Kumpulan Soal UKG TK, PAUD, SMP, SMA, SMK 2016

Soal UKG - Andai UKG dilaksanakan setiap tahun apa yang akan terjadi? Ada banyak kemungkinan, tetapi yang paling menggembirakan adalah pengunjung blog ini bisa jadi akan tetap bertahan di kisaran 2500 visitor perhari. Selama sekian tahun ngeblog baru kali ini blog Tintaguru mendapatkan pengunjung di atas 2000 perhari. Tapi tolong, jangan bandingkan dengan blog-blog lain yang pengunjungnya jauh lebih membludak ketimbang blog ini. Itu semua berkat UKG, anda tahu itu.

Bahkan ada blog/web yang sengaja memang disiapkan secara khusus dan matang untuk menampung para pemburu berita dan mungkin juga bocoran soal terkait Uji Kompetensi Guru 2015. Luar biasa. Saya menebak, pengunjung web SOAL UKG Online atau UKG 2016 dot com atau dan lain-lain yang sejenis, pengunjungnya bisa tembus 100 ribu perhari. Anda boleh tidak percaya itu, terserah. Tapi kenyataan bahwa banyak guru yang kaget dengan UKG dan tidak ingin mendapat nilai buruk tidak bisa ditolak.

Baca juga: Kisi-kisi dan Contoh Soal UKG Online 2016
UKG 2016


Ini adalah pengalaman berharga bagi saya, makanya saya menuliskannya di sini. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu benar apa itu UKG, ikut saja nggak kok. Guru-guru agama dan juga guru madrasah tidak ada yang ikut UKG, mungkin tahun depan. Jadi kalau saya menulis soal UKG 2015 sekadar meramaikan saja keyword yang sedang naik daun, selain tentu mengeluarkan uneg-uneg yang tidak penting blass.

Persaingan keyword UKG 2016 sendiri sesungguhnya amatlah berat, tetapi bukan berarti tidak ada pengunjung nyasar di blog yang baru dibuat sekalipun. Anggaplah keyword tujuan UKG, atau Hasil UKG, tintaguru berhasil nangkring di page one google, meski hanya dengan teknik SEO kampungan ala guru gaptek.

Download Soal UKG TK, PAUT, SMP, SMA/SMK Terlengkap

Berikut adalah beberapa link penting terkait kumpulan soal UKG PAUT/TK, SD, SMP, SMA/SMK semua mata pelajaran, termasuk Soal UKG Kepala Sekolah dan UKG Kometensi Pedagogik. Anda tidak bisa langsung menyimak dan membacanya, dan jika ingin download juga bisa. 

SOAL Lengkap UKG SD, SMP, SMA, SMK dan Kunci Jawabannya
Kumpulan Soal UKG SMA Semua Mapel, Baca/Download
Kumpulan Soal UKG SMP Terlengkap, Siap Baca dan Download
Soal UKG SD Kelas RendahKumpulan Terlengkap Soal UKG 2016 SD, Guru Kelas, TK, Paud
Lihat Prediksi Soal UKG Kepala Sekolah 2016

SOAL UKG 2016

ukg online 2015

Meski tidak ikut ukg 2016 tapi saya beruntung karena kemarin hari selasa ikut mengantarkan Ibu saya yang guru TK mengikuti UKG online. Berdasarkan pengalaman mengikuti UKG Ibu saya yang usianya di atas 50 tahun menganggap soal-soalnya tidak terlalu sulit kok. Tapi memang ada banyak guru yang ujian berasama Ibu yang tidak lulus, tapi Alhamdulillah, beliau bisa mendapat nilai di atas 70. Nanti anda juga akan tahu sendiri, merasakan test dengan bantun komputer. jadi nanti, Nilai hasil UKG akan langsung keluar setelah anda selesai mengerjakan. Yang penting adalah tenang, ora usah kesusu.

Hem...mungkin saya sudah sangat terlambat membuat postingan ini. Ah, tidak, saya cukup yakin, postingan ini akan dilihat oleh lebih dari 1000 pengunjung, bahkan lebih. 

demikian. pengunjung membaca tulisan ini mungkin dengan keyword berikut:
soal ukg sd 2016 kelas rendah, soal ukg kelas rendah, soal ukg smp, free download contoh soal ukg 2016 bahasa indonesia smp, contoh soal ukg bahasa inggris smp dan kunci jawaban, soal ukg kelas tinggi 2016 pdf, soal dan kunci ukg sosiologi 2016 , download soal n kunci ukg bahasa indonesia sma, soal ukg online guru kelas atas 2016 , soal pkn ukg 2016 sd tkt rendah, soal ukg kelas bawah untuk tgl 16, download soal ukg guru smp seni musik, soal ukg matematika, contoh soal pajak akuntansi ukg 2016 , spal uk. kegiatan pembelajaran mengenal budaya, soal ukg 2016 dan kunci jawaban, soal ukg sd 2016 seni budaya sd pdf, download ukg sosiologi 2016 , contoh soal ukg pedagogik seni musik smp onlineseni, contoh soal ukg penjaskes sma dan kunci jawaban, download rpp ipasmp gratis, seni rupa soal dan pembahasan ukg 2016 , contoh soal ukg b.inggris smp dan jawaban, ukg 2013 soal 100, latihan soal ukg sosiologi sma, dan lain-lain perihal ukg.

SIAP UKG 2016 


Kata kunci:

soal ukg dan kunci jawaban sd 2016
soal ukg ekonomi sma 2016 dan kunci jawaban
soal ukg ekonomi 2016 dan kunci jawaban
soal ukg fisika sma 2016 dan kunci jawaban
soal ukg ipa smp 2016 dan pembahasannya
soal ukg jenjang sd 2016 dengan tampilan resmi
soal ukg kepala sekolah sd dan kunci jawaban
contoh soal ukg nautika kapal penangkap ikan

soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban

soal ukg tk 2016 dan kunci jawaban
soal ukg untuk guru sd tahun 2016
soal ukg untuk guru sd kelas atas
soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban
soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban pdf
contoh soal ukg sd beserta kunci jawaban
contoh soal ukg sd beserta kunci jawabannya
soal ukg sd 2016 beserta kunci jawaban
contoh soal ukg sd dan kunci jawaban
contoh soal ukg sd 2016 dan kunci jawaban
soal ukg sd dan kunci jawabannya 2016
soal ukg sd dan kunci jawaban 2016
soal ukg sd dan kunci jawaban pdf
soal ukg sd dan kunci jawaban 2016
free download contoh soal ukg sd 2016
free download contoh soal ukg sd 2016
free download prediksi soal ukg sd 2016
free download latihan soal ukg sd 2016
soal ukg sd guru kelas tinggi 2016
soal ukg sd guru kelas tahun 2016

soal ukg sd kelas rendah tahun 2016 

soal ukg sd kelas 4 5 6
soal ukk sd kelas 1 2 3
latihan soal ukg sd dan kunci jawaban
soal ukg sd online 2016 dan kunci jawaban
tampilan resmi latihan soal ukg sd online
soal ukg sd sesuai kisi kisi 2016
soal ukg sd tahun 2016 dan kunci jawabannya
soal ukg sd tahun 2016 kelas rendah
soal ukg sd tahun 2016 dan kunci jawaban
Menghidupkan Ruh Santri di Madrasah

Menghidupkan Ruh Santri di Madrasah

Semangat Membela Islam dan Tanah Air
Laporan utama Majalah Prestasi MTs N Wonosobo

Siapakah santri? Jika kita berpikir sempit maka kita akan mengartikan santri sebagai orang yang belajar ilmu keagamaan di pondok pesantren. Padahal, definisi santri tidak sebatas itu. Orang Islam, lebih-lebih pelajar, yang punya semangat membela Islam dan Tanah Air, itulah santri.

Santri sendiri memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karenanya tidak heran kemudian Presiden Joko Widodo mengeluarkan KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Penetapan Tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Melalui Keppres tersebut dapat mengukuhkan kembali pentingnya peran santri dalam membangun bangsa.

Selama ini memang kiprak santri dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan kurang diketahui masyarakat umum. Meski sebenarnya sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia telah mencatatnya dalam berbagai buku. Karenanya, rekaman sejarah tentang peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia perlu diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Santri itu punya ciri khas, yang mestinya juga bisa diteladani para pelajar Madarah,” ujar Achmad Zudin, S.Ag ketika ditemui Majalah Prestasi. Lebih lanjut Achmad Zudin mengungkapkan bahwa salah satu ciri khas santri adalah penampilan dan sikap sederhana. Bangun pagi lebih cepat dan pantang menyerah menimba ilmu telah menjadi kebiasaan santri, seakan mereka sadar akan getirnya perjuangan melawan kebodohan.

“Lebih dari itu, santri juga memiliki semagat pengabdian yang luar biasa,” ungkapya.

Ruh Santri

Setidaknya santri memiliki empat ruh yang dapat menjadi potensi negara untuk memajukan bangsa ini. Pertama, santri terdidik dengan sikap kemandirian. Kedua, santri meliliki sifat pengabdian. Ketiga, ruh jihad. Keempat, cinta ilmu dan wawasan yang luas.

“Alangkah hebatnya jika siswa MTs Negeri Wonosobo menerapkan empat ruh tersebut dalam kehidupan mereka,” tutur Hj. Dr.Ratna Ayu Kartika Wulan, MM.Pd, Kepala MTs N Wonosobo.

Jika pelajar bisa menerapkan terdidik denan sikap kemandirian maka kemungkinan besar ia akan menjadi orang sukses di masa depan. Bukankah kemandirian ini juga telah diajarkan oleh Nabi: “Mukmin yang yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim). Menjadi muslim yang kuat, dengan ilmu dan berakhlakul karimah, tentu bisa membawa kedamaian dan ketertiban.

Ruh pengabdian santri juga mesti melekat pada siswa didik. Folosofi kerja di pesantren adalah mengabdi. Kepatuhan santri kepada Kyai yang luar biasa bisa diterapkan siswa dengan patuh kepada guru dan orang tua.

Ruh jihad santri adalah tekat dan komitmen yang kuat dalam mengarungi samudera penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Pelajar juga mesti memiliki sikap berani berjihad dalam membela Tanah Air.

Terakhir adalah cinta ilmu dan wawasan yang luas, yang juga harus dimiliki oleh siswa Madrasah. Bagaiaman seseorang akan mudah mendapatkan ilmu jika ia tidak mencintainya? Agama Islam sendiri sudah banyak mengajarkan tentang pentingnya mencari dan mencintai ilmu.

“Kemajuan sebuah bangsa bukan ditentukan oleh kekayaan materi, tetapi kekayaan intelektual yang lebih berharga,” kata Ibu Ratna. Ya, lihatlah Bangsa-bangsa yang maju, Eropa, misalnya. Eropa adalah bangsa yang miskin sumber daya alam, tetapi dapat menjadi bangsa yang kuat karena ilmu yang mereka kuasai. Sementara Indonesia? Kaya dengan sumber daya alam, tetapi masih tetap dalam cengkeraman utang, karena sumber daya manusia yang kurang. “Disinilah peran generasi muda, pelajar khususnya. Mari kita majukan bangsa ini dengan ilmu,” lanjutnya.

Peran Santri dan Kyai dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Presiden RI Joko Widodo telah memaparkan besarnya peran santri bagi bangsa. Para tokoh-tokoh besar yang punya andil itulah yang membuat pemerintah menilai hari santri penting ditetapkan. Tokoh-tokoh yang telah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti K.H. Hasyim As’yari dari Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (Peta) yang berasal dari kalangan santri.

Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa hari santri 22 Oktober penting ditetapkan:
  • Para santri sudah menyerahkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.
  • Penetapan hari santri nasional dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara.
  • Dengan mewarisi semangat itulah, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren (termasuk di madrasah) dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan. Dengan mewarisi semangat itu, para santri juga akan ingat memperjuangkan kesejahteraan, memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan ilmu pengetahuan/teknologi demi kemajuan bangsa.
Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Jusuf AN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangan saya gemetar saat menulis surat ini, Yai. Takdzim saya kepada Yai tak berkurang sedikit pun, doa dan keberkahan Yai semoga tercurah untuk saya dan keluarga.

Maaf, Yai. Saya santri Yai, begitulah seharusnya saya memosisikan diri. Seorang santri selamanya akan tetap sebagai santri meskipun sudah tidak tinggal di pesantren lagi.

Begini, Yai. Hem, mungkin baiknya saya awali dengan cerita. Saya masih terkenang saat di pesantren dulu: Suatu malam, puluhan santri berkumpul di Masjid. Kali itu bukan untuk ngaji bandongan atau sorogan, tetapi untuk membaca, mendengar, dan mendendangkan atsar (prosa) dan nadzam (puisi) dari kitab terkemuka. Seseorang membaca atsar, saya dan yang lain mendengarkan, sesekali menyela, “Allah” atau “Ya Rasulallah”. Lalu crak..dung...crak dung-dung! Rebana membahana. Dipimpin seseorang, semua ikut mendendangkan nadzam. Beberapa tampak khusuk, tak jarang pula yang mengantuk sambil garuk-garuk, termasuk saya, barangkali syaithon berkitar-kitar di atas kepala, atau lantaran bosan, tak paham apa yang didengar dan dinyanyikan.

Tanpa harus menyebutkan kitab apa yang kami baca, tentu Yai sudah sangat mengetahuinya. Apa lagi kalau bukan kitab karangan Syekh Ja’far Al-Barzanji berjudul asli ‘Iqdul Jawahir (Untaian Mutiara). Pemandangan seperti itu sebenarnya tak hanya ditemui pondok pesantren, Yai. Tetapi juga di kampung-kampung, bergilir dari rumah ke rumah, setiap malam selama Rabi’ul Awal, juga dalam acara muputi (tradisi potong rambut dan memberi nama bayi).

Yai tentu sepakat, kitab yang kini lebih dikenal dengan nama marga pengarangnya (Al-Barzanji) itu memang dahsyat. Mungkin juga menjadi salah satu kitab setelah Al-Qur’an yang paling sering dibaca secara berulang, melebihi Manakib-nya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau ungkapan-ungkapan sufistik dalam Al-Hikam karya Ibn Atha’illah yang sangat sastrawi.

Maksud saya begini, Yai. Fenomena tersebut membuat kita percaya bahwa tradisi sastra di pesantren sudah berjalan demikian lama. Pada perkembangannya, pendokumentasian karya sastra hasil kreasi para santri dan kyai dalam bentuk cetak juga dilakukan, bahkan kini merambah ke bentuk audio-visual. Yai sendiri sudah pula menggubah syi’ir-syi’ir dan senang bercerita di atas mimbar. Tapi adakah Yai pernah mendengar istilah ini: “Sastra Pesantren?”

Iya, Yai. Sastra Pesantren! Istilah itu baru saya tahu setelah bertahun-tahun tidak tinggal di pesantren lagi. Pada awal millinium ke-3, istilah tersebut bahkan menjadi perbincangan di berbagai media.

Saya percaya, Yai tidak kaget. Sebab toh Yai pernah cerita jika dulu Tasawuf yang praktiknya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., sebagai sebuah istilah baru dikenal abad ke-3 H. Sastra pesantren juga begitu ‘kan? Tradisi sastra di pesantren sudah ada bersamaan dengan adanya komunitas pesantren itu sendiri, meski istilah sastra pesantren belum lama muncul.

Oh ya, Yai. Sebelum jauh membincang sastra pesantren, demi kesatuan pandangan, sebaiknya kita sepakati dulu maksud istilah itu. Sastra pesantren dalam surat ini mengandung maksud sebagaimana pernah dikemukan oleh Gus M. Faizi, putra Pengasuh Pesantren Guluk-Guluk, Madura. Gus M. Faizi pernah membuat tulisan panjang berjudul Silsilah Intelektualisme dan Sastra di Pesantren, (Sebuah Perambahan Atas Tradisi Pesantren, Sastra, dan Sastra Pesantren), dimuat di Jurnal Ainil ISLAM, dan dipublikasikan ulang di blog pribadinya. Menurut beliau, sastra pesantren adalah karya sastra santri, kiai, dan atau juga yang punya silsilah sosial/intelektual dengan pesantren, bertema hal-ihwal kesantrian dan kepesantrenan dengan membawa semangat kesantrian (religiusitas), baik secara langsung maupun tidak.

Maka, ketika Gus Dur (K.H. Abdurahman Wahid) menempatkan novel Jalan Tak Ada Ujung sebagai sastra religius yang tidak kalah ketimbang Di Bawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA, kita tidak dengan serta merta bisa memasukkan karya tersebut sebagai bagian dari sastra pesantren. Karena Mochtar Lubis bukan kiai, santri, atau pengarang yang punya silsilah sosial/inelektual dengan pesantren.

Barangkali Yai beranggapan bahwa label sastra pesantren tidak penting dan sebaiknya tidak perlu ditempelkan para karya tertentu. Sebab label itu justru akan membuat karya sastra pesantren terkesan ekslusif, dan pada akhirnya tidak menarik simpatik pihak-pihak di luar pesantren. Jika itu yang menjadi pendapat Yai, saya sependapat. Karena yang terpenting dalam sebuah karya adalah substansinya dan bukan labelnya. Atau istilah sastra pesantren biarlah tetap ada, tetapi bukan untuk mengukuhkan label, melainkan untuk menggelorakan kalangan pesantren dalam menghasilkan karya.

Wahai Kyaiku yang bijaksana.

Dulu, sewaktu masih nyantri, saya tidak tahu apa-apa soal sastra, tapi kadang kala menulis puisi juga. Tak hanya saya, banyak teman-teman seangkatan yang juga punya minat dan bakat sastra, dan mereka suka diam-diam membaca buku-buku sastra berbahasa Indonesia. Tetapi lambat laut, bibit-bibit cinta sastra kawan-kawan banyak yang punah, karena memang di pesantren tak ada yang menyemaikannya.

Itulah kenapa saya menulis surat ini, Yai. Sekadar menyoal geliat sastra di pesantren. Jika tradisi sastra di pesantren tidak dibarengi dengan kesadaran dan arah yang jelas, maka ia hanya akan berjalan di tempat. ‘Iqdul Jawahir akan terus dibaca, tetapi spirit perlawanan dan cinta kepada Rasulullah Saw tidak akan benar-benar membekas.

Memang, saya sempat pula ikut ngaji bandongan ‘Iqdul Jawahir. Buku terjemahan kitab tersebut, juga kitab-kitab kuning lain kini juga sudah banyak. Tetapi diskusi, Yai. Saya rasa beda dengan bandongan, sorogan, atau membaca kitab terjemahan.

Sampai di sini sebenarnya Yai sudah paham maksud surat ini. Seandainya saya anak kecil, tentu saya tak perlu basa-basi untuk meminta mainan. Tetapi karena saya santri dan Yai adalah panutan saya, terlebih yang saya ingin sampaikan ini butuh dalil, maka ijinkan saya mengingat masa lampau, para tokoh pendahulu pesantren.

Luar biasa, Yai. Ternyata pesantren memiliki tokoh besar yang dikenal sebagai pelopor sastra Melayu. Pastilah Yai paham siapa yang saya maksud. Atau Yai akan segera ingat setelah membaca sajak ini:

“Sidang Faqir empunya kata,
Tuhanmu Zahir terlalu nyata.
Jika sungguh engkau bermata,
lihatlah dirimu rata-rata”.[1]


Itulah petikan sajak Sidang Ahli Suluk karya Syekh Hamzah Fansuri. Menurut Kyai Zamakhsary Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, Syekh Hamzah Fansuri adalah salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh pusat pendidikan Islam (tradisional) pertama di Barus, Aceh, yang kemudian menjadi cikal-bakal pesantren sekarang ini.

Menderetkan nama-nama Kyai yang punya kesadaran bersastra di sini tentu akan sangat panjang. Sebutlah beberapa saja, seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan putranya K. H Wahid Hasyim yang telah melahirkan banyak puisi berbahasa Arab, K.H Bisri Mustafa dan putranya K.H A.Mustafa Bisri yang juga telah menulis banyak nadzam dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia, dan jangan lupakan juga Kyai Ahmad Qusyairi Siddiq dari Jember yang sudah mengarang kitab Fiqh berjudul Tanwir al-Hija dalam 312 sajak. Itu hanya beberapa saja, Yai. Sekadar menunjukkan bahwa ulama pesantren tidak memandang remeh sastra sebagai media dakwah mereka.

Yai tentu tak heran. Pesantren memang patut dibanggakan dan telah melahirkan banyak ulama besar, yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga kepribadian luhur. Pengetahuan para ulama diperoleh dari kegigihan mereka menimba ilmu dan takdzim mereka terhadap guru, sementara kepribadian dan karakter mereka bisa jadi karena pengaruh bacaan-bacaan yang penuh muatan sastra. Lalu keahlian mereka menuangkan gagasan dalam bentuk syair itu, dari mana mereka mendapatkannya? Kepekaan hati, selain juga kesadaran bahwa syair (sastra) merupakan pilihan yang sudah teruji efektif sebagai media dakwah islamiyah.

Saya percaya, Kyaiku yang sedang membaca surat ini memegang teguh visi pesantren: al-Muhafadhah‘alal qodimis shaleh wal-akhdu bil Jadidil ashlah. Ketika pendidikan untuk kaum perempuan masih tabu, Pesantren Den Anyar, Jombang tahun 1910 menjadi pesantren pertama yang membuka diri untuk santriwati. Itu bukti bahwa pesantren sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tentu Yai juga punya niat untuk menggiatkan sastra di pesantren yang Yai asuh, sebagaimana juga sudah dilakukan di beberapa pesantren lain.

Zaman modern, Yai, bagaimanapun telah membawa manusia pada pola pikir praktis dan tak jarang menempatkan agama sebatas simbol dan ritual. Beragama di era digital ini lebih sering dimaknai hanya benar-salah, sebatas menggugurkan kewajiban, fiqh an sich—demikian istilah populernya. Situasi yang demikian ini membutuhkan penyegaran, juga media yang mampu menggerakan sisi dalam (penghayatan), sastra salah satunya.

Dan kenapa saya memilih mengirimkan surat ini kepada Yai dan bukan kepada Pusat Pembinaan Sastra dan Bahasa? Sebab di pesantren mana pun Kyai adalah sosok teladan sekaligus pengayom. Meski dalam tujuan membangkitkan sastra di pesantren, Kyai bisa saja hanya sebagai pengayom. Tapi Yai tentu ingin menjadi keduanya, uswah sekaligus pengayom, sebagaimana sudah banyak dicontohkan oleh para pendahulu.

Maka, barangkali setelah selesai membaca surat ini, Yai akan tergerak memanggil para pengurus, bermusyawarah dengan mereka tentang bagaimana menumbuhkan bakat dan minat sastra para santri, itu bagus sekali, Yai. Saya percaya dari musyawarah tersebut akan melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mungkin akan diputuskan pentingnya membuat forum diskusi rutin yang khusus menyoal sastra, membentuk tim untuk menerbitkan majalah, mengadakan panggung sastra dalam di Akhirus Sanah, lomba menulis, mengundang sastrawan untuk membakar semangat, mengayakan buku sastra di perpustakan, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, Yai adalah guru saya yang lebih memahami bagaimana kebijakan yang tepat untuk mendorong dan menggiatkan sastra pesantren. Saya tidak tahu apa-apa, dan mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan, 1995, Hal. 121

--------------------
Tulisan ini dimuat dalam buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Kumpulan Essai. Diterbitkan oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. 

Perjalanan Single Origin Kopi Bowongso

diskusi kopi bowongso

Pertama kali dengar orang menyebut “single origin” mungkin kau mengira bahwa itu istilah untuk menyebut jomblo yang masih belum pernah pacaran, belum disentuh, bahkan belum dimodifikasi oleh mantan. Hehe... Kalau disangkutkan dengan kopi, saya mulanya juga mengira single origin adalah kopi yang punya satu rasa. Hahaha... Ngawur semua!

Single origin tidak lain adalah kopi yang berasal dari satu daerah atau tempat, yang sejak panen, roasting, sampai giling tidak dicampur dengan kopi dari daerah yang berbeda. Demikian Mas Eed, salah seorang pejuang Kopi Bowongso memberikan keterangan dalam acara #EduTalk12, (Sabtu, 15/10/16) di Pendopo Wakil Bupati Wonosobo. Acara yang digagas sepasang blogger (Erwin dan Wening) bekerja sama dengan Join Kopi Wonosobo tersebut mendapat apresiasi yang melimpah, terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir (lebih 150 orang). Selain Mas Eed, Pak Harjanto (Pelaku Bisnis Kopi), dan Pak Efendi (Perwakilan dari Dinas Pertanian) juga hadir sebagai pemantik.

Ada banyak hal baru dan menarik saya peroleh, terkait dunia perkopian, mulai dari hulu sampai hilir. Pada tulisan ini, saya coba fokuskan pada lika-liku perjalanan Kopi Bowongso yang dipaparkan oleh Mas Eed.

baca juga: Kopi Bowongso Lereng Sumbing Wonosobo Paling Enak Sedunia

Kopi Bowongso, Perjalanan Meningkatkan Kualitas


Desa Bowongso yang berada di lereng Sumbing ada di ketinggian lebih dari 1200 mdpl. Mayoritas penduduknya adalah petani dengan tembakau sebagai tanaman favorit. Pengolahan lahan yang secara terus menerus tanpa adanya pergantian tanaman membuat Eed gelisah. “Nanti apa yang mau kita tinggalkan unt anak cucu kita?” Kegelisahan yang dirasaan Eed bisa dibenarkan mengingat, lambat laun lahan bisa kehilangan kesuburan. Belum lagi pola tanam dan pengaruh pupuk kimia, jelas memberikan dampak negatif bagi tanah dan lingkungan.

Eed lalu mendatangi dinas Pertanian, dan gayung pun bersambut. Keinginan Eed dan kelompok Tani Bina Sejahtera untuk membudidayakan kopi arabica mendapatkan dukungan dari pemerintah. Didampingi Dinas Pertanian, Kelompok Tani Bina Sejahtera mendapatkan bantuan bibit yang ditanam pada tahun 2010. Bibit-bibit tersebut tidak sepenuhnya menggantikan tembakau, dan memang bukan dimaksudkan untuk itu. Tembakau masih ada, dan kopi ditanam secara tumpang sari, meski saya pernah menjumpai beberapa petak lahan yang semuanya ditanami kopi.

Setelah tiga tahun tumbuh, kopi arabica yang ditanam Kelompok Tani Bina Sejahtera akhirnya menemui masa panen. Eed mengaku belum tahu apa-apa soal kopi, dan kesadaran ini membuatnya terus berlajar, salah satunya dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi “pasca penen” yang diadakan Dinas pertanian.

Baru pada tahun 2015, untuk awal kalinya Eed membawa hasil roasting kopi Bowongso kepada ahlinya. Beliau adalah Pak Harjanto, satu-satunya orang Wonosobo yang punya sertifikat Q Grader, bukti sah lulusan Speciality Coffee Association of America (SCAA’s). Tenang Pak Harjanto, hobby, peran dan bisnis kopina, insyaAllah akan akan saya tulis pada kesempatan lain. Yang perlu saya sampaikan di sini adalah komentar Pak Harjanto setelah mencicipi Kopi Bowongso: "Pertahankan." Artinya Single Origin Bowongso sudah memiliki kualitas yang bagus.

Tentu saja penilaian Pak Harjanto tidak asal-asalan, dan Eed sendiri tidak mudah puas. Trial and error terus dilakukan oleh Eed guna meningkatkan kualitas Kopi Bowongso. Dan ia menyadari bahwa: “Kualitas biasanya berbanding terbalik dengan kuantitas.” Pertanyaannya, seperti apakah kopi yang berkualitas?

Di Jember ada Pusat Penelitian dan Pengujian Kopi dan Kakaa (Puslit Koka). Kopi dengan kualitas baik, minimal nilainya 82. Untuk berjuang mendapatan nilai itu menjadi tantangan tersendiri. Dan Eed paham, kopi berkualitas tidak hanya dipengaruhi oleh mesin roasting, tetapi diawali prosesnya sudah diawali sejak penanaman, pemanenan, dan pengolahan pasca panen.

Bukan hal mudah untuk menyadarkan petani soal proses menghasilkan kopi berkualitas. Dengan kegigihannya, Eed terus mengedukasi anggotanya untuk, “Wajib petik merah”: bukan under ripe (belum matang) atau over ripe (terlampau matang), tapi sempurna. Lalu setelah panen, jangan menunda proses. Tidak lebih dari 8 jam kopi yang baru dipetik harus segera diproses sebelum terjadi fermentasi alami yang dapat merusak citarasa kopi.

Lalu soal roasing. Kelompok Tani Bina Sejahtera sendiri kini sudah menggunakan mesin Roasting Custom produk dalam negeri, Agrowindow. Dengan mesin tersebut, langkah Kopi Bowongso semakin mantap sehingga pada uji cita rasa kopi bulan Agustus 2016 yang lalu, Kopi Arabica Bowongso masuk dalam 11 besar kopi dengan cita rasa terbaik se-Indonesia.

Kopi Bowongso Lereng Sumbing Wonosobo Paling Enak Sedunia


kopi luwak bowongso

Pernah dengan kopi Bowongso? Kopi Paling Enak Sedunia, kata Dhimas, teman saya. Memang tidak ada di iklan televisi, belum pula banyak tersiar, di banding misalnya Kopi Gayo atau Kintamani. Tapi sebenarnya, bagi pengamat kopi sungguhan, kopi Bowongso sudah cukup masyhur.

Beberapa kawan, blogger khususnya, pernah menuliskan tentang Kopi Bowongso. Dari posting-posting itulah publik bisa mendapatkan informasi yang cukup detail, yang kemudian membuat penasaran, dan akhirnya tergerak untuk datang langsung ke desa yang terletak di lereng Sumbing tersebut.

Termasuk saya. Mulanya saya ngopi sebatas senang saja, biar lidah tidak pahit dan merokok pun jadi enak, juga tubruk melulu metodenya. Tapi obrolan-obrolan soal kopi yang marak, di tengah bincang buku bersama rekan, di kala menunggu bel masuk kelas, di media sosial, membuat saya tergoda untuk tahu lebih banyak soal kopi. Kedai-kedai juga mulai tumbuh di kota Wonosobo, dan ini begitu menggembirakan bagi orang yang sepakat bahwa nongkrong sambil ngopi bisa memberikan warna tersendiri pada hidup.

Kian memuncak penasaran saya dengan Kopi Bowongso setelah mencoba beberapa kopi hasil roasting Pak Harjanto (pemilik Dee Coffe), lalu Kopi Arabika Temanggung. Adakah kopi wonosobo yang lebih enak dari Pedicof (Pleatu Dieng Coffee) Arabika Single Original? Ada.

Ah, sebentar. Soal enak, kurang enak, atau tidak enak, sebenarnya soal selera saja. Kalau menurut saya kopi Bowongso lebih enak ketimbang pedicof misalnya, itu sah saja, begitu pula jika anda berpendapat sebaliknya.

Berkunjung langsung ke Bowongso, lalu menyeduh Kopi Arabika dan Kopi Luwak liarnya membuat saya percaya bahwa “kenikmatan secangkir kopi tidak dipengaruhi oleh proses penyeduhan, malainkan juga perjuangan untuk mendapatkannya”. Andai saja saya membeli kopi Bowongso di Toko Aneka (Sejauh ini kopi Bowongso tidak dipasarkan di toko oleh-oleh Wonosobo. Soal itu saya jabarkan nanti), mungkin rasa dan perasaan nikmat itu tidak sedalam sore itu.

Sore itu sebenarnya masih siang, tetapi mendung dan hawa dingin pegunungan sempurna mencipta suasana sore. Saya datang bersama Dhimas, si penulis buku Catatan Kopi dan Pejuang Skripsi. Dhimas mengaku sudah sekali datang ke Bowongso, dengan demikian saya tidak perlu lagi buka-buka google map. Perjalanan kami lancar tanpa cela. Kalau terpaksa saya harus turun karena Kharisma Dhimas tak kuat membawa beban dosa tubuh saya yang ringkih, itu justru bagian dari perjuangan yang membuat kami diganjar dengan Kopi Luwak Liar paling enak di dunia. Di surga, apakah ada?

jalan menuju desa bowongso


Ketika kami tiba, kami di sambut hangat di ruangan yang sepertinya sudah disetting seperti warung. Tapi ini rumah. Dan karena momennya masih lebaran, maka kue dan jajan tradisional masih berjajar di meja. Saya yakin, itu tidak untuk dijual.

Yang membuat saya terperangah adalah sebuah mesin yang tampak begitu gagah sedang menderu, operatornya cuma satu, Mas Eed, begitu kami akrab memanggilnya.

Tidak semua orang bisa paham bagaimana roasting kopi yang bagus. Ya, beberapa artikel tentang kopi sudah saya baca, dan saya tidak kaget lagi. Tapi alat itu, gagah betul. Puluhan juta harganya. Kelak, baru saya tahu mesin roasting kopi itu buatan dalam negeri. Kelompok Tani Bina Sejahtera yang mendapatkan alat tersebut dari Dinas Pertanian.

menyeduh kopi bowongso


Ada banyak pelajaran saya dapatkan selama kunjungan mendadak itu. Tentunya, berkait dengan sejarah Kopi Bowongso serta perjuangan Mas Eed dan teman-temannya dalam meningkatkan dan menjaga kualitas kopi. Saya akan tuliskan soal itu secara terpisah.

Tulisan ini adalah bagian pertama dari beberapa catatan seputar kopi Wonosobo

Pengalaman Menggunakan Paytren, Keuntungan, dan Cara Daftar

Pengalaman Menggunakan Paytren - Yusuf Mansur, satu nama yang barangkali banyak kembarannya. Tetapi ketika kita mendengar nama itu yang terbayang adalah sosok tubuh pendek, kurus tapi agak gendut juga, berpeci dan berjambang tipis. Yusuf Mansur ya orang itu, orang yang ke mana-mana bawa-bawa sedekah, bukan cuma sorban.

Tanggapan publik terhadap ustadz satu itu macam-macam. Ada yang menganggap ajaran ustadz kurang pas, karena nyuruh-nyuruh orang sedekah dengan tujuan tertentu, misal sedekah niatnya untuk kekayaan, sedekah niatnya agar penyakitnya sembuh, dan lain-lain. Sedekah ya sedekah, kata yang tak sependapat dengan Yusuf Mansur. Ikhlas. Kalau sedekah niatnya agar dikembalikan oleh Allah berarti tidak ikhlas. Dan ibadah yang tidak ikhlas tidak akan pernah diterima oleh Allah. Itu.

Pengalaman Menggunakan Paytren, Keuntungan, dan Cara Daftar

pengalaman menggunakan paytren

Lalu kubu pembela Yusuf Mansur, atau lebih tepatnya yang setuju dengan cara Yusuf Mansur mengajarkan ilmu bab sedekah. Mereka menyangkal bahwa sedekah yang Yusuf Mansur ajarkan diniatkan untuk mendapat kembalian dari Allah. Masalah Allah akan mengembalikan menjadi 700 kali lipat sesuai dengan janjinya itu hak Allah. Dan yang paling penting 1 sedekah yang akan dilipatgandakan menjadi 700 kebaikan itu tidak melulu berupa uang. Bisa saja berupa kebaikan-kebaikan yang lain, semisal kesehatan, ketentraman, keselamatan, saudara, dan lain sebagainya.

Jadi, soal perbedaan pemahaman cara dakwah Yusuf Mansur biasa saja menurut saya. Kita memang tidak akan benar-benar paham isi kepala dan hati si Ustadz Yusuf Mansur, biasa disingkat UYM. Yang ada hanyalah prasangka. Oh, Yusuf Mansur baik tuh, oh kok gitu Yusuf Mansur, oh saya tidak setuju karena begini, wah, bagus tuh saya setuju. Soal hati siapa benar-benar tahu? Yang ada hanya perspektif.

Tapi, jujur saya cukup salut dengan blio. Otaknya encer dan jiwa optimisnya tumbuh subur. Jika tidak begitu, mustahil blio punya banyak sekali pengikut, bahkan fans. Dan satu lagi, yang membedakan Yusuf Mansur dengan ustadz yang lain, pemikiran progresifnya. Ketika masih banyak ulama yang hanya ceramah soal ibadah, Yusuf Mansur sudah merambah pada penguasaan teknologi sebagai sarana dakwah dan kemajuan ekonomi (bisnis) ummat. Ya, ekonomi Islam memang jarang disentuh oleh ulama salaf, dan jika itu terjadi secara akut maka akan berdampak pada terpuruknya ekonomi masyarakat Islam itu sendiri.

Lini dakwah dan bisnis sekaligus yang kini sedang dipromosikan oleh Yusuf Mansur dan kawan-kawannya adalah Paytren. Nama yang bagus dan menjual ini adalah sebuah aplikasi untuk bayar-bayar, mulai dari beli pulsa, bayar listrik, PDAM, sampai beli tiket pesawat. Jika biasanya masyarakat membeli dan membayar kebutuhan-kebutuhan itu di konter, ATM, Indomart/alfamart, kantor PLN/PDAM, maka aplikasi paytren bisa dijadikan alternatif sarana pembayaran yang efektif dan efisien.

Efetif karena kita tidak perlu naik gojek, atau datang langsung ke penjual. Efisien karena biaya yang dikeluarkan lebih murah. Bahkan pembeli mendapatkan cashback (uang kembalian). Sebagian keuntungan juga digunakan untuk kemajuan ummat islam.

Prospek Paytren


Pakai paytren atau tidak, kita tetap melakukan pembayaran pulsa dan lain-lain itu, demikian yang kerap didengungkan Yusuf Mansur. Sementara paytren, yang di miliki oleh PT.Veritra Sentosa Internasional menawarkan 2 (dua) pilihan/kategori transaksi terhadap semua mitra khusus treni (komunitas treni), yaitu: Sebagai pemakai PayTren, dan sebagai pebisnis.

Pengalaman Ikut Paytren


Saya sendiri belum lama menggunakan aplikasi paytren. Mula-mula ada teman lama yang tinggal di kalimantan inbox, “Sudah ikut paytren?” Saya jawab belum. Dan karena penasaran maka saya googling. Oh, ternyata menarik juga. Maka saya download aplikasinya di google play store. Setelah download, kita tidak serta merta bisa langsng memakai aplikasi tersebut untuk bayar-bayar. Tetapi kita mesti mendaftar dengan cara menuliskan serial licensi. Maka saya tanyakan pada teman saya itu, “Licensinya dong!” Kemudian kami berkomunikasi lewat WA. Saya dibimbing bagaimana cara mendapatkan licensinya:

“Transfer 350 ribu ditambah empat angka kode unik.” Saya transfer, dan begitulah, saya bisa memakai aplikasi paytren.

Apakah paytren termasuk MLM?


Sebenarnya saya tidak begitu paham apa itu MLM (Multy level marketing), tetapi setahu saya MLM memang sudah kadung dianggap miring oleh banyak orang. Paytren mungkin juga tergolong MLM, karena ketika kita bisa menjual aplikasi paytren kepada Paijo, misalnya, kemudian Paijo membeli pulsa dengan aplikasi paytren, kita kecipratan untung. Tidak banyak sih untungnya, tapi kan tetap kecipratan. Namun, jika dalam produk MLM biasa yang dibeli belum tentu produk yang dibutuhkan, dalam paytren yang dibeli adalah aplikasi. Oleh sebab itu, sebelum memutuskan ikut paytren kita tanyakan dulu, apakah kita memang butuh aplikasi tersebut?

Saya, yang setiap bulan mesti beli pulsa listrik, pulsa handphone, bayar PDAM (dan sering sekali telat karena tidak sempat ke kantor PDAM), jelas butuh aplikasi ini. Sebelumnya saya biasa beli pulsa via sms banking, tetapi ternyata biaya admin cukup besar. Maka, saya putuskan ikut ambil bagian bersama teman-teman di komunitas treni, membeli aplikasi paytren. Di sana, kita bisa beli pulsa lebih murah. Tidak sebera sih perbandingannya, tidak sampai 5000 rupiah, tetapi itu akan terus dan terus terjadi sementara keuntungan yang mereka dapat belum jelas untuk apa.

Soal apakah saya bisa menjual licensi paytren atau tidak itu nomor dua. Jadi, saya tidak rugi, sama sekali tidak rugi, dan bahkan punya peluang untung.

Dan tahukah anda, bahwa ketika anda membeli licensi aplikasi paytren sebagian uang anda juga didonasikan untuk kepentingan dakwah, membiayai para santri tahfidz. Terlebih, jika anda sudah download aplikasi tersebut, anda akan tahu bahwa di sana ada menu sedekah harian, menu inspirasi, dan lain sebagainya yang sangat bermanfaat untuk kemajuan pemikiran dan ekonomi umat islam.

Masa Depan Paytren

Sudah ada 100 ribu lebih aplikasi paytren di download di Google Play Store dan akan terus bertambah. Bisnis ini juga akan terus dikembangkan, misalnya dengan membuka jasa pengiriman paket Paytren Ekspres, dan lainnya. Pengguna dan pemakai smartphone juga terus bertambah dan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fitur-fitur canggih smartphone juga meningkat. Saya memprediksi tidak dalam waktu lama paytren akan semakin dikenal dan digunakan oleh banyak orang (ngetren)

Jika anda tertarik untuk ikut paytren silakan download aplikasinya di sini:
Download Aplikasi Paytren

Cara Registrasi Paytren


Atau buka saja google play store search paytren, download. Aplikasinya sangat ringan dan mudah digunakan.

Jika ingin mendapatkan licensi-nya, anda bisa kontak saya: 085230373555 (SMS/WA)

Alternatif ke dua, silakan daftar melalui situs ini.
Klik Gambar


Anda akan diarahkan untuk membuat situs gratis sebagai promosi, jika anda ingin ikut menjual licensi. Jika tidak ikut menjual licensi, dan hanya ingin digunakan sendiri juga tidak masalah. Sekali lagi, kita tidak rugi.

Yang menarik, komunitas paytren punya semboyan: Sukses berjamaah. Setelah mendaftar kita akan dimasukkan dalam group komunitas untuk sharing dan mengeratkan ukhuwah.

kata kunci:

paytren itu apa sih

paytren yusuf mansur 2016
paytren aplikasi untuk pc
paytren bisnis yusuf mansur
paytren bandung pasanggrahan kota bandung jawa barat
paytren digital bapak adnan kota bandung jawa barat
paytren gresik gresik jawa timur

paytren halal atau haram

paytren itu bisnis apa
paytren itu apa ya
paytren login member area
cara login paytren android
paytren mau dibeli amerika
paytren official kota bandung jawa barat
paytren surabaya gunung anyar kota surabaya jawa timur
paytren sama dengan mlm
paytren sidoarjo kecamatan sidoarjo jawa timur
paytren treni yusuf mansur
paytren untuk windows phone
vsi paytren yusuf mansyur
transaksi paytren via web
transaksi paytren via sms
cara transaksi paytren via web
paytren yusuf mansur bermasalah
paytren yusuf mansur bandung jawa barat
paytren ustadz yusuf mansyur
daftar paytren yusuf mansur
cara login paytren di android

Sekadar sharing saja, semoga tulisan ini Pengalaman Menggunakan Paytren, Keuntungan, dan Cara Daftar bermanfaat. Salam ukhuwah (Yusuf Amin)