadariyah yang keduanya dikembangkan oleh Mu'tazilah.
Sikap tawasuth ditunjukkan oleh Asy'ariyah dengan konsep al-kasb (upaya). Menurut Asy'ari, perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbuatannya. Kasb memiliki makna kebersamaan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan. Kasb juga memiliki makna keaktifan dan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya.
Berbeda dengan Jabbariyah yang menganggap bahwa manusia tidak memiliki daya dan upaya sama sekali, konsep Kasb Asy'ariyah menempatkan manusia sebagai manusia yang selalu berusaha secara kreatif dalam kehidupannya, namun tidak melupakan bahwa Tuhanlah yang menentukan semuanya.[7]
Paham akidah seseorang tentu saja sangat memengaruhi pola kehidupannya sehari-hari, bukan saja pada masalah kepercayaan (keimanan), tetapi menyangkut urusan ekonomi, budaya dan persoalan-persoalan lainnya.
Konsep akidah Asy’ari banyak diterima bukan hanya disebabkan lebih mudah dicerna akal sehat, tetapi karena ia mendasarkan konsep akidahnya dengan mengutamakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist di atas akal dan pikiran. Asya’ari tidak menolak peran akal, sebab memahami al-Qur’an dan Hadist tanpa akal adalah mustahil. Tetapi kemampuan akal terbatas, dan penggunaan akal dalam menerjemahkan wahyu tidak bisa semena-mena. Adakalanya hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah akidah (seperti Kehendak Allah, Keadilan Allah, dll) tidak bisa dijangkau oleh akal. Pada saat yang demikian itulah akal mesti tunduk kepada wahyu.
Pada perkembangannya, Paham Asy’ariyah terus menyebar dan meluas. Kian lama kian banyak bermunculan ulama-ulama yang mengikuti, memperkuat, dan mengembangkan paham Asy’ariyah. Salah satunya adalah Imam Abu Mansur Al-Maturidi.

2. Abu Manshur Al-Maturidzi
Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Mahmud. Beliau lahir di Samarqand, tepatnya di sebuah desa bernama Maturid.[8]
Paham akidah Maturidiyah dan Asy'ariyah memiliki keselarasan. Makanya, kedua imam besar inilah yang kemudian dianggap sebagai pembangun Madzhab Ahlusuunnah wal Jama’ah. Kalau ada yang berbeda antara keduanya, itu hanya pada madzhab fiqh yang mereka ikuti. Asy'ariyah menggunakan madzhab Imam Syafi'i dan Imam Malik, sementara Maturidiyah menggunakan madzhab Imam Hanafi.
Di antara pemikiran Abu Manshur Al-Maturidi dalam masalah akidah adalah upaya mendamaikan antara dalil aqli dan naqli (akal dan wahyu). Paham Maturidiyah berpendapat bahwa, apabila kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash (naql) maka itu merupakan suatu kesalahan, sama juga salah apabila kita larut tidak terkendali dalam menggunakan rasio ('aql).[9]
Jadi, antara 'aql dan naql memiliki peranan yang sama pentingnya. Menafikan peran akal dalam memahami dalil naql merupakan suatu kemustahilan.
Sekilas, pandangan tersebut sama dengan konsep 'Asy'ariyah, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan, yakni pada posisi akal terhadap wahyu. Dalam buku Aswaja An-Nahdhiyyah[10] dijelaskan bahwa menurut Maturidiyah, wahyu harus diterima penuh. Tapi jika terjadi perbedaan antara wahyu dan akal maka akal harus berperan menatakwilkannya. Terhadap dalam ayat-ayat tajsim (Allah bertubuh) atau tasybih (Allah serupa makhluk), misalnya, harus ditafsirkan dengan arti majazi (kiasan). Contoh seperti lafal “Yadullah” yang arti aslinya "Tangan Allah" ditakwil menjadi "kekuasaan Allah".
Lagi, tentang sifat Allah. Maturidiyah dan Asy'ariyah sama-sama menerimanya. Namun, sifat-sifat itu buka sesuatu yang berada di luar zat-Nya. Sifat tidak sama dengan zat, namun tidak dari selain Allah. Misalnya, Tuhan Maha Mengetahui bukanlah dengan Zat-Nya, tetapi dengan pengetahuan ('ilmu)-Nya (ya'lamu bi 'ilmihi).
Dalam persoalan kekuasaan dan kehendak (Qudrah dan Iradah) Tuhan, Maturidiyah berpendapat bahwa kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dibatasi oleh Tuhan sendiri. Jadi kehendak Tuhan tidak mutlak. Meskipun demikian Tuhan tidak dapat dipaksa atau terpaksa dalam berbuat, melainkan sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.
Misalnya, Allah menjanjikan orang baik akan masuk surga, dan sebaliknya orang jahat masuk neraka, maka Allah akan menepati janji-janji tersebut. Namun, manusia diberikan kebebasan oleh Allah dalam menggunakan daya untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.
Dengan demikian, menurut paham Maturidiyah, perbuatan itu tetap diciptakan oleh Tuhan. Sehingga perbuatan manusia sebagai perbuatan bersama antara manusia dan Tuhan. Allah yang mencipta, sementara manusia meng-kasab-nya.


sikap NU

B. Syariah/Fiqih
Sumber hukum Islam (Fiqh) yang utama adalah Al-Qur’an dan hadist. Sementara kita tahu bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak bertambah dan tidak berkurang. Sedangkan permasalahan-permasalahan baru terus muncul seiring perkembangan zaman. Maka, dibutuhkan upaya penggalian hukum, atau yang lebih sering disebut dengan istilah ijtihad.
Ijtihad sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., ketika Sahabat menjumpai suatu persoalan yang harus segera diputuskan sementara mereka tidak sedang bersama Rasulullah. Pada masa Khulafarurrashidin, khalifah kerap mengumpulkan para Sahabat untuk membahas suatu masalah dan menentukan hukumnya, lalu lahirlah ijma’ atau kesepakatan.
Di antara tokoh yang mampu berijtihad sejak generasi sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in, terdapat banyak tokoh yang ijtihadnya kuat (disebut mujtahid mustaqil). Bukan hanya mampu berijtihad sendiri tetapi juga mampu menciptakan pola pemahaman (manhaj) tersendiri terhadap sumber pokok hukum Islam, yakni al-Qur'an dan Hadis. Hal tersebut dibuktikan dengan metode ijtihad yang mereka rumuskan sendiri, menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqh, qawa'idul ahkam, qawa'idul fiqhiyyah dan sebagainya. Proses dan prosedur ijtihad yang mereka hasilkan dilakukan sendiri tersbut mendandakan bahwa secara keilmuan dan pemahaman keagamaan serta ilmu penunjang dalam berijtihad lainnya telah mereka miliki dan kuasai.[11]
Perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam masalah fiqih memang tidak bisa dicegah, tetapi bukan berarti setiap orang bebas untuk berijtihad (menjadi mujtahid). Bagi orang awam, mengikuti para imam madzhab adalah wajib, demikian pendapat ulama Nahdhiyyin.
Madzhab sendiri berarti jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan dalam masalah keagamaan. Pada hakikatnya, semua orang pasti bermadzhab. Kalau tidak bermadzhab pada madzhab-madzhab lama, mereka bermadzhab kepada madzhab yang baru. Taqlid (mengikuti) pada imam madzhab bukanlah suatu kemunduran, tetapi justru sebagai sarana melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam. Dengan bermadzhab, pewarisan dan pengamalan ajaran Islam menjadi terpelihara, ajaran Islam terjamin kemurniannya.
Para imam madzhab adalah orang-orang yang sudah terkenal kealimannya dan sangat menguasai ilmu-ilmu al-Qur'an dan hadist. Jadi, apabila dikatakan bahwa bermadzhab bukanlah jalan yang diajarkan oleh Rasulullah, sesungguhnya hal tersebut tidak berdasar. Sebab para Imam madzhab adalah orang-orang yang ketaatannya pada al-Qur'an dan sunnah sudah teruji. Bermadzhab berarti mengikuti apa yang sudah menjadi pegangan imam madzhab.
Dalam ranah fiqh, NU bermadzhab kepada madzhab empat yang masyhur, yakni, Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Pertanyaan yang krap muncul adalah, kenapa NU hanya memilih empat madzhab untuk dijadikan pijakan dalam berfiqh?
Dalam buku Aswaja an-Nahdliyah, sebagaimana dikutip K.H Busyairi Harist,[12] adalah karena: Pertama, kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah masyhur. Jika disebut nama mereka hampir dipastikan mayoritas umat Islam di dunia mengenal dan tidak perlu lagi menjelaskan secara detail tentang keilmuan mereka. Kedua, keempat Imam madzhab tersebut merupakan Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil, yaitu imam mujtahid yang mampu secara mendiri menciptakan manhaj al-fiqr (metode berpikir), pola, proses dan prosedur istimbath dengan seluruh perangkat yang dibutuhkan. Ketiga, Imam madzhab itu mempunyai murid-murid yang secara konsisten mengajar dan mengembangkan madzhabnya yang didukung oleh buku induk yang masih terjalin keasliannya hingga saat ini. Keempat, jika ditelusuri ternyata para Imam madzhab tersebut mempunyai mata rantai dan jaringan intelektual di antara mereka.

1. Abu Hanifah An-Nu’man Ibn Tsabit
Nama lengkapnya adalah Imam Nu’man bin Tsabit. Beliau sering disebut Imam Abu Hanifah, sementara madzhabnya dikenal dengan Madzhab Hanafi. Imam Abu Hanifah adalah golongan Tabiin yang lahir pada tahun 80 H dan wafat tahun 150 H.
Abu Hanifah mendapat gelar Al-Imam al-A'ham (Imam Agung), dan menjadi tokoh panutan di Iraq. Beliau juga dikenal sebagai penganut aliran ahlu ra'yi dan bahkan menjadi menjadi tokoh sentralnya. Di katakan Ahl ra’yi bukan berarti Abu Hanifah hanya mengandalkan akalnya. Tetapi dalam memandang Nash, beliau lebih memandang apa yang ada di balik nash (al-Qur’an dan Hadis), bukan secara tekstual. Di antara manhaj istinbath-nya yang terkenal adalah konsep al-Ihtihsan.
Meskipun Abu Hanifah sangat terkenal sebagai Imam madzhab fiqh tetapi tidak ada satu kitab pun yang beliau tulis sampai kepada kita. Fiqh Abu Hanifah yang menjadi rujukan utama madzhab Hanafi ditulis oleh dua orang murid utamanya: Imam Abu Yusuf Ibrahi dan Imam Muhammad bin Hasan As-Syaibani.

2. Maliki Ibn Annas
Malik bin Annas dilahirkan tahun 93 H dan wafat tahun 179 H di Madinah. Kelak, ia dikenal sebagai Imam Malik, pendiri madzhab Maliki.
Imam Malik adalah seorang ahli hadist yang masyhur dengan kitab monumentalnya berjudul ‘Al-Muwatha' di nilai sebagai kita hadits hukum yang paling shahih. Bahkan, Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah bermaksud menggantung kitab al-Muwatha' di Ka'bah dan menyuruh seluruh umat Islam untuk mengikuti isinya. Tapi, Imam Malik menjawab: ”Jangan engkau lakukan itu, karena para shahabat Rasulullah SAW saja berselisih pendapat dalam masalah furu’(cabang), apalagi (kini) mereka telah berpencar ke berbagai negeri.” Imam Malik menyadari bahwa dalam masalah fiqh perbedaan adalah suatu keniscayaan.
Imam Malik memiliki metode tersendiri dalam meng-istimbath-kan hukum, dan metodenya tersebut masih berpengaruh sampai sekarang. Di antara langkah penting yang ditawarkan oleh Madzhab Maliki dalam berijtihad adalah pengunaan al-maslahah al-mursalah. Teori al-Maslahah al-Mursalah diilhami oleh satu paham bahwa syari’ah Islam bertujuan mendatangkan manfaat, kesejahteraan dan kedamaian bagi kepentingan masyarakat dan mencegah kemudharatan.
Selain itu, Imam Malik juga melahirkan manhaj istimbathAmal al-Ahl al-Madinah” yaitu perilaku sehari-hari penduduk Madinah. Imam Malik menempatkan penduduk Madinah sebagai orang yang paling tahu terhadap sunnah Rasul, termasuk nasakh dan mansukhnya. Apabila penduduk Madinah itu sepakat tentang sesuatu perilaku, maka kesepakatan ini lebih tinggi nilainya dibanding qiyas dan khabar ahad (kendati sahih sanad).

3. Muhammad Ibn Idris asy-Syafi’i
Pendiri Madzhab Syafi'i ini memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Imam Syafi'i dilahirkan di Ghozza tahun 150 H dan wafat tahun 204 H di Mesir. Beliau adalah juga murid dari Imam Malik di Madinah dan Imam Muhammad bin Hasan di Baghdad yang merupakan murid senior dari Imam Abu Hanifah. Pada masa wafatnya Imam malik (179 H), Imam Syafi’i telah dipercaya sebagai seorang fuqaha yang masyhur di Hijaz dan jazirah arab lainnya.
Karya monumental dari Imam Syafi'i berjudul Ar-Risalah, sebuah kitab ushul fiqh yang pertama sampai kepada kita. Kitab itu pula yang membuat beliau dikenal sebagai Bapak Ushul Fiqh.
Sementara itu fatwa-fatwa fiqh Imam Syafi'i dikelompokkan menjadi dua macam, yang kemudian dikenal sebagai al-Qoul Qodim dan al-Qoul Jadid. Al-Qoul Qodim (pendapat lama) merangkum pendapat-pendapat Imam Syafi'i sewaktu beliau berada di Baghdad, sementara al-Qoul Jadid (pendapat baru) merangkum pendapat-pendapat beliau setelah berada di Mesir. Semua pendapat-pendapat tersebut, terangkum dalam kitab al-Umm.

4. Ahmad Ibn Hanbal
Nama lengkapnya Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, sering disebut dengan Imam Hambali. Beliau dilahirkan di Baghdad, pada tanggal 20 Rabiul Awwal tahun 164 H. Ketika masih bayi, Imam Ibn Hambal dibawa ke Baghdad tempat ayahnya meninggal dalam usianya yang sangat dini, 30 tahun. Imam Ibn Hambal merupakan murid Imam Syafi'i selama di Baghdad. Sampai Imam Syafi'i wafat beliau masih selalu mendoakannya. Imam Ahman bin Hambal mewariskan sebuah kitab hadits yang terkait dengan hukum Islam berjudul Musnad Ahmad.

nu dan agama

C. Bertasawuf

Dalam bidang tasawuf Aswaja memiliki prinsip untuk dijadikan pedoman bagi kaumnya. Sebagaimana dalam masalah akidah dan fiqih, dimana Aswaja mengambil posisi yang moderat, tasawuf Aswaja juga demikian adanya.
Manusia diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah, tetapi bukan berarti meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Akhirat memang wajib diutamakan ketimbang kepentingan dunia, namun kehidupan dunia juga tidak boleh disepelekan. Dalam emenuhi urusan dunia dan akhirat mesti seimbang dan proporsional.
Dasar utama tasawuf Aswaja tidak lain adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku telah mencapai derajat Makrifat namun meninggalkan al-Qur’an dan sunnah, maka ia bukan termasuk golongan Aswaja. Meski Aswaja mengakui tingkatan-tingkatan kehidupan rohani para sufi, tetapi Aswaja menentang jalan rohani yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Imam Malik pernah mengatakan, “Orang yang bertasawuf tanpa mempelajari fikih telah merusak imannya, sedangkan orang yang memahami fikih tanpa menjalankan tasawuf telah merusak dirinya sendiri. Hanya orang yang memadukan keduanyalah yang akan menemukan kebenaran.”[13]
Sudah sepantasnya, para sufi harus selalu memahami dan menghayati pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui oleh Nabi Muhammad selama kehidupannya. Demikian juga pengalaman-pengalaman para sahabat yang kemudian diteruskan oleh tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai pada para ulama sufi hingga sekarang. Memahami sejarah kehidupan (suluk) Nabi Muhammad hingga para ulama waliyullah itu, dapat dilihat dari kehidupan pribadi dan sosial mereka. Kehidupan individu artinya, ke-zuhud-an (kesederhanaan duniawi), wara’ (menjauhkan diri dari perbuatan tercela) dan dzikir yang dilakukan mereka.[14]  Kehidupan sosial, yakni bagaimana mereka bergaul dan berhubungan dengan sesama manusia. Sebab tasawuf tercermin dalam akhlak; bukan semata hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia lainnya. 
Jalan sufi yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para pewarisnya adalah jalan yang tetap memegang teguh perintah-perintah syari’at. Karena itu, kaum Aswaja An-Nahdliyah tidak dapat menerima jalan sufi yang melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban syari’at, seperti praktik tasawuf al-Hallaj (al-hulul) dengan pernyataannya “ana al-haqq” atau tasawuf Ibnu ‘Arabi (ittihad; manunggaling kawula gusti).[15]
Kaum Aswaja An-Nahdliyah hanya menerima ajaran-ajaran tasawuf yang moderat, yakni tasawuf yang tidak meninggalkan syari’at dan aqidah sebagaimana sudah dicontohkan al-Ghazali, Junaid al-Baghdadi, juga Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

1. Abdl Qadir al-Jailani
Beliau lahir pada 470 H. (1077-1078) di al-Jil (disebut juga Jailan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran. Ibunya, Ummul Khair Fatimah bint al-Syekh Abdullah Sumi merupakan keturunan Rasulullah Saw., melalui cucu terkasihnya Husain. Suatu ketika Ibunya berkata, "Anakku, Abdul Qadir, lahir di bulan Ramadhan pada siang hari bulan Ramadhan, bayiku itu tak pernah mau diberi makan."[16]
Ketika berusia 18 tahun, beliau pergi meninggalkan kota kelahirannya menuju Baghdad. "Kudatangi ibuku dan memohon kepadanya, 'izinkan aku menempuh jalan kebenaran, biarkan aku pergi mencari ilmu bersama para bijak dan orang-orang yang dekat kepada Allah.'"[17] Pada waktu itu, Baghdad dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama, antara lain Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Beliau menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.
Selanjutnya, pada tahun 521 H/1127 M, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajar dan menyampaikan fatwa-fatwa agama kepada masyarakat. Tidak butuh waktu lama beliau segera dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun, beliau menghabiskan waktunya sebagai pengembara di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi yang masyhur.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dikenal sebagai pendiri Tarekat Qodiriyah, sebuah istilah yang tidak lain berasal dari namanya. Tarekat ini terus berkembang dan banyak diminati oleh kaum muslimin. Meski Irak dan Syiria disebut sebagai pusat dari pergerakan Tarekat tersebut, namun pengikutnya berasal dari belahan negara muslim lainnya, seperti Yaman, Turki, Mesir, India, hingga sebagian Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.

2. Abu al-Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadi
Nama lengkap beliau adalah Abu al-Qosim al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid al-Khazzaz al-Qowariri al-Nahawandi al-Baghdadi. Beliau dilahirkan di kota Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Ayahnya seorang pedagang barang pecah belah, sementar Ibunya merupakan saudara kandung Sari bin al-Mughallis al-Saqathi (w.235 H/867M), seorang tokoh sufi terkemuka yang kelak menjadi gurunya.
Al-Junaid dikenal cerdas, dan pada usia dua puluh tahun bela telah mampu mengeluarkan fatwa. Semua kalangan menerima madzhab yang dibangunnya, dan beliau disepakati sebagai penyandang gelar “Syekh al-Thaiifah al-Shufiyyah wa Sayyiduha” (Tuan Guru dan Pemimpin kaum sufi).
Abdul Wahhab al-Sya’rani, sebagaimana dikutip Dr. K.H Saefuddin Chalim,[18] mengungkapkan paling tidak ada empat faktor yang mengantarkan al-Junaid menjadi satu-satunya figur yang berhak menyandang gelar tersebut sehingga diakui sebagai acuan dan standar dalam tasawuf Ahlussnah wal Jama’ah.
Pertama, konsistensi terhadap al-Kitab dan Sunnah. Penguasaan al-Junaid terhadap al-Qur’an dan Sunnah membawa pengaruh positif terhadapnya dalam membangun madzhabnya di atas fondasi Islam yang kuat dan shahih. Beribadah tanpa adanya pengetahuan yang memadai dianggap bisa membawa seseorang ke dalam kesesatan. Oleh karenanya, al-Junaid begitu mengedepankan ilmu agama sebagai pegangan kaum sufi dalam menempuh jalan suluk.
Kedua, konsistensi terhadap syari’ah. Para ulama mengakui bahwa belum pernah ditemukan di antara isyarat-isyarat al-Junaid dalam bidang tasawuf yang bertentangan dengan syari’ah. Syariah adalah rel yang jika seorang sufi keluar dari jalurnya maka pintu kebaikan akan tertutup baginya.
Ketiga, kebersihan dalam akidah. Al-Junaid membangun madzhabnya di atas fondasi akidah yang bersih, yaitu akidah Ahlussunah wal Jama’ah.
Keempat, ajaran tasawuf yang moderat. Ajaran tasawuf yang moderat merupakan ciri-ciri tasawuf Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Junaid memandang bahwa orang yang baik bukanlah orang yang berkonsentrasi melakukan ibadah saja, sementara ia tidak ikut berperan aktif dalam memberikan kemanfaatan kepada manusia. Pandangan tasawuf yang demikian mematahkan tasawuf ekstrem yang beranggapan bahwa jika seseorang sudah sampai pada derajat makrifat atau wali, maka pengamalan terhadap ajaran-ajaran agama tidak diperlukan lagi baginya.

3. Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali
Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali Al-Thusi. Beliau dilahirkan di kota Thus (daerah Khurasan) tahun 450 H/1058M. Beliau dikenal dengan al-Ghazali karena berasal dari desa Ghazalah, atau ada yang menganggap bahwa sebutan al-Ghazali melekat karena ayahnya bekerja sebagai pemintal tenun wol.
Masa kecil dan masa muda al-Ghazali dipenuhi dengan belajar ilmu agama, dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu guru ke guru lain. Ia pernah belajar kepada Ahmad bin Muhammad al-Radzikani al-Thusi, Imam Abu Nashr al-Isma’ili, Syekh Yusuf al-Nassaj, Imam Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdllah al-Juwaini yang merupakan ulama terkemuka Madzhab Syafi’i.
Kecemerlangan Al-Ghazali mengantarkannya menduduki guru besar di Universitas Nizhamiyah Baghdad (Tahun 848/1091M). Di sanalah, waktu itu, Al-Ghazali dikelilingi dengan berbagai kesenangan duniawi, tetapi hal tersebut tidak membuatnya bahagia. Lalu beliau memutuskan untuk pindah ke Damaskus di Syiria dan tinggal di kota itu. Di sana beliau lebih banyak beri’tikaf dan berzikir, menjalani riyadhah dan mujahadah. Setelah dua tahun, al-Ghazali kemudian meninggalkan Damaskus menuju Baitul Maqdis di Palestina.
Imam al-Ghazali sebagai pelopor sufi mengembangkan tasawuf kepada dasar aslinya seperti yang diamalkan oleh para sahabat Rasulullah Saw. Ia telah menulis puluhan kitab, dan yang paling terkenal adalah Ihya Ulumiddin (Menghidupkan kembali ajaran Islam). Melalui kitab tersebut al-Ghazali memberikan pegangan dan pedoman perkembangan tasawuf Islam, dan menjadi rujukan bagi mereka dalam mengembangkan paham positifisme yang sesusi dengan akidah dan syariah.[19]
Iman, Islam, dan ihsan mesti sejalan bersamaan. Beriman tanpa menjalankan ibadah sesuai syariat membuat keimanan seseorang diragukan. Sementara ihsan adalah amal shalih, yang diwujudkan dalam akhlakul karimah dan kedekatan hamba terhadap Tuhan.
Dengan tasawuf al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan Junaid al-Baghdadi, kaum Aswaja An-Nahdliyah diharapkan menjadi umat yang selalu dinamis dan dapat menyandingkan antara tawaran-tawaran kenikmatan bertemu dengan Tuhan dan sekaligus dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat. Hal semacam ini pernah ditunjukkan oleh para penyebar Islam di Indonesia, Walisongo. Secara individu, para wali itu memiliki kedekatan hubungan dengan Allah dan pada saat yang sama mereka selalu membenahi akhlaq masyarakat dengan penuh kebijaksanaan. Dan akhirnya ajaran Islam dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan penuh kaikhlasan dan ketertundukan.[20]

D. Siyasah Abu al-Hasan Ali Ibn Muhaammad al-Mawardi

Sejak awal berdirinya, NU banyak terlibat dalam masalah politik, baik politik praktis maupun kultural. Kita tidak bisa melupakan era-era awal kemerdekaan, banyak tokoh NU yang menduduki jabatan di pemerintahan. Bahkan, pada tahun 1952, lewat Muktamar NU ke-19, NU memutuskan untuk menjadi partai politik yang kemudian bubar saat Orde Baru berkuasa (tahun 1973).
Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo menjadi satu titik penting dalam sejarah NU. Dalam Muktamar tersebut NU menegaskan dirinya sebagai organisasi keagamaan yang lebih banyak berkonsentrasi dalam masalah-masalah yang dihadapi umat Islam. Sebenarnya, wacana kembali ke Khittah NU tahun 1926 sudah lama disuarakan, namun baru menjadi diskusi dan perdebatan yang serius ketika Muktamar di Sitbondo.
Dalam formulasi Khittah NU ditegaskan bahwa NU tidak terlibat dalam organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun. Namun begitu, NU tidak melarang anggotanya untuk terlibat dalam urusan politik, karena hal tersebut bukanlah eksistensi dari Khittah.
Dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta (1989) dirumuskan 9 (sembilan) Pedoman Politik Warga NU, yaitu garis-garis pedoman untuk melangkah bagi kaum Nahdhiyin yang menerjuni dunia politik dengan tetap menjunjung tinggi Khitthah Nahdlatul Ulama.
Di lingkungan NU juga dikenal istilah Politik Kebangsaan, Politik Kerakyatan dan Politik Kekuasaan. Berikut ini 9 Pedoman Politik Warga NU dimaksud:
1.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
2.     Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir batin, dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
3.     Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.
4.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
5.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.
6.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
7.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.
8.     Perbedaan pandangan di antara aspiran-aspiran politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
9.     Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal batik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.[21]

Warga dan kiai NU yang ingin terjun ke dunia politik diperbolehkan asal mengerti ilmu politik dan piawai menjalankan strategi siyasah dengan tidak membawa label organisasi. Potensi politik kader NU juga hendaklah dikelola dengan profesional agar memberikan kontribusi bagi NU dan tidak sekadar "menjual" organisasi. Inilah pentingnya pemaknaan politik bagi kalangan Nadhiyin agar NU tidak menjadi korban ketika pesta demokrasi.[22]
Menghindarkan dari urusan politik dan menyerahkan sepenuhnya kepada orang yang tidak kompeten justru membahayakan. Selain menghayati Khittah NU, paling tidak warga NU penting mengetahui rujukan siyasah kaum Aswaja. Salah satu ahli fiqh siyasah yang juga bermadzhab Syafi'i, yakni Abu Hasan al-Mawardi (w 450H).
Nama  lengkapnya adalah Abu  Hasan  Ali  bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Bashri.  Al-Mawardi dilahirkan di Bashrah pada tahun 364 H. atau 975 M. Panggilan al-Mawardi diberikan kepadanya karena kecerdasan dan kepandaiannya dalam berorasi, berdebat,  berargumen  dan memiliki  ketajaman  analisis terhadap setiap masalah yang dihadapinya. Sementara julukan al-Bashri dinisbatkan pada tempat kelahirannya.
Al-Mawardi kecil hingga remaja belajar fiqh Syafi’iyah di Bashrah sebelum kemudian merantau ke Baghdad dan mendatangi para ulama untuk menyempurnakan keilmuannya dalam bidang fiqh. Imam Al-Mawardi dikenal sebagai duta diplomasi pemerintah bani Buwaih dan di sisi lain sebagai duta diplomasi khalifah Abbasiyah, terutama khalifah Qoim Baimillah.
Salah satu di antara misinya selama menjadi duta diplomasi adalah untuk mendamaikan antara kubu-kubu politik yang berseberangan dan kubu-kubu lain yang sering berlindung di bawah kekuatan senjata dalam menyelesaikan persoalan.
Al-Mawardi telah menulis banyak kitab baik tafsir, fikih, hisbah, maupun sosio-politik. Satu karyanya yang paling monumental adalah kitab Ahkam Shulthaniyyah (hukum-hukum ketatanegaraan) yang sampai sekarang menjadi kitab rujukan paling poluper bagi setiap orang yang mengkaji ilmu perpolitikan di kalangan Islam.
Selain itu, di antara pemikiran Al-Mawardi  yang cukup terkenal adalah, pemetaan—bukan pemisahan—antara perkara dunia dan agama dalam bukunya Adabud Dunya wad Din (perkara Dunia dan Perkara Akhirat). Menurutnya, perkara dunia adalah perkara kenegaraan (politik), sedangkan perkara agama adalah syariat Tuhan. Pemisahan ranah politik dan agama menjadi penting dalam rangka mengantisipasi percampuran keduanya. Dengan begitu, politisasi agama dapat dihindarkan.[23]




[1] K.H. Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah, Cet-24, (Pustaka Tarbiyah: Jakarta, 2000). hal. 17.
[2] Khittah NU, Keputusan Mukamar XXVII NU No 02/MN-27/1984.
[3] Tim PWNU Jawa Timur, Aswaja An-Nahdhiyyah, Cet.II (Khalista: Surabaya, 2007). hal. 11.
[4] Sirajuddin Abbas, Op.Cit, hal. 30-31.
[5] Ibid, hal. 31
[6] TIM PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 12
[7] Ibid, hal. 13.
[8] Sirajuddin Abbas, Op.Cit, hal. 33-34
[9] PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 15.
[10] Ibid, hal. 16
[11] Ibid, hal. 20
[12] Drs. K.H. Busyairi Harits, M.Ag., Islam NU: Pengawal Tradisi Sunni Indonesia, (Khalista: Surabaya, 2010) hal. 7-8.
[13] Syekh Muhammad Hisyam Kabbani, Tasawuf dan Ihsan: Antivirus Kebatilan dan Kedzaliman, (Serambi: Jakarta, 2007). hal. 63
[14] PWNU Jawa Timur, Op.Cit., hal. 27
[15] Ibid., hal. 27
[16] Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Rampai PEsan yang Menghidupkan Hati, Cet. IV. (Penerbit Zaman: Jakarta, 2012). hal. 16
[17] Ibid, hal. 17.
[18] Dr. K.H Saifuddin Chalim, M.A Membumikan Aswaja, Pegangan para Guru NU, (Khalista: Surabaya, 2012). hal 137-142.
[19] H. Soelaeman Fadeli, dan Muhammad Subhan, S.Sos., Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah, (Khalista: Surabaya, 2007). hal. 152.
[20] PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 30
[21] H. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, S..Sos, Op.Cip. Hal. 99-100.
[22] Khamami Zada dan A Fawaid Sjadzili (Ed), Nahdlatul Ulama: Dinamila Ideologi dan Politik Kenegaraan, (Penebit Kompas: Jakarta. 2010). hal.29
[23] Ibid, hal.109