Sejarah Kelahiran dan Perkembangan NU dari Masa ke Masa

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan NU dari Masa ke Masa

Memahami Nahthatul Ulama (NU) secara komprehenship, tidak mungkin melupakan sejarah kelahirannya. Sementara kelahiran sebuah organisasi tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pemikiran dan peristiwa yang melatar belakanginya.

Pada konteks global kelahiran Nahthatul Ulama hampir selalu dikaitkan dengan peralihan kekuasaan di Mekkah tahun 1924 dimana Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi menggantikan Syarif Husen yang berpaham Sunni sebagai Raja Hijaz (Mekkah). Jatuhnya kekuasaan dari Sunni ke Wahabi berimbas pada kebijakan-kebijakan yang melemahkan pemikiran dan amaliah keagamaan kaum Sunni. Terlebih, rencana penguasa baru Hijaz tersebut yang bermaksud melebarkan pengaruh kekuasaannya ke seluruh dunia Islam, dengan menegakkan dan meneruskan kekhalifahan Islam pasca runtuhnya daulah Utsmaniyah.[1]

Memang, kelompok Wahabi terkenal dengan sikap kerasnya menentang segala sesuatu yang bertentangan dengan fahamnya. Selama menududuki kota Mekkah beberapa waktu sebelumnya, pada awal abad ke-20, kaum Wahabi menghancurkan banyak makam di dalam dan sekitar kota tersebut dan memberangus berbagai praktek keagamaan populer. Bagi kaum muslim tradionalis Indonesia yang sangat terikat kepada paktek-praktek keagamaan yang dikutuk kaum Wahabi ini, penaklukan atas Mekkah tersebut merupakan peristiwa yang mencemaskan. [2]

Ketika Raja Ibnu Sa’ud bermaksud menggelar Muktamar Khilafah di Kota Suci Makkah, Indonesia yang waktu itu masih dalam kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda tidak luput diundang. Beberapa nama diusulkan, antara lain HOS Cokroaminoto yang mewakili Sarikat Islam (SI), K.H. Mas Mansur mewakili Muhammadiyah dan K.H. Abdul Wahab Chasbullah mewakili kalangan pesantren.[3] Namun begitu, dengan alasan tidak mewakili organisasi resmi, nama yang terakhir dihapus dari daftar, sehingga K.H Wahab Chasbullah tidak bisa mengikuti Muktamar tersebut untuk menyuarakan pendapat-pendapat yang mewakili kaum Sunni di Indonesia.

Kaum tradisional, yang merupakan cikal-bakal pendahulu NU, menghendaki agar utusan Indonesia ke Kongres Mekkah meminta jaminan dari Ibn Sa’ud untuk menghormati madzhab-mazhab Fiqh Ortodoks dan membolehkan berbagai praktek kegamaan tradisional. Ini adalah masalah yang paling penting bagi mereka untuk diperjuangkan. Alasan tersebut sangat masuk akal, mengingat kecemasan jika ajaran Fiqh Syafi'i dilarang di Mekkah. Tidak hanya itu, pelarangan teradap tarekat dan ziarah ke banyak makam orang suci di dalam dan sekitar Mekkah akan menghilangkan kesempatan kaum Muslim Tradisional seluruh dunia untuk memperoleh pengalaman-pengalaman kegagamaan yang penting.[4]

Karena tidak mendapat undangan resmi dari Raja Hijaz, Kiai Wahab Chasbullah kemudian mendorong para kiai terkemuka Jawa Timur agar mengirimkan utusan sendiri ke Mekkah untuk membicarakan masalah madzhab dengan Ibnu Sa'ud. Kiai Wahab kemudian mengundang para kiai di rumahnya di Surabaya pada 31 Januari 1926 untuk menentukan siapa yang akan diutus.[5]

Terbentuklah apa yang dikenal dengan Komite Hijaz yang dimaksudkan sebagai panitia aksi dalam rangka menanggulangi tindakan-tindakan penguasa baru Hijaz. Rapat Komite Hijaz sendiri dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari yang tidak lain merupakan guru dari K.H Wahab Chasbullah dan kebanyakan Kiai yang hadir.

Martin van Bruinessen dalam penelitiannya menulis bahwa, guna memperkuat kesan pihak luar, Komite Hijaz kemudian memutuskan mengubah diri menjadi sebuah organisasi, dan akhirnya tercetus sebuah nama: Nahdlatoel ‘Oelama.[6] Tetapi barangkali tidak seremeh itu. Keputusan para Ulama yang tergabung dalam Komite Hijaz untuk membentuk suatu organsasi (jam’iyah) sebenarnya sudah lama terpikirkan. Dan ketika Komite Hijaz terbentuk, ia menemukan momentumnya.

Jika sifat sebuah komite hanyalah sementara, maka diperlukan wadah yang bisa terus berjuang secara permanen, sepanjang masa. Maka kemudian, disepakati sebuah Jam’iyah yang diberi nama Nahdhatul Ulama.

Syaikhona K.H. Hasyim Asy’ari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. merupakan pemimpin pertama NU dengan sebutan/jabatan Rais Akbar. Sementara K.H Wahab Chasbullah, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulm Tambakberas, Jombang yang merupakan murid dari Hadratus Syekh menjadi Katib (sekretaris). Susunan pengurus NU pada awal berdiri, semuanya terdiri dari kalangan kiai pengasuh pondok pesantren dari Jawa dan Madura, di antaranya KH. Maksum (Lasem), KH. Ridwan (Semarang), KH. Nawawi (Pasuruan), KH. Nahrawi Muchtar (Malang), KH. Ridwan (Surabaya), K. Abdullah Ubaid (Surabaya), KH. Alwi Abdul Aziz (Malang), KH. Abdul Halim (Leuwimunding, Cirebon), KH. Doro Muntaha (Madiun), KH. Dahlan Abdul Qahar (Madiun), KH. Abdullah Faqih (Gresik).

Pada awal-awal berdirinya, perjuangan NU dititikberatkan pada penuatan paham Ahlussunah Waljama’ah. Hal ini dianggap mendesak mengingat pentingnya membentengi umat dari serngan penganut ajaran Wahabi. Selain itu, NU juga melakukan pengatan persatuan di antara para kiai dan pengasuh pondok pesantren. NU juga secara serius menanamkan nilai-nilai nasionalisme di pesantren yang menjadi pondasi awal perlawanan terhadap Belanda.

NU, juga organisasi soasial kemasyarakat dan politik di Indonesia sempat dibekukan ketika Jepang datang ke Indonesia (1942). Pada masa itu, perjuangan NU lebih difokuskan melalui jalur diplomasi. K.H. Wahid Hasyim, putra Hadratus Syekh, masuk ke dalam parlemen buatan Jepang dan meminta NU diaktifkan kembali. Permintaan tersebut dikablkan pada tahun 1943.

Perjuangan NU dalam pergerakan melawan kolonialisme begitu gencar dan rapi. Tahun 1944 Hizbullah, yang diprakarsai oleh K.H Wahid Hasyim terbentuk. Mereka dilatih kemiliteran oleh para komandan PETA dengan pengawasan prajurit jepang. Sejak itulah pesantren-pesantren berubah menjadi markas pelatihan Hizbullah.

Sejarah penting pada awal kemerdekaan Republik Indonesia adalah dikeluarkannya Fatwa Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad NU. Dengannya semangat perjuangan kaum musliminn dalam melawan tentara Belanda yang datang membonceng sekutu benar-benar membara.

Ketika Indonesia merdeka, banyak tokoh NU yang turut mengisi jabatan penting di pemerintahan yang baru baru dibentuk sampai dengan berakhirnya Orde Lama. Di antara tokoh NU tersebut adalah K.H A. Wahid Hasyim dan K.H. Majkur yang menduduki jabatan menteri.

Pada tahun 1952, lewat Muktamar NU ke-19, NU memutuskan untuk menjadi partai politik, setelah sebelumnya para tokohnya bergabung dalam Masyumi, dan mendapat suara terbanyak ketiga setelah PNI dan Masyumi. Pada era ini, semakin banyak tokoh NU yang berkiprah di pemerintahan; K.H Zaenul Arifin, K.H M. Iyas, K.H. Idham Chalid, K.H.A Wahib Wahab, untuk menyebut beberapa nama yang menduduki jabatan penting di pemerintah.

Saat Orde Baru (1973) berkuasa dan partai-partai ditertibkan, menjadi hanya Partai Demokrasi Indonesia (mewakili partai-partai nasionalis) dan Partai Persatuan Pembangunan (mewakili partai-partai Islam), dan Golongan Karya (yang mengganggap dirinya bukan partai, tetapi dijinkan ikut pemilu). NU mau tidak mau melebur ke PPP.

Pada kancah politik maupun pemerintah, para tokoh NU benar-benar dipinggirkan oleh pemerintah Orde Baru. Bahkan, dalam dua kali pemilu (1977 dan 1982) banyak tokoh NU yang masuk penjara dengan berbagai macam tuduhan.[7] Pada tahun 1998, di akhir kekuasaan Orde Baru, NU menjadi rebutan banyak tokoh politik. Beberapa partai membawa simbol-simbol NU, bahkan ada satu partai yang mengatas namakan NU. Namun, secara struktural NU sama sekali tidak mendirikan partai secara khusus, hanya tokoh-tokoh NU saja yang berinisiatif untuk ambil bagian dalam dunia politik, turut serta dalam kontestasi Pemilu tahun 1999.

Khittah NU 1926 kembali ramai, dan banyak masyarakat yang mengharapkan agar NU lebih konsentrasi pada masalah-masalah Umat Islam. Namun, terjun dalam politik praktis memang menjadi hak setiap warga, termasuk warga NU. Sebagai sebuah Jam'iyyah NU tidak pernah melarang warganya untuk ikut dalam politik praktis, namun, mengatasnamakan NU untuk kepentingan politik atau partai tertentu dikhawatirkan akan memecah belah organisasi ini.

------------------------
Catatan kaki:

[1]
Soelaeman Fdeli, H., dan Mohammad Subhan, S.Sos, Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah, Khalista: Surabaya, 2007, hlm, 2.
[2] Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-realsi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, LKiS, Yogyakarta, 1994 hlm, 32. 
[3] K.H Wahab Chasbullah adalah salah seorang kiai yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan intelektual organisasi lingkungan intelektual yang ada pada waktu itu, dan juga bekerja sama dengan para pembaru moderat sebelum terjadi perselisihan tahun 1920-an yang membautnya mengambil posisi tradisionalis secara lebih tegas. Tahun 1920-an. Pada tahun 1922 sampai 1926, para aktifis Muslim dari berabagi organisasi dan perhimpunan mengadakan serangkaian kongres bersama (kongres Al-Islam) untuk membicarakan berbagai masalah penting. Semua aliran Islam terwakili, tetapi wakil dari kaum modernis mungkin terlalu banyak. (Lihat: Martin van Bruinessen: hlm. 31) Pemilihan delegasi untuk menghadiri Muktamar Mekkah diadakan pada Kongres Al-Islam ke-lima, Februari 1926. Sementara Komite Hijaz sudah terbentuk pada akhir Januari 1926. K.H Wahab Chasbullah sendiri tidak menghadiri kongres Al-Islam tersebut, dan seolah sudah tahu bahwa dirinya tidak akan diikutikan sebagai delegasi mewakili kalangan pesantren.
[4] Ibid., hlm. 32.
[5] Muktamar Khilafah yang sedianya dilangsungkan di Mekkah dengan maksud mendirikan daulah Islam tersebut ternyata gagal dilaksanakan, dalam arti tidak berlangsung sebagaimana diinginkan oleh penyelenggaranya disebabkan tidak mendapat perhatian cukup dari negara-negara muslim lainnya. Namun begitu, Komite Hijaz yang sudah terbentuk tetap berangkat ke Mekkah dengan delegasi yang terdiri dari K.H. Wahab Chasbullah, didampingi Syaikh Ghanaim, warga negara Mesir, dan K.H.M Dachlan,yang waktu itu sedang belajar di Hijaz. Mereka datang menghadap penguasa baru Hijaz dengan membawa surat yan ditandatangi K.H Hasyim Asy’ari. (Lihat: Drs.K.H.Busyairi Harits, M.Ag, Islam NU: Pengawal Tradisi Sunni Indonesia, Khalista: Surabaya, 2010., hlm. 104)
[6] Ibid, hlm. 34
[7] H. Solaeman Fadli, Op.Cit. hlm. 21. 

Kumpulan Silabus dan RPP Kurikulum 2013 MTs

Download RPP Kurikulum 2013 Revisi- Tulislah apa yang akan kamu kerjakan dan apa yang sudah kamu kerjakan. Saya ingat kalimat yang pernah disampaiakan oleh atasan saya, entah mengutip kalimat siapa. Tugas seorang guru selain mengajar adalah merencanakan pembelajaran, meski kadang-kadang rencana hanya berhenti pada rencana, pada teks yang hanya administraf belaka. Semoga tidak demikian dengan kita.

download rpp fiqih mts


Berikut ini merupakan administrasi guru berupa perangkat pembelajaran yang saya buat pada tahun pelajaran 2016/2017 berupa Silabus, Prota, Promes, RPP Fiqih. Karena Kelas VIII di Madrasah kami masih menggunakan KTSP maka perangkat pembelajaran ini disusun sebagaimana tata cara penyusunan perangkat pembelajaran KTSP.

Silahkan lihat dan download rpp fiqih beserta silabus dan lain-lain berikut ini:

1. Silabus Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII 
2. Program Tahunan Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII 
3. Program Semester Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII
4. RPP Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII 

UPDATE: Download RPP Fiqih Kelas 8 Kurikulum 2013
Download RPP al-Qur'an Hadist Kurikulum 2013

Pesan Sponsor



SILABUS DAN RPP LAINNYA:

RPP dan Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurtilas Kelas VII



RPP Akidah Akhlak Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus Akidah Akhlak Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Al-Qur’an Hadist Kelas VII Kurikulum 2013 (download)

Silabus Al-Qur’an Hadist Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Fiqih Kelas VII Kurikulum 2013 (Buka link rpp fiqih tersebut)

Silabus Fiqih Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

RPP SKI Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus SKI Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Bahasa Arab Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus Bahasa Arab Kelas VII Kurikulum 2013 (Download)

RPP dan Silabus PAI dan Bahasa Arab Kurtilas Kelas VIII


RPP Akidah Akhlak Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus Akidah Akhlak Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Al-Qur’an Hadist Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus Al-Qur’an Hadist Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Fiqih MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII (Download melalui tautan itu atau KLIK INI)

Silabus Fiqih MTs Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

RPP SKI Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus SKI Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

RPP Bahasa Arab Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)

Silabus Bahasa Arab Kelas VIII Kurikulum 2013 (Download)


SILABUS Mapel PAI Kelas IX MTs

Silabus Akidah Akhlak Kelas IX
Silabus Fiqih Kelas IX
Silabus Al-Qur’an Hadis Kelas IX
Silabus SKI kelas IX
Silabus Bahasa Arab Kelas IX

RPP Mapel PAI Kelas IX MTs

RPP Akidah Akhlak Kelas IX
RPP Fiqih Kelas IX
RPP Al-Qur’an Hadis Kelas IX
RPP SKI kelas IX
RPP Bahasa Arab Kelas IX


kata kunci:

RPP PAI MTs Kelas 8 Kurtilas

rpp fiqih mts kurikulum 2013 Edisi revisi 2016
rpp bahasa arab mts kurikulum 2013
contoh rpp akidah akhlak mts kurikulum 2013
rpp dan silabus bahasa arab mts kurikulum 2013
rpp kurikulum 2013 mts bahasa arab
contoh rpp fiqih mts kurikulum 2013
contoh rpp ski mts kurikulum 2013
download rpp fiqih mts kurikulum 2013
silabus dan rpp fiqih mts kurikulum 2013
download rpp ski mts kurikulum 2013
rpp kurikulum 2013 mapel fiqih mts
rpp fiqih mts kelas vii kurikulum 2013
rpp fiqih mts kelas 7 kurikulum 2013
rpp ski mts kurikulum 2013

rpp fiqih mts kurikulum 2013 doc

rpp fiqih mts kurikulum 2013 kelas 8
rpp fiqih mts kurikulum 2013 pdf
rpp fiqih mts kurikulum 2013 kelas 7
rpp fiqih mts kurikulum 2013 kelas 9
rpp fiqih mts kurikulum 2013 gratis
contoh rpp bahasa arab mts kurikulum 2013
silabus quran hadis mts kurikulum 2013
download rpp bahasa arab mts kurikulum 2013

rpp dan silabus ski mts kurikulum 2013

rpp dan silabus fiqih mts kurikulum 2013
rpp dan silabus akidah akhlak mts kurikulum 2013
rpp akidah akhlak mts kurikulum 2013
silabus fiqih mts kurikulum 2013 revisi 2016
rpp bahasa arab mts kurikulum 2013.doc
rpp bahasa arab mts kurikulum 2013 kelas 8
rpp bahasa arab mts kurikulum 2013 kelas 7

rpp kurikulum 2013 mts aqidah akhlak kelas 8

rpp qur'an hadits mts kurikulum 2013 kelas viii
silabus akidah akhlak mts kurikulum 2013
rpp kurikulum 2013 mts bahasa arab kelas 7
contoh rpp kurikulum 2013 bahasa arab mts
contoh rpp kurikulum 2013 mts fiqih
contoh rpp kurikulum 2013 ski mts
rpp kurikulum 2013 mts ski
silabus dan rpp bahasa arab mts kurikulum 2013
rpp fiqih mts kelas 7 kurikulum 2013 lengkap


Beberapa link Silabus dan RPP Kurikulum 2013 MTs yang belum tersedia, segera menyusul. Doakan semoga selalu sehat. Semoga apa yang sudah kita kerjakan dapat bermanfaat untuk kelancaran tugas-tugas kita. salam

Kumpulan Soal UKG TK, PAUD, SMP, SMA, SMK 2016

Soal UKG - Andai UKG dilaksanakan setiap tahun apa yang akan terjadi? Ada banyak kemungkinan, tetapi yang paling menggembirakan adalah pengunjung blog ini bisa jadi akan tetap bertahan di kisaran 2500 visitor perhari. Selama sekian tahun ngeblog baru kali ini blog Tintaguru mendapatkan pengunjung di atas 2000 perhari. Tapi tolong, jangan bandingkan dengan blog-blog lain yang pengunjungnya jauh lebih membludak ketimbang blog ini. Itu semua berkat UKG, anda tahu itu.

Bahkan ada blog/web yang sengaja memang disiapkan secara khusus dan matang untuk menampung para pemburu berita dan mungkin juga bocoran soal terkait Uji Kompetensi Guru 2015. Luar biasa. Saya menebak, pengunjung web SOAL UKG Online atau UKG 2016 dot com atau dan lain-lain yang sejenis, pengunjungnya bisa tembus 100 ribu perhari. Anda boleh tidak percaya itu, terserah. Tapi kenyataan bahwa banyak guru yang kaget dengan UKG dan tidak ingin mendapat nilai buruk tidak bisa ditolak.

Baca juga: Kisi-kisi dan Contoh Soal UKG Online 2016
UKG 2016


Ini adalah pengalaman berharga bagi saya, makanya saya menuliskannya di sini. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu benar apa itu UKG, ikut saja nggak kok. Guru-guru agama dan juga guru madrasah tidak ada yang ikut UKG, mungkin tahun depan. Jadi kalau saya menulis soal UKG 2015 sekadar meramaikan saja keyword yang sedang naik daun, selain tentu mengeluarkan uneg-uneg yang tidak penting blass.

Persaingan keyword UKG 2016 sendiri sesungguhnya amatlah berat, tetapi bukan berarti tidak ada pengunjung nyasar di blog yang baru dibuat sekalipun. Anggaplah keyword tujuan UKG, atau Hasil UKG, tintaguru berhasil nangkring di page one google, meski hanya dengan teknik SEO kampungan ala guru gaptek.

Download Soal UKG TK, PAUT, SMP, SMA/SMK Terlengkap

Berikut adalah beberapa link penting terkait kumpulan soal UKG PAUT/TK, SD, SMP, SMA/SMK semua mata pelajaran, termasuk Soal UKG Kepala Sekolah dan UKG Kometensi Pedagogik. Anda tidak bisa langsung menyimak dan membacanya, dan jika ingin download juga bisa. 

SOAL Lengkap UKG SD, SMP, SMA, SMK dan Kunci Jawabannya
Kumpulan Soal UKG SMA Semua Mapel, Baca/Download
Kumpulan Soal UKG SMP Terlengkap, Siap Baca dan Download
Soal UKG SD Kelas RendahKumpulan Terlengkap Soal UKG 2016 SD, Guru Kelas, TK, Paud
Lihat Prediksi Soal UKG Kepala Sekolah 2016

SOAL UKG 2016

ukg online 2015

Meski tidak ikut ukg 2016 tapi saya beruntung karena kemarin hari selasa ikut mengantarkan Ibu saya yang guru TK mengikuti UKG online. Berdasarkan pengalaman mengikuti UKG Ibu saya yang usianya di atas 50 tahun menganggap soal-soalnya tidak terlalu sulit kok. Tapi memang ada banyak guru yang ujian berasama Ibu yang tidak lulus, tapi Alhamdulillah, beliau bisa mendapat nilai di atas 70. Nanti anda juga akan tahu sendiri, merasakan test dengan bantun komputer. jadi nanti, Nilai hasil UKG akan langsung keluar setelah anda selesai mengerjakan. Yang penting adalah tenang, ora usah kesusu.

Hem...mungkin saya sudah sangat terlambat membuat postingan ini. Ah, tidak, saya cukup yakin, postingan ini akan dilihat oleh lebih dari 1000 pengunjung, bahkan lebih. 

demikian. pengunjung membaca tulisan ini mungkin dengan keyword berikut:
soal ukg sd 2016 kelas rendah, soal ukg kelas rendah, soal ukg smp, free download contoh soal ukg 2016 bahasa indonesia smp, contoh soal ukg bahasa inggris smp dan kunci jawaban, soal ukg kelas tinggi 2016 pdf, soal dan kunci ukg sosiologi 2016 , download soal n kunci ukg bahasa indonesia sma, soal ukg online guru kelas atas 2016 , soal pkn ukg 2016 sd tkt rendah, soal ukg kelas bawah untuk tgl 16, download soal ukg guru smp seni musik, soal ukg matematika, contoh soal pajak akuntansi ukg 2016 , spal uk. kegiatan pembelajaran mengenal budaya, soal ukg 2016 dan kunci jawaban, soal ukg sd 2016 seni budaya sd pdf, download ukg sosiologi 2016 , contoh soal ukg pedagogik seni musik smp onlineseni, contoh soal ukg penjaskes sma dan kunci jawaban, download rpp ipasmp gratis, seni rupa soal dan pembahasan ukg 2016 , contoh soal ukg b.inggris smp dan jawaban, ukg 2013 soal 100, latihan soal ukg sosiologi sma, dan lain-lain perihal ukg.

SIAP UKG 2016 


Kata kunci:

soal ukg dan kunci jawaban sd 2016
soal ukg ekonomi sma 2016 dan kunci jawaban
soal ukg ekonomi 2016 dan kunci jawaban
soal ukg fisika sma 2016 dan kunci jawaban
soal ukg ipa smp 2016 dan pembahasannya
soal ukg jenjang sd 2016 dengan tampilan resmi
soal ukg kepala sekolah sd dan kunci jawaban
contoh soal ukg nautika kapal penangkap ikan

soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban

soal ukg tk 2016 dan kunci jawaban
soal ukg untuk guru sd tahun 2016
soal ukg untuk guru sd kelas atas
soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban
soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban pdf
contoh soal ukg sd beserta kunci jawaban
contoh soal ukg sd beserta kunci jawabannya
soal ukg sd 2016 beserta kunci jawaban
contoh soal ukg sd dan kunci jawaban
contoh soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban
soal ukg sd dan kunci jawabannya 2016
soal ukg sd dan kunci jawaban 2016
soal ukg sd dan kunci jawaban pdf
soal ukg sd dan kunci jawaban 2016
free download contoh soal ukg sd 2016
free download contoh soal ukg sd 2016
free download prediksi soal ukg sd 2016
free download latihan soal ukg sd 2016
soal ukg sd guru kelas tinggi 2016
soal ukg sd guru kelas tahun 2016

soal ukg sd kelas rendah tahun 2016 

soal ukg sd kelas 4 5 6
soal ukk sd kelas 1 2 3
latihan soal ukg sd dan kunci jawaban
soal ukg sd online 2016 dan kunci jawaban
tampilan resmi latihan soal ukg sd online
soal ukg sd sesuai kisi kisi 2016
soal ukg sd tahun 2016 dan kunci jawabannya
soal ukg sd tahun 2016 kelas rendah
soal ukg sd tahun 2016 dan kunci jawaban
Menghidupkan Ruh Santri di Madrasah

Menghidupkan Ruh Santri di Madrasah

Semangat Membela Islam dan Tanah Air
Laporan utama Majalah Prestasi MTs N Wonosobo

Siapakah santri? Jika kita berpikir sempit maka kita akan mengartikan santri sebagai orang yang belajar ilmu keagamaan di pondok pesantren. Padahal, definisi santri tidak sebatas itu. Orang Islam, lebih-lebih pelajar, yang punya semangat membela Islam dan Tanah Air, itulah santri.

Santri sendiri memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karenanya tidak heran kemudian Presiden Joko Widodo mengeluarkan KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Penetapan Tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Melalui Keppres tersebut dapat mengukuhkan kembali pentingnya peran santri dalam membangun bangsa.

Selama ini memang kiprak santri dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan kurang diketahui masyarakat umum. Meski sebenarnya sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia telah mencatatnya dalam berbagai buku. Karenanya, rekaman sejarah tentang peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia perlu diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Santri itu punya ciri khas, yang mestinya juga bisa diteladani para pelajar Madarah,” ujar Achmad Zudin, S.Ag ketika ditemui Majalah Prestasi. Lebih lanjut Achmad Zudin mengungkapkan bahwa salah satu ciri khas santri adalah penampilan dan sikap sederhana. Bangun pagi lebih cepat dan pantang menyerah menimba ilmu telah menjadi kebiasaan santri, seakan mereka sadar akan getirnya perjuangan melawan kebodohan.

“Lebih dari itu, santri juga memiliki semagat pengabdian yang luar biasa,” ungkapya.

Ruh Santri

Setidaknya santri memiliki empat ruh yang dapat menjadi potensi negara untuk memajukan bangsa ini. Pertama, santri terdidik dengan sikap kemandirian. Kedua, santri meliliki sifat pengabdian. Ketiga, ruh jihad. Keempat, cinta ilmu dan wawasan yang luas.

“Alangkah hebatnya jika siswa MTs Negeri Wonosobo menerapkan empat ruh tersebut dalam kehidupan mereka,” tutur Hj. Dr.Ratna Ayu Kartika Wulan, MM.Pd, Kepala MTs N Wonosobo.

Jika pelajar bisa menerapkan terdidik denan sikap kemandirian maka kemungkinan besar ia akan menjadi orang sukses di masa depan. Bukankah kemandirian ini juga telah diajarkan oleh Nabi: “Mukmin yang yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim). Menjadi muslim yang kuat, dengan ilmu dan berakhlakul karimah, tentu bisa membawa kedamaian dan ketertiban.

Ruh pengabdian santri juga mesti melekat pada siswa didik. Folosofi kerja di pesantren adalah mengabdi. Kepatuhan santri kepada Kyai yang luar biasa bisa diterapkan siswa dengan patuh kepada guru dan orang tua.

Ruh jihad santri adalah tekat dan komitmen yang kuat dalam mengarungi samudera penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Pelajar juga mesti memiliki sikap berani berjihad dalam membela Tanah Air.

Terakhir adalah cinta ilmu dan wawasan yang luas, yang juga harus dimiliki oleh siswa Madrasah. Bagaiaman seseorang akan mudah mendapatkan ilmu jika ia tidak mencintainya? Agama Islam sendiri sudah banyak mengajarkan tentang pentingnya mencari dan mencintai ilmu.

“Kemajuan sebuah bangsa bukan ditentukan oleh kekayaan materi, tetapi kekayaan intelektual yang lebih berharga,” kata Ibu Ratna. Ya, lihatlah Bangsa-bangsa yang maju, Eropa, misalnya. Eropa adalah bangsa yang miskin sumber daya alam, tetapi dapat menjadi bangsa yang kuat karena ilmu yang mereka kuasai. Sementara Indonesia? Kaya dengan sumber daya alam, tetapi masih tetap dalam cengkeraman utang, karena sumber daya manusia yang kurang. “Disinilah peran generasi muda, pelajar khususnya. Mari kita majukan bangsa ini dengan ilmu,” lanjutnya.

Peran Santri dan Kyai dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Presiden RI Joko Widodo telah memaparkan besarnya peran santri bagi bangsa. Para tokoh-tokoh besar yang punya andil itulah yang membuat pemerintah menilai hari santri penting ditetapkan. Tokoh-tokoh yang telah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti K.H. Hasyim As’yari dari Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (Peta) yang berasal dari kalangan santri.

Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa hari santri 22 Oktober penting ditetapkan:
  • Para santri sudah menyerahkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.
  • Penetapan hari santri nasional dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara.
  • Dengan mewarisi semangat itulah, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren (termasuk di madrasah) dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan. Dengan mewarisi semangat itu, para santri juga akan ingat memperjuangkan kesejahteraan, memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan ilmu pengetahuan/teknologi demi kemajuan bangsa.
Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Jusuf AN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangan saya gemetar saat menulis surat ini, Yai. Takdzim saya kepada Yai tak berkurang sedikit pun, doa dan keberkahan Yai semoga tercurah untuk saya dan keluarga.

Maaf, Yai. Saya santri Yai, begitulah seharusnya saya memosisikan diri. Seorang santri selamanya akan tetap sebagai santri meskipun sudah tidak tinggal di pesantren lagi.

Begini, Yai. Hem, mungkin baiknya saya awali dengan cerita. Saya masih terkenang saat di pesantren dulu: Suatu malam, puluhan santri berkumpul di Masjid. Kali itu bukan untuk ngaji bandongan atau sorogan, tetapi untuk membaca, mendengar, dan mendendangkan atsar (prosa) dan nadzam (puisi) dari kitab terkemuka. Seseorang membaca atsar, saya dan yang lain mendengarkan, sesekali menyela, “Allah” atau “Ya Rasulallah”. Lalu crak..dung...crak dung-dung! Rebana membahana. Dipimpin seseorang, semua ikut mendendangkan nadzam. Beberapa tampak khusuk, tak jarang pula yang mengantuk sambil garuk-garuk, termasuk saya, barangkali syaithon berkitar-kitar di atas kepala, atau lantaran bosan, tak paham apa yang didengar dan dinyanyikan.

Tanpa harus menyebutkan kitab apa yang kami baca, tentu Yai sudah sangat mengetahuinya. Apa lagi kalau bukan kitab karangan Syekh Ja’far Al-Barzanji berjudul asli ‘Iqdul Jawahir (Untaian Mutiara). Pemandangan seperti itu sebenarnya tak hanya ditemui pondok pesantren, Yai. Tetapi juga di kampung-kampung, bergilir dari rumah ke rumah, setiap malam selama Rabi’ul Awal, juga dalam acara muputi (tradisi potong rambut dan memberi nama bayi).

Yai tentu sepakat, kitab yang kini lebih dikenal dengan nama marga pengarangnya (Al-Barzanji) itu memang dahsyat. Mungkin juga menjadi salah satu kitab setelah Al-Qur’an yang paling sering dibaca secara berulang, melebihi Manakib-nya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau ungkapan-ungkapan sufistik dalam Al-Hikam karya Ibn Atha’illah yang sangat sastrawi.

Maksud saya begini, Yai. Fenomena tersebut membuat kita percaya bahwa tradisi sastra di pesantren sudah berjalan demikian lama. Pada perkembangannya, pendokumentasian karya sastra hasil kreasi para santri dan kyai dalam bentuk cetak juga dilakukan, bahkan kini merambah ke bentuk audio-visual. Yai sendiri sudah pula menggubah syi’ir-syi’ir dan senang bercerita di atas mimbar. Tapi adakah Yai pernah mendengar istilah ini: “Sastra Pesantren?”

Iya, Yai. Sastra Pesantren! Istilah itu baru saya tahu setelah bertahun-tahun tidak tinggal di pesantren lagi. Pada awal millinium ke-3, istilah tersebut bahkan menjadi perbincangan di berbagai media.

Saya percaya, Yai tidak kaget. Sebab toh Yai pernah cerita jika dulu Tasawuf yang praktiknya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., sebagai sebuah istilah baru dikenal abad ke-3 H. Sastra pesantren juga begitu ‘kan? Tradisi sastra di pesantren sudah ada bersamaan dengan adanya komunitas pesantren itu sendiri, meski istilah sastra pesantren belum lama muncul.

Oh ya, Yai. Sebelum jauh membincang sastra pesantren, demi kesatuan pandangan, sebaiknya kita sepakati dulu maksud istilah itu. Sastra pesantren dalam surat ini mengandung maksud sebagaimana pernah dikemukan oleh Gus M. Faizi, putra Pengasuh Pesantren Guluk-Guluk, Madura. Gus M. Faizi pernah membuat tulisan panjang berjudul Silsilah Intelektualisme dan Sastra di Pesantren, (Sebuah Perambahan Atas Tradisi Pesantren, Sastra, dan Sastra Pesantren), dimuat di Jurnal Ainil ISLAM, dan dipublikasikan ulang di blog pribadinya. Menurut beliau, sastra pesantren adalah karya sastra santri, kiai, dan atau juga yang punya silsilah sosial/intelektual dengan pesantren, bertema hal-ihwal kesantrian dan kepesantrenan dengan membawa semangat kesantrian (religiusitas), baik secara langsung maupun tidak.

Maka, ketika Gus Dur (K.H. Abdurahman Wahid) menempatkan novel Jalan Tak Ada Ujung sebagai sastra religius yang tidak kalah ketimbang Di Bawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA, kita tidak dengan serta merta bisa memasukkan karya tersebut sebagai bagian dari sastra pesantren. Karena Mochtar Lubis bukan kiai, santri, atau pengarang yang punya silsilah sosial/inelektual dengan pesantren.

Barangkali Yai beranggapan bahwa label sastra pesantren tidak penting dan sebaiknya tidak perlu ditempelkan para karya tertentu. Sebab label itu justru akan membuat karya sastra pesantren terkesan ekslusif, dan pada akhirnya tidak menarik simpatik pihak-pihak di luar pesantren. Jika itu yang menjadi pendapat Yai, saya sependapat. Karena yang terpenting dalam sebuah karya adalah substansinya dan bukan labelnya. Atau istilah sastra pesantren biarlah tetap ada, tetapi bukan untuk mengukuhkan label, melainkan untuk menggelorakan kalangan pesantren dalam menghasilkan karya.

Wahai Kyaiku yang bijaksana.

Dulu, sewaktu masih nyantri, saya tidak tahu apa-apa soal sastra, tapi kadang kala menulis puisi juga. Tak hanya saya, banyak teman-teman seangkatan yang juga punya minat dan bakat sastra, dan mereka suka diam-diam membaca buku-buku sastra berbahasa Indonesia. Tetapi lambat laut, bibit-bibit cinta sastra kawan-kawan banyak yang punah, karena memang di pesantren tak ada yang menyemaikannya.

Itulah kenapa saya menulis surat ini, Yai. Sekadar menyoal geliat sastra di pesantren. Jika tradisi sastra di pesantren tidak dibarengi dengan kesadaran dan arah yang jelas, maka ia hanya akan berjalan di tempat. ‘Iqdul Jawahir akan terus dibaca, tetapi spirit perlawanan dan cinta kepada Rasulullah Saw tidak akan benar-benar membekas.

Memang, saya sempat pula ikut ngaji bandongan ‘Iqdul Jawahir. Buku terjemahan kitab tersebut, juga kitab-kitab kuning lain kini juga sudah banyak. Tetapi diskusi, Yai. Saya rasa beda dengan bandongan, sorogan, atau membaca kitab terjemahan.

Sampai di sini sebenarnya Yai sudah paham maksud surat ini. Seandainya saya anak kecil, tentu saya tak perlu basa-basi untuk meminta mainan. Tetapi karena saya santri dan Yai adalah panutan saya, terlebih yang saya ingin sampaikan ini butuh dalil, maka ijinkan saya mengingat masa lampau, para tokoh pendahulu pesantren.

Luar biasa, Yai. Ternyata pesantren memiliki tokoh besar yang dikenal sebagai pelopor sastra Melayu. Pastilah Yai paham siapa yang saya maksud. Atau Yai akan segera ingat setelah membaca sajak ini:

“Sidang Faqir empunya kata,
Tuhanmu Zahir terlalu nyata.
Jika sungguh engkau bermata,
lihatlah dirimu rata-rata”.[1]


Itulah petikan sajak Sidang Ahli Suluk karya Syekh Hamzah Fansuri. Menurut Kyai Zamakhsary Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, Syekh Hamzah Fansuri adalah salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh pusat pendidikan Islam (tradisional) pertama di Barus, Aceh, yang kemudian menjadi cikal-bakal pesantren sekarang ini.

Menderetkan nama-nama Kyai yang punya kesadaran bersastra di sini tentu akan sangat panjang. Sebutlah beberapa saja, seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan putranya K. H Wahid Hasyim yang telah melahirkan banyak puisi berbahasa Arab, K.H Bisri Mustafa dan putranya K.H A.Mustafa Bisri yang juga telah menulis banyak nadzam dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia, dan jangan lupakan juga Kyai Ahmad Qusyairi Siddiq dari Jember yang sudah mengarang kitab Fiqh berjudul Tanwir al-Hija dalam 312 sajak. Itu hanya beberapa saja, Yai. Sekadar menunjukkan bahwa ulama pesantren tidak memandang remeh sastra sebagai media dakwah mereka.

Yai tentu tak heran. Pesantren memang patut dibanggakan dan telah melahirkan banyak ulama besar, yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga kepribadian luhur. Pengetahuan para ulama diperoleh dari kegigihan mereka menimba ilmu dan takdzim mereka terhadap guru, sementara kepribadian dan karakter mereka bisa jadi karena pengaruh bacaan-bacaan yang penuh muatan sastra. Lalu keahlian mereka menuangkan gagasan dalam bentuk syair itu, dari mana mereka mendapatkannya? Kepekaan hati, selain juga kesadaran bahwa syair (sastra) merupakan pilihan yang sudah teruji efektif sebagai media dakwah islamiyah.

Saya percaya, Kyaiku yang sedang membaca surat ini memegang teguh visi pesantren: al-Muhafadhah‘alal qodimis shaleh wal-akhdu bil Jadidil ashlah. Ketika pendidikan untuk kaum perempuan masih tabu, Pesantren Den Anyar, Jombang tahun 1910 menjadi pesantren pertama yang membuka diri untuk santriwati. Itu bukti bahwa pesantren sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tentu Yai juga punya niat untuk menggiatkan sastra di pesantren yang Yai asuh, sebagaimana juga sudah dilakukan di beberapa pesantren lain.

Zaman modern, Yai, bagaimanapun telah membawa manusia pada pola pikir praktis dan tak jarang menempatkan agama sebatas simbol dan ritual. Beragama di era digital ini lebih sering dimaknai hanya benar-salah, sebatas menggugurkan kewajiban, fiqh an sich—demikian istilah populernya. Situasi yang demikian ini membutuhkan penyegaran, juga media yang mampu menggerakan sisi dalam (penghayatan), sastra salah satunya.

Dan kenapa saya memilih mengirimkan surat ini kepada Yai dan bukan kepada Pusat Pembinaan Sastra dan Bahasa? Sebab di pesantren mana pun Kyai adalah sosok teladan sekaligus pengayom. Meski dalam tujuan membangkitkan sastra di pesantren, Kyai bisa saja hanya sebagai pengayom. Tapi Yai tentu ingin menjadi keduanya, uswah sekaligus pengayom, sebagaimana sudah banyak dicontohkan oleh para pendahulu.

Maka, barangkali setelah selesai membaca surat ini, Yai akan tergerak memanggil para pengurus, bermusyawarah dengan mereka tentang bagaimana menumbuhkan bakat dan minat sastra para santri, itu bagus sekali, Yai. Saya percaya dari musyawarah tersebut akan melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mungkin akan diputuskan pentingnya membuat forum diskusi rutin yang khusus menyoal sastra, membentuk tim untuk menerbitkan majalah, mengadakan panggung sastra dalam di Akhirus Sanah, lomba menulis, mengundang sastrawan untuk membakar semangat, mengayakan buku sastra di perpustakan, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, Yai adalah guru saya yang lebih memahami bagaimana kebijakan yang tepat untuk mendorong dan menggiatkan sastra pesantren. Saya tidak tahu apa-apa, dan mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan, 1995, Hal. 121

--------------------
Tulisan ini dimuat dalam buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Kumpulan Essai. Diterbitkan oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. 

Perjalanan Single Origin Kopi Bowongso

diskusi kopi bowongso

Pertama kali dengar orang menyebut “single origin” mungkin kau mengira bahwa itu istilah untuk menyebut jomblo yang masih belum pernah pacaran, belum disentuh, bahkan belum dimodifikasi oleh mantan. Hehe... Kalau disangkutkan dengan kopi, saya mulanya juga mengira single origin adalah kopi yang punya satu rasa. Hahaha... Ngawur semua!

Single origin tidak lain adalah kopi yang berasal dari satu daerah atau tempat, yang sejak panen, roasting, sampai giling tidak dicampur dengan kopi dari daerah yang berbeda. Demikian Mas Eed, salah seorang pejuang Kopi Bowongso memberikan keterangan dalam acara #EduTalk12, (Sabtu, 15/10/16) di Pendopo Wakil Bupati Wonosobo. Acara yang digagas sepasang blogger (Erwin dan Wening) bekerja sama dengan Join Kopi Wonosobo tersebut mendapat apresiasi yang melimpah, terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir (lebih 150 orang). Selain Mas Eed, Pak Harjanto (Pelaku Bisnis Kopi), dan Pak Efendi (Perwakilan dari Dinas Pertanian) juga hadir sebagai pemantik.

Ada banyak hal baru dan menarik saya peroleh, terkait dunia perkopian, mulai dari hulu sampai hilir. Pada tulisan ini, saya coba fokuskan pada lika-liku perjalanan Kopi Bowongso yang dipaparkan oleh Mas Eed.

Order Kopi Bowongso Bisa melalui Bukalapak dan Tokopedia


https://www.bukalapak.com/p/food/minuman/4skhze-jual-kopi-arabika-bowongso-lereng-sumbing-premium

https://www.tokopedia.com/kopirejeki/kopi-arabika-bowongso-wonosobo-lereng-sumbing-1

baca juga: Kopi Bowongso Lereng Sumbing Wonosobo Paling Enak Sedunia

Kopi Bowongso, Perjalanan Meningkatkan Kualitas


Desa Bowongso yang berada di lereng Sumbing ada di ketinggian lebih dari 1200 mdpl. Mayoritas penduduknya adalah petani dengan tembakau sebagai tanaman favorit. Pengolahan lahan yang secara terus menerus tanpa adanya pergantian tanaman membuat Eed gelisah. “Nanti apa yang mau kita tinggalkan unt anak cucu kita?” Kegelisahan yang dirasaan Eed bisa dibenarkan mengingat, lambat laun lahan bisa kehilangan kesuburan. Belum lagi pola tanam dan pengaruh pupuk kimia, jelas memberikan dampak negatif bagi tanah dan lingkungan.

Eed lalu mendatangi dinas Pertanian, dan gayung pun bersambut. Keinginan Eed dan kelompok Tani Bina Sejahtera untuk membudidayakan kopi arabica mendapatkan dukungan dari pemerintah. Didampingi Dinas Pertanian, Kelompok Tani Bina Sejahtera mendapatkan bantuan bibit yang ditanam pada tahun 2010. Bibit-bibit tersebut tidak sepenuhnya menggantikan tembakau, dan memang bukan dimaksudkan untuk itu. Tembakau masih ada, dan kopi ditanam secara tumpang sari, meski saya pernah menjumpai beberapa petak lahan yang semuanya ditanami kopi.

Setelah tiga tahun tumbuh, kopi arabica yang ditanam Kelompok Tani Bina Sejahtera akhirnya menemui masa panen. Eed mengaku belum tahu apa-apa soal kopi, dan kesadaran ini membuatnya terus berlajar, salah satunya dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi “pasca penen” yang diadakan Dinas pertanian.

Baru pada tahun 2015, untuk awal kalinya Eed membawa hasil roasting kopi Bowongso kepada ahlinya. Beliau adalah Pak Harjanto, satu-satunya orang Wonosobo yang punya sertifikat Q Grader, bukti sah lulusan Speciality Coffee Association of America (SCAA’s). Tenang Pak Harjanto, hobby, peran dan bisnis kopina, insyaAllah akan akan saya tulis pada kesempatan lain. Yang perlu saya sampaikan di sini adalah komentar Pak Harjanto setelah mencicipi Kopi Bowongso: "Pertahankan." Artinya Single Origin Bowongso sudah memiliki kualitas yang bagus.

Tentu saja penilaian Pak Harjanto tidak asal-asalan, dan Eed sendiri tidak mudah puas. Trial and error terus dilakukan oleh Eed guna meningkatkan kualitas Kopi Bowongso. Dan ia menyadari bahwa: “Kualitas biasanya berbanding terbalik dengan kuantitas.” Pertanyaannya, seperti apakah kopi yang berkualitas?

Di Jember ada Pusat Penelitian dan Pengujian Kopi dan Kakaa (Puslit Koka). Kopi dengan kualitas baik, minimal nilainya 82. Untuk berjuang mendapatan nilai itu menjadi tantangan tersendiri. Dan Eed paham, kopi berkualitas tidak hanya dipengaruhi oleh mesin roasting, tetapi diawali prosesnya sudah diawali sejak penanaman, pemanenan, dan pengolahan pasca panen.

Bukan hal mudah untuk menyadarkan petani soal proses menghasilkan kopi berkualitas. Dengan kegigihannya, Eed terus mengedukasi anggotanya untuk, “Wajib petik merah”: bukan under ripe (belum matang) atau over ripe (terlampau matang), tapi sempurna. Lalu setelah panen, jangan menunda proses. Tidak lebih dari 8 jam kopi yang baru dipetik harus segera diproses sebelum terjadi fermentasi alami yang dapat merusak citarasa kopi.

Lalu soal roasing. Kelompok Tani Bina Sejahtera sendiri kini sudah menggunakan mesin Roasting Custom produk dalam negeri, Agrowindow. Dengan mesin tersebut, langkah Kopi Bowongso semakin mantap sehingga pada uji cita rasa kopi bulan Agustus 2016 yang lalu, Kopi Arabica Bowongso masuk dalam 11 besar kopi dengan cita rasa terbaik se-Indonesia.

tentang kopi Bowongso yang lain, anda juga bisa baca-baca di web kopi spesial dot com.