Catatan Harian Mbeling

Info Lomba

Cerpen

Buku

Gallery

TAGGED UNDER:

Saran dan Syarat Sertifikasi Guru Kemenag 2015

Sertifikasi Guru 2015 - Tidak hanya syarat, tetapi tulisan ini juga akan memuat saran. Inginnya tentu saja didengar, lalu direspon positif. Namun, jika pada kenyataannya saran ini tidak berarti apa-apa, "saya bisa apa sih?"

Membaca dan mencermati Juknis sertifikasi Guru Kementerian Agama Tahun 2015 membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan dan dibahas oleh orang-orang "di atas sana"? Saya menduga sebelum juknis itu ditetapkan ada rapat tapi saya kira rapatnya tidak lama-lama amat. Paling setengah jamlah. Memang ada beberapa perbedaan mengenai syarat mengikuti sertifikasi guru tahun ini dengan tahun lalu dan lalunya. Tetapi perbedaan itu tidak mendasar. Tidak lebih dari 3 phoin. Anda tidak percaya? Mari kita cermati syarat sertifikasi tahun ini dengan tahun-tahun yang telah lalu.

Sertifikasi Guru Kemenag 2015




Kriteria guru yang dapat mengikuti sertifikasi 2014.

  1. Berstatus sebagai Guru Tetap, dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) dari kementerian Agama atau Dinas Pendidikan bagi PNS. Bagi guru bukan PNS yang mengajar pada RA/Madrasah swasta, SK sebagai guru tetap diterbitkan oleh penyelenggara pendidikan/kepala satuan pendidikan, sementara guru bukan PNS yang mengajar pada madrasah negeri, SK dapat diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota atau Kepala Madrasah yang bersangkutan.
  2. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
  3. Aktif mengajar di RA/Madrasah, negeri maupun swasta, yang menjadi satuan administrasi pangkal (satminkal, atau tempat tugas induk/pokok) dan sekurang-kurangnya mempunyai beban kerja 6 (enam) jam tatap muka per pekan.
  4. Berusia maksimal 58 (lima puluh delapan) tahun pada tanggal 31 Desember 2014.
  5. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang memiliki izin penyelenggara.
  6. Guru RA/Madrasah yang belum sarjana (S-1) tidak bisa mengikuti sertifikasi tahun 2014, kecuali pada tahun 2013, telah berusia 50 (lima puluh) tahun per 1 januari 2013 dan mempunyai pengalaman kerja minimal 20 (dua puluh) tahun sebagai guru; atau mempunyai golongan IV/a.
  7. Jika mengajar tidak sesuai latar belakang keahlian yang dimiliki, harus memiliki pengalaman 5 tahun mengajar pada mata pelajaran yang diampu.
  8. Memiliki masa kerja sebagai guru (PNS aau bukan PNS) minimal 8 tahun per 31 Desember 2013 pada satuan pendidikan formal secara akumulatif, atau sudah menjadi guru RA/madrasah per 30 Desember 2005 sampai sekarang secara terus-menerus.
  9. Data calon peserta sertifikasi tahun/kuota 2014 diambil berdasarkan data hasil verifikasi dan validasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui program PADAMU NEGERI.
  10. Guru RA/Madrasah atau guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dapat diberi sertifikat pendidik secara langsung (PSPL) apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :
    • Memiliki kualifikasi akademik magister (S-2) atau doctor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran atau tugas kepengawasan yang diampunya dan mempunyai golongan sekurang-kurangnya IV/b, atau
    • Memiliki golongan serendah-rendahnya IV/c.
Dan berikut adalah Prosedur Sertifikasi Guru 2014:

  • Pola Sertifikasi Guru RA/Madrasah Tahun 2014 berdasarkan Petunjuk teknis sertifikasi guru Kemenag tahun 2014 akan dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2011, Guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti sertifikasi melalui salah satu dari pola berikut :
  1. Pemberian Sertifikasi Pendidik Secara langsung (PSPL)
  2. Portofolio (PF)
  3. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PKPG)
  4. Pendidikan Profesi Guru (PPG)
  • Pola Sertifikasi kecuali untuk PPG yang diatur oleh Kemenag secara terpisah
Dan berikut adalah syarat - kriteria mengikuti sertifikasi guru tahun 2015 untuk Kementerian Agama:
  1. Berstatus Guru Tetap. Status Guru Tetap ini dibuktikan dengan :
    • Surat Keputusan (SK) dari kementerian Agama atau Dinas Pendidikan bagi PNS
    • SK sebagai guru tetap diterbitkan Yayasan / Penyelenggara Pendidikan bagi Non PNS
  2. Memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) aktif
  3. Aktif mengajar di RA/Madrasah yang menjadi satminkal, atau tempat tugas induk dengan sekurang-kurangnya memiliki beban kerja 6 (enam) jam tatap muka per minggu
  4. Berusia maksimal 58 (lima puluh delapan) tahun pada tanggal 31 Desember 2015
  5. Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang memiliki izin penyelenggara
  6. Guru yang belum S-1 dapat mengikuti jika telah berusia 50 tahun (per 1 januari 2015) dan mempunyai pengalaman kerja minimal 20 tahun sebagai guru atau memiliki golongan IV/a.
  7. Guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang keahlian yang dimiliki, harus memiliki pengalaman 5 tahun mengajar pada mata pelajaran yang diampu.
  8. Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 10 tahun (per 31 Desember 2015) pada satuan pendidikan formal secara akumulatif. Atau telah menjadi guru RA/madrasah per 31 Desember 2005 secara terus-menerus hingga saat ini.
Penetapan calon peserta sertifikasi bagi guru RA/Madrasah dalam jabatan tahun 2015 tersebut diambil berdasarkan data hasil verval melalui program PADAMU NEGERI. Padamu Negeri adalah verval yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui situs www.padamu.siap.web.id.
Selain melalui jalur PLPG, Guru RA/Madrasah atau guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dapat diberi sertifikat pendidik secara langsung (PSPL). Syarat pemberian sertifikat pendidik melalui jalur PSPL antara lain :
  1. Memiliki kualifikasi akademik magister (S-2) atau doctor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran atau tugas kepengawasan yang diampunya dan mempunyai golongan sekurang-kurangnya IV/b, atau
  2. Memiliki golongan serendah-rendahnya IV/c
Menurut anda apanya yang beda?
1. Tahunnya. dulu 2014 sekarang 2015.
2. Minimal masa kerja. Dulu 8 tahun sekarang 10 tahun.

Apalagi? Silakan cari sendiri. Yang jelas, tidak ada perbaikan yang mencolok. Oh mungkin mereka menganggap bahwa aturan itu adalah yang terbaik. Mungkin orang-orang "di atas sana" menganggap bahwa imbas dari aturan yang mereka buat itu remeh temeh. Tidak, Sodara! Tidak. Sekecil apapaun aturan akan sangat mempengaruhi orang-orang di bawah sini. Jadi kalau rapat soal aturan-aturan macam ini tolong jangan cuma setengah jam.

Yang paling menyedihkan dari aturan ini adalah soal minimal masa kerja. Duh tambah tahun tambah mundur.  Jadi kapan guru-guru yang sudah mengabdi setelah 1 januari 2006 bisa ikut sertifikasi? Apa bedanya guru yang mengabdi 10 tahun dengan 9 tahun? Kenapa dulu ketika tahun 2011 punya masa kerja 6 tahun saja bisa sertifikasi dan sekarang punya masa kerja 9 tahun tidak bisa? Aneh sekali. Kalau kemudian patokan yang digunakan adalah UU guru dan Dosen yang disahkan Desember tahun 2005 alangkah sial nasib guru-guru yang bekerja setelah UU tersebut disahkan.

Kemudian yang patut juga ditanyakan adalah soal "Syarat pemberian sertifikat pendidik melalui jalur PSPL (sertifikat pendidik secara langsung). Tahukan anda bahwa aturan ini hampir-hampir tidak dipakai sama sekali alias sia-sia ada. Adakah guru yang punya golongan IVb atau bahkan IVc yang belum sertifikasi? Adakah? Kalau memang ada, tolong saya diberi tahu biar saya edit tulisan ini.

Saran saya aturan ini bisa ditinjau kembali. Kasihkan teman-teman. Itu saja.

Yang membutuhkan Juknis Sertifikasi Guru 2015 Silahkan unduh: JuknisSertifikasi Guru Madrasah 2015

Yusuf 4/09/2015 1

Kalau Saya Menjadi Kepsek

Pernahkah kau membayangkan menjadi angin? Pejamkan matamu dan bayangkanlah dirimu tiba-tiba menguap dari botol yang terbuka, lalu kau bergerak menampar-nampar jendela, sebelum kemudian menyelusup masuk melalui lubang ventilasi kamar pacarmu. Begitulah, kita bisa membayangkan menjadi apa saja dan kadang-kadang hal itu dapat membuat kita ngakak lebih keras, tersenyum lebih lebar, dan memiliki sensasi mendebarkan yang tidak bisa kau temukan di Dufan.

Akhir-akhir ini saya yang hanya guru ingusan iseng-iseng membayangkan menjadi kepala sekolah (Kepsek). Ini di luar dugaan. Membayangkan menjadi seekor jin pernah saya lakukan, hingga kemudian saya menulis novel yang tokoh utamanya adalah seekor jin. Membayangkan menjadi Tuhan, kadang terlintas juga, tetapi saya takut Tuhan tidak suka dengan keliaran imajinasi saya, dan karenanya segera saya stop. Tapi membayangkan menjadi Kepsek? Aduh! Sungguh keterlaluan. Bagaimana jika Kepsek saya membaca tulisan ini? Hem, bisa jadi saya diberi hadiah, atau malah diprenguti. Biarlah!

Jika saya menjadi Kepsek, dan tahu ada anak buah saya membuat tulisan semacam ini, maka saya akan merasa bangga, menyadari bahwa sebenenarnya saya punya anak buah yang tidak hanya lucu tapi juga pinter berkhayal. Tapi sebagai Kepsek, saya tidak benar-benar butuh orang macam itu. Yang saya butuhkan adalah orang yang loyal, manutan, dan setia mendukung gagasan dan ide saya yang brilian. Wow!

Kalau saya menemukan anak buah yang tidak loyal, saya tidak akan langsung memanggilnya, memarahinya, dan atau memberinya sanksi, meskipun hanya sebatas prengutan. Mula-mula saya akan mendekatinya, bicara baik-baik dengannya, jika ia perokok saya akan memberinya rokok. Lalu pelan-pelan saya tanyakan tentang kenapa berani-beraninya ia membelot dari kepemimpinan saya. Saya akan terbuka dengan kritikan, meski telinga saya pasti akan merah. Saya menyadari bahwa saya pernah menjadi anak buah, pernah menjadi guru biasa tanpa sampiran, dan melihat dengan jelas sesuatu yang tidak saya sukai (meski belum tentu itu salah) dari sikap dan kebijakan atasan saya.

Saya tahu, menjadi Kepsek tidaklah mudah. Jadinya saja sulit apalagi ketika sudah jadi. Tapi anggaplah saya benar-benar sudah menjadi kepala sekolah sekarang. Anggap saja, tidak sungguhan kok. Bermimpi atau bercita-cita pun tidak, sama sekali tidak pernah. Tapi saya bisa membayangkan betapa repot dan mendebarkan menjadi Kepsek. Tapi kan di balik kesulitan pasti ada keasyikan. Dan saya akan menjalani hari-hari memimpin sebuah sekolah yang besar, berusaha mati-matian untuk lebih membesarkan sekolah itu, juga membesarkan rekening pribadi, dan nama saya sendiri. Hahaha

Memang sih, ketika belum menjadi Kepsek saya ini orangnya idealis. Bersih. Karena tidak peluang untuk berkotor-kotor. Kalau melihat kecurangan sedikit saja saya muak. Tapi ketika sekarang menjadi Kepsek, saya mulai berhitung dengan banyak hal. Saya sudah benar-benar berubah, bukan guru lagi, tapi masih manusia, meski mungkin tinggal setengah. Kalau saya tetap idealis sebagaimana dulu ketika menjadi aktipis bagaimana mungkin saya dapat mengembalikan jutaan rupiah yang sudah saya berikan kepada orang-orang yang membantu saya menduduki jabatan paling keren di sekolah ini? Kepala sekolah lain juga begitu, bahkan di antara mereka ada yang sengaja membuat proyek-proyek yang sebenarnya tidak begitu penting. Lhah kok saya tahu? Dalam bayangan saya, kami sesama Kepsek sering curhat, dan secara terbuka ada yang mengatakan itu—tanpa malu.

Duhai asyiknya menjadi Kepsek! Saya selalu mendapat jatah yang paling besar dari setiap kegiatan. Ya wajarlah, kan dalam setiap kepanitiaan posisi saya sebagai Penanggung Jawab. Kalau ada kesalahan atau kekacauan dalam sebuah kegiatan saya akan menyalahkan ketua panitia. Saya akan bilang: "Bagaimana bisa begitu? Kalau tidak becus jadi ketua panitia ya bilang saja, biar diganti yang lain." Memarahi jangan diartikan negatif ya, karena itu bagian dari kerja saya sebagai Penanggung Jawab.

Saya tahu, tanggung jawab saya sebagai Kepsek dan semua kegitan di sekolah bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ketika memimpin rapat, di depan para guru, saya berkali-kali mengatakan hal itu. Bahwa dunia hanyalah sementara, kerja adalah ibadah, keikhlasan yang utama, bersyukur akan membuat bahagia, dan seterusnya yang terkesan mulia. Sesekali saya juga membaca puisi di depan para siswa. Saya kan Kepsek yang suka puisi gitu lhoh. Saya bangga dapat menceramai orang, meski saya kerap tidak ikhlas dalam bekerja, merasa kurang dengan gaji dan tunjangan, dan terus mengumpulkan pundi-pundi demi kesenangan pribadi dan keluarga. Kalau saya tidak mengajak mereka berbuat baik, bukan kepala sekolah namanya. Wibawa saya akan saya taruh di mana?

Ya, soal wibawa diri saya sebagai Kepsek memang harus saya junjung tinggi. Jika ketika masih menjadi guru saya sering berkumpul dengan sesama rekan guru, udud dan ngopi bersama, cekikikan, ngrumpi nggedebus gak jelas, ketika sudah menjadi Kepsek saya akan lebih banyak berdiam di ruangan saya. Aduh, enak sekali di ruangan itu. Saya buka laptop yang sudah tersambung dengan internet, saya mulai facebookan, ngeblog, menulis cerpen dan puisi tanpa dihantui bel ganji jam pelajaran. Lhah iya, saya cuma mengajar seminggu 6 jam kok. Kalau saya tidak mengajar pun tidak akan ada yang mencari saya. Waka Kurikulum tidak akan berani! Semua orang tahu kalau saya sibuk, punya urusan sendiri yang berbeda dengan para guru. Ah, tapi tidak! Saya akan tetap masuk kelas. Bagaimanapun, saya masih punya hati nurani dan tahu tanggung jawab. Tapi kalau sewaktu-waktu saya kosong, misal anak saya sakit, atau mobil saya bannya kempes, macet, bangun kesiangan, atau tiba-tiba saya ingin menghadiri temu sastra di luar kota, saya tidak bingung lagi. Tinggal SMS Waka Kurikulum, beres! Kalau anak buah tidak hadir karena berhalangan wajib membuat surat ijin yang ditujukan kepada saya, nah saya mau membuat surat ijin ditujukan kepada siapa? SMS saja cukuplah! Kepsek kok!

Sejak hari pertama saya menjadi Kepsek saya sudah merancang sekian agenda untuk mengangkat derajat sekolah ini; baik SDM-nya maupun sarana dan prasarananya. Saya tahu anak buah saya semuanya sudah Sarjana. Tetapi saya juga tahu bahwa kompetensi dan motivasi mereka sebagai guru harus ditingkatkan. Mereka butuh penyegaran keilmuwan, butuh lecutan motivasi dan saya kemudian akan mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan dan seminar keren di luar kota. Saya memilih mereka yang belum pernah mengikutinya, belum pernah mendapat surat tugas untuk ke luar kota. Saya tidak ingin anak buah saya menjadi seperti saya yang dulu, tidak pernah mendapat tugas mengikuti pelatihan atau kegiatan di luar sekolah karena yang disuruh adalah orang yang itu-itu saja, yang dekat dengan Kepsek tentunya.

Karena saya suka ngeblog, maka saya juga sudah merancang pelatihan pembuatan blog bagi para guru. Saya akan mengundang Omjay, Botak Sakti, Ibu Amiroh, Ibu Etna, dan teman-teman saya yang jago ngeblog untuk menyemangati anak buah saya berinovasi dan berkreasi dengan blog. Saya akan sangat malu jika punya anak buah yang gaptek dan karenanya saya mewajibkan semua guru punya laptop, email, blog dan bisa menggunakan itu semua dalam proses pembelajran.

Saya juga akan mengundang teman-teman saya untuk mengisi workshop penulisan karya ilmiah, juga workshop sastra dan jurnalistik untuk para siswa. Beliau Mas Joni Ariadinata mungkin akan saya undang, juga Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Ahmad Mukhlis Amrin, dan teman-teman saya di Kominitas Sastra Bimalukar. Saya akan berikan honor yang besar kepada mereka. Dan sebagai penanggung jawab kegiatan saya juga akan mendapat honor yang besar pula. Hehe

Impian saya yang lain adalah membangun perpustakaan yang hebat. Ketika menjadi guru tanpa sampiran Kepsek saya geram menyaksikan perpustakaan yang penuh sesak dengan buku teks pelajaran. Buku-buku yang usianya pendek. Padahal ada pos dana yang bisa digunakan untuk membeli buku bacaan. Kalau toh tidak ada, saya akan berjuang mati-matian untuk mengadakannya. Akan saya penuhi perpustakaan sekolah saya dengan buku-buku bagus, khususnya sastra, lebih khusus lagi novel-novel saya. Hahaha… Tentu saja saya agak rugi karena mengurangi belanja buku teks berarti mengurangi pendapatan saya dari rekanan penerbit. Tidak apa, saya sudah cukup gembira mendengar degub jantung sekolah yang saya pimpin itu sehat. Novel-novel saya juga akan banyak dibaca oleh siswa dan teman-teman guru, best seller jadinya. Hahaha

Ada satu lagi yang ingin saya perjuangkan, yakni nasib guru honorer. Sebagai Kepsek yang baik dan pernah menjadi guru honorer pula saya tidak mungkin menutup mata dengan nasib mereka. Disaat penyusunan Rencana Anggaran Pembelanjaan Sekolah saya sendiri yang akan mengusulkan kenaikan honor untuk mereka. Soal kenaikan tunjangan saya sebagai Kepsek nanti juga ada yang mengusulkan. Tidak hanya honor, saya juga akan memberi tambahan uang transpot dan dana kesehatan bagi guru honorer. Ketika pembagian bahan seragam, para guru honorer juga akan menerima ongkos untuk menjahit, agar mereka tidak seperti saya yang pernah menumpuk bahan pemberian sekolah karena berpikir 7 kali ketika akan menjahitkannya.

Demikianlah! Membayangkan menjadi Kepsek saya kira bukanlah kesia-siaan, bukan pula bermaksud memanjangkan angan. Justru dengan itu saya akan banyak menghayati kehidupan, merasakan dan seolah-olah mengalami lika-liku yang yang belum saya alami; empati. Dengan begitu, saya (semoga) tidak mudah menyalahkan orang lain, khususnya Kepsek. 

Yusuf 3/23/2015 1
TAGGED UNDER:

Menapak Jalan Menggapai Impian

menggapai cia-cita
Tulisan ini dimuat dalam Rubrik Laporan Utama Majalah Prestasi MTs N Wonosobo edisi 4 Desember 2014.

Tidak ada yang salah dengan impian atau cita-cita. Kita bebas untuk bisa bermimpi menjadi apa saja: Dokter, Polisi, novelis, atau menjadi ustadzah. Ketika masih anak-anak dulu, kita mungkin juga pernah punya impian menjadi Power Rangers, atau Gatot Kaca.

Benar, memang sering kali cita-cita seseorang berubah seiring dengan berjalanan waktu dan berubahnya situasi dan kondisi yang ia hadapi. Cita-cita kita waktu kecil bisa jadi berbeda dengan cita-cita kita saat duduk di bangku Madrasah. Kelak, ketika kita sudah Aliah atau kuliah, bisa saja impian kita akan berubah. Kenapa bisa begitu?

"Salah satu sebabnya adalah karena kita jarang atau bahkan belum pernah diajari untuk membangun sebuah impian dengan sungguh-sungguh," demikian Lasimin, selaku Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menuturkan. "Ketika kita ditanya, apa cita-citamu. Kita menjawab sesukanya, seolah itu pertanyaan yang tidak penting," lanjutnya.

Memiliki impian atau cita-cita merupakan sesuatu yang penting dimiliki oleh semua orang. Dan karenanya, BK MTs Negeri Wonosobo siap dan berusaha untuk mengarahkan para siswa untuk bercita-cita yang tepat. Dengan bercita-cita ia akan menjadi satu tumpuan atau fokus dalam mendapatkan sesuatu dalam kehidupan. Jika hidup diibaratkan sebagai perjalanan, maka impian dan cita-cita adalah tujuan dari perjalanan tersebut. Orang yang tidak memiliki cita-cita mirip seperti orang yang hidupnya tanpa tujuan, seperti kapal layar hilang layar.

Dengan memiliki cita-cita kita juga dapat lebih fokus pada apa yang kita tuju. Jika kita punya impian untuk menjadi seorang pemain sepak bola kelas dunia misalnya, maka kita dapat merancang langkah-langkah untuk menggapai impian itu.

Dalam sebuah buku Dreamstart Parents: Cara Smart Memandu Cita-cita karya Ir. Yudistira dinyatakan bahwa sebenarnya impian dan cita-cita dapat kita buat kapan saja. Yang penting adalah bahwa kita boleh membuatnya sesuai keinginan kita sendiri, tidak usah takut di larang oleh orang lain. Kita tidak perlu takut kalau cita-cita kita berbeda dengan harapan orang tua kita. Ada beberapa fakta yang membuktikan bahwa jika seorang anak melakukan apa yang dicita-citakan oleh orang tua mereka, atau jika hanya ikut-ikutan teman saja, sedangkan ia sendiri tidak menyuainya, akan terjadi hambatan dalam dirinya. Hambatan ini akan menyulitkan dalam mencapai cita-cita tersebut.

Salah seorang siswa Putri Rhobiyatul Adzewiyah, siswa 8H, mengaku jika cita-citanya adalah ingin menjadi Reporter VOA . Ketika ditanya, kenapa memilih ingin menjadi Reporter TV, Putri menjawab karena ia suka dengan tantangan. “Soal gajinya berapa saya tidak tahu, yang jelas saya suka Bahasa Inggris dan ketika melihat reporter TV saya merasa ingin menjadi seperti mereka,” tuturnya.

Beda lagi dengan Erma Sholikhatul Khosiyah yang ingin menjadi seorang seniman. Siswa 8F yang berumah di Sembungan, Kejajar, Wonosobo ini mengaku sudah menyukai dunia seni sejak kecil. Ia pun memantapkan langkah, dan sudah mulai membuat ancang-ancang untuk bisa menggapai citanya. “Saya ingin kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia_red). Semoga Tuhan mengabulkan,” akunya dengan nada yang mantap.

Sementara Atina Naili Fauziah (8E) dengan tegas mengatakan kalau dirinya ingin menjadi Guru. Siswa kelahiran 15 Februari 2001 ini punya motto hidup yang sederhana, tapi kuat: Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tak pernah melebihi batas kemampuan kamu. “Dengan menjadi guru, saya ingin berbagi, dan ikut mencerdaskan bangsa,” demikian Atina menerangkan ketika ditanya redaksi alasannya ingin menjadi Guru.

Masing-masing dari kita punya impian dan cita-cita yang berbeda. “Yang terpenting bukan cita-citanya, tetapi bagaimana upaya kita dalam meraih cita-cita tersebut,” jelas Bapak Yatiman, Kepala MTs Negeri Wonosobo. “Siswa MTs tidak boleh minder. Bercita-cita jadi Dokter, boleh. Jadi Pilot juga bagus. Tapi jangan kemudian apa yang sudah kita cita-citakan itu hanya menjadi angan-angan. Bersungguh-sungguhlah, pasti akan ada jalan.”

Apa yang disampaikan Kepala MTs N Wonosbo tersebut tidak berlebihan. Memang sudah banyak Alumnus MTs Negeri Wonosobo yang menjadi orang berhasil dalam menggapai impian. Tentu saja mereka meraihnya tidak seperti membalik telapak tangan. Harus ada ikhtiar yang diiringi dengan doa.


Man Jadda Wajada


Siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dan setiap orang mempunyai cara sendiri untuk menggapai impiannya. Setiap manusia diciptakan dengan keunikannya sendiri, dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Selain bakat dan kemampuan dasar yang berbeda, faktor bagaimana seseorang bergaul dengan lingkungan sekitar juga mempengaruhi tingkat keberhasilan masing-masing orang.

Dalam buku Man Jadda Wajada karya Akbar Zainuddin diterangkan bahwa banyak hal yang berpengaruh terhadap pencapaian kesuksesan ini. Yang paling utama adalah tentang cara pandang. Seseorang yang dibiasakan hidup dengan penuh optimis, ia akan terbiasa memandang semua persoalan dengan penuh optimis. Sebaliknya, jika ia dibiasakan memandang segala sesuatunya dengan pesimis, akan sulit mengubah cara pandang hidupnya terhadap berbagai persoalan dengan dengan optimisme. Ia akan terbiasa memandang pesimis terhadap berbagai persoalan yang ada.

Persoalan cara pandang ini menjadi penting karena di situlah kunci utama dan awal bagaimana seseorang membuka pintu-pintu keberhasilan yang akan ia masuki. Jika seseorang mampu membangun pola pikir yang optimis dan terbuka terhadap berbagai persoalan yang ada, maka akan lebih mudah baginya untuk berhasil di masyarakat.

Sebagai contoh, banyak orang di antara kita bercita-cita menjadi dokter, mungkin salah satunya karena bisa banyak bermanfaat bagi orang lain karena mengobati orang sakit. Tetapi dari sekian banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter, hanya sedikit orang yang kemudian berhasil mencapai cita-cita itu. Banyak sebabnya, ada yang kemudian hanya sekedar cita-cita, kekurangan dana untuk masuk kuliah kedokteran yang mahal, tidak lulus masuk Fakultas Kedokteran, dan berbagai sebab lain. Semua kesulitan dan rintangan yang ada di depan mata itulah yang kemudian menjadi penghalang seseorang mencapai cita-citanya. Padahal, belum tentu juga dengan segala rintangan yang dimiliki tersebut akan menghalanginya mencapai cita-cita, justru jika ia mampu mengatasinya, akan menjadi energi yang sangat kuat untuk terus menghidupkan cita-cita yang dimilikinya. (yusuf)

Yusuf 3/06/2015 0

Silabus Baca Tulis Al-Qur’an SMP/MTs

SILABUS BTQ – Kenyataan bahwa al-Qur’an adalah Kitab Suci Agama Islam yang menggunakan bahasa Arab merupakan sesuatu yang harus kita percayai. Bagaimana mungkin seorang dapat menghayati agamanya sendiri kalau ternyata ia tidak bisa membaca kitab sucinya? Terkadang memang ironis, banyak kalangan non-Islam belajar bahasa Arab dengan sengaja dan itu dilakukan untuk bisa mempelajari Kitab Suci ummat Islam dengan berbagai tujuan mereka, tetapi kalangan Islam sendiri malas untuk mempelajarinya. Kita seringkali merasa berpuas diri dan bangga telah memiliki Al-Qur’an yang otentik, yang tidak diragukan kebenaran ayat-ayatnya. Namun, kita malas-malasan untuk memelihara kesucian dan kebenaran Al-Qur’an. Kita puas dengan hanya mendengarkan penjelasan-penjelasan dari para Ulama tentang isi al-Qur’an dan enggan untuk menggali kedalaman ilmunya, bahkan hanya sekadar belajar bagaimana membaca al-Qur’an dengan baik dan benar.

Ilmu Baca Tulis Al-Qur’an atau BTQ/BTA menjadi salah satu muatan lokal di jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan juga dipelajari di perguruan-perguruan tinggi Islam. Untuk menguasai ilmu membaca dan menulis Al-Qur’an saja tidak cukup sebulan dua bulan atau setahun sekalipun, belum lagi ilmu soal tata bahasa, tafsir, dan ilmu-ilmu al-Qur’an yang lain. Kalau toh kita tidak bisa mempelajari semuanya, setidaknya kita cukup menguasai ilmu membaca dan menulis al-Qur’an.

Mempelajari atau mengajarkan BTQ memang tidak mudah. Butuh kesebaran dan ketekunan, selain, tentu saja metode yang tepat. Sejak menjadi guru di MTs Negeri Wonosobo saya ditugasi untuk mengampu mapel BTQ/BTA. Ya, saya mengajar tetapi sejatinya saya juga ikut belajar. Betapa luar biasa siswa-siswa saya!

Keyword: Download Silabus BTQ, Download Silabus BTA, Silabus BTQ/BTA Kelas VII, VIII, IX.

Bagi teman-teman membutuhkan. Silahkan download. Ini link Downloadnya:
Download Silabus BTQ 

Semoga bermanfaat

Yusuf 3/01/2015 0
TAGGED UNDER:

Cukupkan Dengan Cinta (Kumpulan Puisi Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo)

antologi puisi komunitas sastra bimalukar
Judul: Cukupkan Dengan Cinta (Kumpulan Puisi Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo)
Penyunting : Indrian Koto.
Penerbit: Bimalukar Publishing, Wonosobo, 2015.
Cetakan I: Februari, 2015.
Tebal: xiv + 121 hlm; 13,5 x 20 cm.

Kontributor

Berikut nama-nama kontributor yang terdaftar di dalam buku :
1. Agus Wépé
2. Alfa Ulfalah
3. Ani Istikharoh Anhar
4. Bagus Santoso
5. Dewi Prajnaparamitha Amandangi II
6. Dhimas Duars Duars
7. Dwi Astuti
8. Engkoh Liend
9. Eko Hastuti
10. Erwin Abdillah
11. Fakih Arya Kusuma
12. Gallant Pamungkas
13. Gusblero Free
14. Hening Andriastuti
15. Itox VC
16. Jusuf AN
17. Kaka Cahea Caradhiki
18. Kholifaturokhma
19. Maria Bo Niok
20. Moriz Avisena
21. Nafi
22. Nessa Kartika
23. Ruskim Abdullah
24. Syahida Alam
25. Vanera El-arj
26. Taufiq Hidayat RajaJek
27. Wening Tyas Suminar
28. Wilda
komunitas sastra wonosobo

 Pengantar Penyunting 

Menulis puisi tentu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sekali duduk. Ada proses panjang yang melingkupi puisi. Disadari atau tidak, puisi mengalami sebuah transformasi dari ruang kosong hing-ga berwujud larik. Puisi yang terbaca adalah pengejahwantahan keseluruhan ide, pikiran, perenungan, pemilihan kata dan diksi, hingga akhirnya kita sebut sebagai puisi. Puisi adalah hasil tawar-menawar yang cukup panjang antara penyair dan karyanya.

Proses menjadi dalam berkarya tak kalah rumitnya. Seseorang yang kita sebut penyair, cerpenis, novelis dan memang layak menyandang status demikian pastilah mengalami pergumulan kreatif yang luar biasa. Tidak sedikit calon penyair berbakat yang mesti ‘gugur’ sebelum mencapai titik di mana karyanya sejajar dengan karya-karya kuat lainnya. Proses ‘menjadi’ adalah dunia pertarungan melawan diri sendiri. Musuh utamanya bisa beragam bentuk: malas, merasa sudah jadi, merasa cukup, tidak tertarik membaca karya orang lain, kuat di ide tapi gagal dalam eksekusi, tidak memiliki referensi yang kuat, dan beragam bentuk lainnya. Godaan terbesar lainnya tentu saja upaya eksplorasi pengarang yang seringkali berhenti pada tahap coba-coba. Yang paling berbahaya dari kesemua itu adalah ‘fondasi’ dasar puisi, yaitu bahasa.

Di balik itu semua, kita beruntung, hal-hal berat semacam itu tidak membuat puisi menjadi ‘sesunyi kuburan’. Puisi terus lahir, penyair muda terus bermunculan. Soal jadi atau tidak, gagal atau berhasil, sebatas coba-coba atau menjadi susunan kalimat yang nikmat dibaca, dalam maknanya adalah proses waktu tadi. Semua orang selalu berhadapan dengan proses menjadi tadi.

Semua orang tahu, menulis adalah ruang pribadi, ‘dunia kamar’, namun proses penulisan bisa berlangsung di mana saja. Membaca, berkumpul, menonton serta peristiwa mengalami adalah pemicu-pemicu yang luar biasa dari sebuah karya. Ruang diskusi juga akan mencairkan kerunyaman puisi. Pada dasarnya dalam tahap belajar, dan proses belajar tentu berlangsung sepanjang hayat, seorang penyair juga butuh teman. Beruntunglah mereka yang tumbuh dari sekumpulan orang-orang yang menghayati puisi dalam proses belajarnya.

Proses puisi selalu dimulai dari diri sendiri. Renungan personal, kehilangan, cinta, peristiwa sosial, kekaguman akan alam, tempat baru, serta keterasingan adalah bekal awal seorang penyair. Inilah yang kta sebut kepekaan. Baik kepekaan personal, yang membaca ke dalam dirinya, maupun kepekaan sosial. Bahwa puisi, sebagaimana kerja seni lainnya bisa dimaklumi, bakat hanyalah pemicu belaka, kerja keraslah yang akan menentukan hasilnya.

Komunitas sastra Bimalukar yang berada di Wonosobo merupakan sebuah kelompok yang saya kira cukup lengkap. Di kota kecil, nyaris setiap periode bermunculan para penulis yang memiliki modal besar dalam berkarya. Alam, lingkungan sosial, fasilitas, serta kecakapan personal mereka tak kalah dibanding kota lainnya. Mereka muncul dari beragam latar, santri, pelajar umum, guru, mahasiswa, pekerja sosial, dan sebagainya. Dan Bimalukar melengkapi itu semua.

Membaca karya dalam kumpulan ini seperti menemukan batu akik sebesar kepala. Tak ada keraguan bahwa puisi akan mati, bahkan, semua orang harus tahu, di sebuah kabupaten seperti Wonosobo sastra mendapatkan tempat terhangat. Membaca puisi-puisi ini adalah sebuah kegembiraan. Kumpulan puisi ini adalah sebuah harapan. Kita masih akan melihat kilauan batu akik yang siap diasah menjadi kilauan yang sedap dipandang mata. Sebagian penyair dalam kumpulan ini adalah mereka yang sedang berada dalam tempaan proses menjadi, bersiap menuju proses menjadi, serta mereka yang tinggal diasah sedemikian rupa lagi hingga mendapatkan kilau yang sebenarnya. Dari sepilihan puisi ini bisa kita lihat keragaman tema dan gaya ungkap dari seorang pemula hingga mereka yang sudah mendapat porsi cukup dalam kanca kesuasteraan Indonesia. Ibarat akik, kita akan terus menggosok, menggosok dan menggosok...

Kita berharap Bimalukar ke depan menjadi wadah bagi beragam calon penulis dari beragam latar belakang di Wonosobo, sekaligus ruang yang mempertemukan berbagai kelompok orang yang men-jadikan seni, minimal, sebagai wujud kecintaannya, sehingga dalam kelompok sastra ini kita bisa tumbuh bersama. Kita menunggu antologi tunggal para penyair dalam buku ini beberapa tahun ke depan. Kita punya harapan bahwa antologi ini bisa menjadi dokumentasi awal para penyair muda Wonosobo yang puisinya masuk dalam antologi ini. Kita tidak bisa berharap semua akan jadi, sebab sebagaimana disinggung di awal, bahwa proses menjadi adalah proses seleksi. Baik seleksi alam maupun pilihan pribadi. Namun, sekali lagi, kita boleh berbangga hati, dari Wonosobo kita akan selalu bisa melihat pertumbuhan sastra seranum pipi remaja-

Yusuf 2/19/2015 0

Tumpang Tindih Aturan Rugikan Siapa?

problema guru honorer
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis surat terbuka untuk Kemdikbud dan LPMP terkait dengan NUPTIK guru non PNS di madrasah negeri. Tulisan tersebut bermula dari kejengkelan saya karena beberapa teman saya tidak bisa memiliki NUPTK dan menghalangi mereka untuk mendapatkan tunjangan dan mengikuti program-program lainnya.

Malam ini, iseng-iseng saya blog walking ke situs kementerian agama, lalu menuju Direktorat Pendidikan Madrasah yang beralamat di sini: http://madrasah.kemenag.go.id/. Ada info penting yang saya temukan yang masih ada kaitannya dengan surat terbuka saya.

Info tersebut adalah tentang Surat Edaran Dirjen Pendis tentang Pengaktifan NUPTK. Saya download,  lalu saya baca pengantarnya. Surat tersebut tertanggal 5 Januari 2015. Inti dari surat tersebut adalah himbauan tentang pentingnya NUPTK bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Di phoin lain juga dijelaskan bahwa Guru Non PNS yang bertugas di Madrasah negeri syarat untuk mendapatkan NUPTK pengajuannya ke LPMP bisa dengan SK Kepala Madrasah Negeri.  Dasar hukumnya adalah Keputusan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2014 tentang Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran dan Pelaksana Tugas Kuasa Pengguna Anggaran di lingkungan Kementerian Agama dan Surat edaran Dirjen Pendidikan Islam nomor sekian....sekian...sekian (nanti dibaca sendiri saja) tanggal 10 Oktober 2014 tentang Kepala Madrasah Negeri sebagai Penanda Tangan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Bukan PNS di Madrasah Negeri.

Surat tersebut ditandatangi oleh Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin MA selaku Dirjen Pendis.

Entahlah. Saya memposting surat terbuka itu pada tanggal 13 Oktober 2014 sementara surat edaran Dirjen tersebut tertanggal 10 Oktober 2014. Tapi kenapa waktu itu LPMP menolak untuk mengurus NUPTK teman-teman guru non PNS yang mengabdi di Madrasah Negeri? Saya tidak sedang bertanya kepada rumput yang kering.

Dari kasus tersebut kita bisa melihat adanya aturan yang tumpang tindih. LPMP mewajibkan guru honorer di sekolah dan madrasah negeri punya SK Bupati atau Kanwil Kemenag sementara Dirjen Pendis membolehkan. Ini yang pertama.

Lalu soal ini:
Status Guru Non PNS Masihkan Bisa Disebut Ilegal

Saya ulangi paragraf ini: Bahwa ternyata sudah ada Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2014 tentang Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran dan Pelaksana Tugas Kuasa Pengguna Anggaran di lingkungan Kementerian Agama dan Surat edaran Dirjen Pendidikan Islam nomor sekian....sekian...sekian (nanti dibaca sendiri saja) tanggal 10 Oktober 2014 tentang Kepala Madrasah Negeri sebagai Penanda Tangan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Bukan PNS di Madrasah Negeri.

Sementara, sebagaimana pernah saya singgung dalam tulisan  status guru honorer dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 tahun 2005 Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Silip (CPNS) menyebutkan bahwa Instansi Negeri dilarang mengangkat pegawai baru.

Bagaimana ini? Kementerian Agama membolehkan dan menganggap sah kepala Madrasah Negeri mengangkat guru non PNS sementara PP melarangnya. Dua aturan tersebut seakan tumpang tindih dan saling kontradiktif. Pertanyaannya, masihkan pantas Guru Honorer/Non-PNS dianggap ilegal?

Jika anda penasaran ingin membaca surat edaran Dirjen tersebut silahkan meluncur ke sini: Surat Edaran Dirjen Pendis tentang Pengaktifan NUPTK

Yusuf 1/17/2015 0

Recent Articles

About Us

Apalah daya pena jika tidak ada tinta. Apalah daya pena yang sudah terisi tinta jika tidak ada tangan. Apalah daya tangan, jika tidak ada kekuatan dari Tuhan. Tapi tolong, jangan diartikan secara harfiah! Dan jika anda ingin menjadi kontributor www.tintaguru.com silakan kirimkan tulisan anda ke jusufan@gmail.com.
© 2014 Tinta Guru. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top