Catatan Harian Mbeling

Info Lomba

TAGGED UNDER: ,

Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian

Cerpen Jusuf AN

Aneh sekali. Aku datang ke rumahmu untuk ikut mengungkapkan bela sungkawa, tetapi yang aku lihat adalah wajah-wajah cerah, senyum-senyum lebar, juga suara tawa yang sesekali nyaring terdengar. Apa dosamu, Va? Kenapa mereka justru seakan terlihat bahagia karena kehilanganmu selama-lamanya.

“Kalau aku mati, apakah kau akan menangis?” Itu adalah pertanyaan yang kau kirimkan lewat pesan singkat, tepat sebulan yang lalu sebelum kau benar-benar mati.

Aku yang waktu itu tengah berada di sebuah kafe yang riuh oleh suara musik, membiarkan saja pesanmu. Lalu tengah malam, setelah seseorang mengantarkanku pulang ke kamar kosku kembali aku mengulang membaca pesanmu.

“Bahkan, pertanyaanmu ini telah membuatku menangis, Va. Tak perlulah membahas soal kematian lagi. Kita masih sangat muda,” jawabku.

Aku tahu kau belum tidur, dan beberapa saat kemudian kau cepat membalas pesanku: “Bukankah kematian adalah sesuatu yang wajar. Setiap hari ada orang mati. Kadang ribuan orang mati dalam waktu bersamaan. Sangat biasa, bukan? Apa yang pantas untuk ditangisi dari sesuatu yang sebenarnya sangat wajar dan biasa, Mei?!”

“Tidak, Va. Aku takut!”

“Ketakutan akan mati itulah yang membuat kita bertahan hidup.”

Aku tidak membalas pesan singkatmu lagi. Tetapi bukan tidak memikirkannya, Va. Sejak pesan-pesan singkatmu itu, aku menjadi lebih sering menyendiri, kehilangan nafsu makan dan berdandan. Setiap membuka koran, fokusku hanya pada berita-berita bencana, kecelakan, dan pembunuhan. Aku mencoba menghindar, tetapi berita-berita itu seakan terus mengejarku. Menyalakan televisi yang tampak olehku adalah gambar-gambar mayat dan orang-orang yang mengusung keranda. Setiap pagi aku terjaga oleh mimpi buruk. Lalu keluar rumah dan mendapati langit selalu diliputi mendung. Ya, sebagaimana mendung yang juga meliputi pikiranku.

Sontoloyo! Kalau bukan karena kau terus mengirimiku pesan-pesan singkat soal maut, tidak mungkin aku menjadi seperti ini. Cermin itu telah menampakkan wajah kusut, mata sayu, bibir kering dan kelabu, dengan rambut panjang yang tak tertata. Apakah ini adalah Mei? Mei yang cantik itu? Tidak. Aku tidak percaya melihat bayangan diriku sendiri dalam cermin. Betapa masih terngiang rayuan genit para lelaki, termasuk dirimu, tentang mata beningku, wajahku: kecantikanku. Tidak mungkin.

Tak mau terus-menerus pikiranku terkungkung dalam mendung, aku mencoba menghubungimu. Aku ingin kau membantuku mengembalikan matahari di kepalaku. Aku ingin seperti dulu, Va. Menjadi perempuan yang energik, senang dengan warna merah, bersemangat mendatangi pameran lukisan, berjoget-berdendang di tengah konser musik, nongkrong di kafe dan pulang malam dalam keadaan setengah mabuk. Aku ingin tidak takut menghadapi maut, dan belum ingin memikirkan maut. Aku ingin berterus terang kepadamu soal itu. Aku ingin menelponmu dan menangis. Tetapi nomorku tidak bisa dihubungi. Aku coba lagi esoknya dan esoknya, hasilnya tetap sama.

Kau di mana? Beberapa teman sekampus aku tanyai tentang keberadaanmu. Tapi hanya kabar simpang siur yang aku dapat. Mungkin! Semua menjawab dengan diawali kata ‘mungkin’, yang artinya tidak ada seorang pun yang tahu persis tentang keberadaanmu, kecuali Tuhan—yang juga sudah kau anggap seperti temanmu sendiri.

Lalu demikianlah aku menduga: Mungkin kau marah denganku; kau pergi ke rumah saudarahmu yang jauh di luar kota, dan sengaja mengganti nomor handphone tanpa mengabariku. Atau, kau sudah berhenti kuliah, lalu hijrah ke luar kota, dan berusaha melupakan semua tentangku. Maafkan aku, Va. Kalau aku menolak ajakanmu untuk menikah, bukan berarti aku membencimu. Kau tahu, tidak hanya kau saja yang aku tolak dan aku selalu mencoba membina hubungan baik kepada mereka yang aku tolak.

Kita masih muda, masih kuliah pula. Menikah bukan saja akan menciptakan jeruji-jeruji pagar bagi aku yang ingin bebas, tetapi juga akan membuat kita semakin kerepotan. Bagaimana jika aku hamil, punya bayi, menyusui? Puih, tubuhku yang aku jaga keindahannya ini akan membengkak dan hari-hariku akan penuh kesibukan untuk orang lain. Dan yang terpenting: aku tidak mencintaimu!

Tetapi aku menyukai sajak-sajakmu, Va. Sajak-sajak yang kau kirimkan lewat pesan-pesan singkat. Sajak-sajak cinta, luka, atau tepatnya cinta yang luka. Sajak-sajak yang masih aku simpan di kotak masuk pesan ponselku. Aku suka kata-katamu, meski kadang-kadang berlebihan saat menyanjungku.

Aku percaya kata-kata yang kau kirimkan itu mewakili perasaanmu. Tetapi aku tidak yakin benar jika itu adalah kata-kata yang kau susun sendiri. Mungkin kau telah mengutipnya dari orang lain tanpa menyantumkan nama pengarangnya, siapa tahu. Aku tidak pernah membaca puisi kecuali hanya beberapa kali ketika tidak sengaja membuka koran yang terbit hari Minggu.

“Tak ada yang mencintaimu setulus kematian.” Suatu ketika kau kirimkan pesan itu.

“Jadi kau tidak tulus mencintaku?” Aku membalas.

“Adakah kata-kata dapat membuatmu percaya?”

“Tidak. Kalau toh benar kau tulus mencintaiku, belum tentu aku bisa menerimanya.”

Sejak itulah kau berhenti mengirimiku sajak. Tapi kau terus berkirim pesan, kalimat-kalimat mencekam: Kematian! Lalu suatu saat kau menanyakan hal itu. Apakah aku akan menangis jika kau mati? Dan aku yang waktu itu baru pulang dari kafe secara tak sadar telah menitikkan air mata membacanya.

Setelah putus asa karena berkali-kali gagal menelponmu, aku kirimkan sebuah pesan ini: Temuilah aku, Va. Atau beri tahu aku di mana kau sekarang, biar aku yang menemuimu. Entahlah. Aku tidak yakin pesan itu akan sampai dan terbaca. Tapi di luar dugaan, sesaat setelah aku kirimkan pesan itu, ponselku bergetar di atas meja. Kau menelponku.

“Va…”

“Vanya sudah tidak ada, Mbak. Ini kakaknya.”

“Ke mana, Mas?”

“Kemarin pagi. Sudah dikuburkan.”

Suara itu terdengar begitu tegas. Kuat. Keras. Membuat lidahku seketika tercekat. Kepalaku tegak. Langit-langit kamarku seakan runtuh. Menimpa kepalaku. Kepalaku seperti pecah. Mataku melotot tapi pandanganku kabur.

Seketika aku menghambur, memacu sepeda motor, menembus gerimis, menyebut nama desamu pada tiga orang yang aku temui di jalan, lalu aku lintasi aspal berkelok yang terjal dan curam. Kain putih segitiga lalu terlihat terpanjang di sebuah simpang jalan, itu artinya rumahmu sudah dekat. Dan ketika melihat sebuah rumah dengan tarub yang di bawahnya berjajar meja kayu dan kursi-kursi plastik hijau aku meminggirkan motorku, yakin benar itu adalah rumahmu.

Ini kali pertama aku mendatangi rumahmu, justru ketika kau sudah tidak ada. Ah, barangkali rumah ini bukan sepenuhnya rumahmu, atau tidak lagi menjadi rumahmu sekarang. Dan kau memang tidak menyambut kedatanganku, Va, meski mungkin sejatinya kau melihatku.

Seseorang dengan peci hitam dan baju batik menyambutku dengan senyum yang ramah. Aku dipersilakan duduk di kursi plastik menghadap meja kayu yang berderet tomples kebak kue-kue kering, juga permen dalam piring. Seorang lelaki, yang wajahnya mirip denganmu tetapi tampak lebih muda, menghampiriku, lalu duduk di depanku.

“Aku tahu. Kau Mei bukan? Saya kakaknya Va.”

Aku perhatikan matanya: Jernih. Tidak tampak tanda-tanda kalau ia baru menangis atau tidak tidur semalaman. Air mukanya juga terlihat bersih dari guratan kesedihan.

“Va meninggal baik-baik, kau percaya? Ya, ia orang yang baik, meski jarang sekali pulang.”

Aku masih terdiam, sembari memperhatikan orang-orang di sekitar. Kenapa tidak aku temukan satu pun wajah yang tampak bersedih? Kalau memang benar kau meninggal baik-baik, lalu kenapa kepergianmu tidak meninggalkan tangisan?

Aku baru akan bertanya, kapan dan apa sebab kematianmu, tetapi kakakmu sudah mengatakannya. “Ada infeksi di selaput otaknya. Dulu memang Va punya riwayat gagar otak ringan, mungkin sakitnya masih ada kaitannya dengan itu. Dokter bilang meningitis. Kita juga kurang tahu pasti. Selama sembilan hari di rawat di Rumah Sakit sesekali Va tersadar, tetapi ia sudah hilang ingatan. Begitulah, malam itu tepat pukul 01.10 Va pulang ke rumah abadinya.”

Mataku gerimis.

“Tidak usah menangis. Selain kesembuhan, hanya kematian pilihan yang terbaik bagi orang-orang yang didera sakit semacam Va. Dan Tuhan telah memberikan pilihan yang terbaik untuknya, termasuk juga bagi yang ditinggalkan.”

Ya, kenapa aku harus menangis? Apakah aku telah merasa kehilanganmu? Mungkin tidak. Mungkin aku hanya menangisi diriku sendiri, menangisi ketakutanku akan mati. Tiba-tiba aku teringat pesan singkat yang pernah kau kirimkan: Tak ada yang mencintaimu setulus kematian. Tak ada? Kalau kematian benar-benar mencintaiku, kenapa aku tidak mencintainya juga?

Gerimis di mataku mendadak mereda. Lalu aku lihat kakakmu tersenyum lebar, dan aku membalasnya dengan senyuman yang barangkali terlihat begitu mekar sembari membayangkan kematianku sendiri.

Wonosobo, 2015

Catatan:
“Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian” pernah digunakan oleh Aslan Abidin (2004) sebagai judul puisi, dimuat dalam buku dengan judul yang sama. Puisi tersebut sedikit banyak telah memberikan inspirasi atas lahirnya cerpen ini.

Ditulis sambil terkenang kawan yang sudah meninggal: Vanera El-Arj. Cerpen ini pernah diimuat di Koran Merapi Pembaruan Edisi Minggu 14 Juni 2015.

Yusuf 6/22/2015 0
TAGGED UNDER:

Catatan Mengunjungi Pabrik Manisan Carica Gemilang

Manisan Carica - Untuk sebuah keberhasilan seseorang mesti memegang dua kunci ini: Ketekunan dan Fokus. Itulah kesimpulan saya setelah bercakap-cakap dengan Alfha Gemilang, pengusaha muda yang telah memasuki pintu keberhasilan itu. Saya kira semua orang setuju dengan kesimpulan saya. Dan saya percaya ini tidak hanya berlaku di dunia usaha tetapi juga profesi atau pekerjaan apapun. Itulah kenapa biaya berobat di dokter spesialis lebih mahal ketimbang di dokter umum. Itu pula kenapa Enstein berkata, bahwa untuk berhasil kita hanya butuh 1% kecerdasan dan selebihnya adalah kerja keras (tekun). Itu pula kenapa saya sampai sekarang masih begini-begini saja, karena tidak fokus dan kurang tekun.

jual manisan carica


Mas Alfa, demikian saya menyapanya, adalah seorang lajang yang melihat facenya mungkin lahir sekitar tahun 1990-an. Ia telah membuat keputusan yang menurut saya berani, yakni berhenti menjadi pengajar di Politeknes. Memutuskan pulang kampung, ia bersama sang bunda kemudian merintis usaha manisan carica. Dengan modal awal sekitar tiga juta rupiah, usahanya terus berkembang pesat. Dan kini, baru setahun lebih sedikit usahanya berjalan, omset penjualannya sudah mencapai di atas seratus juta perbulan. Soal omset sebesar itu hanya dugaan saya semata setelah mengetahu bahwa dalam sehari pabriknya bisa menghasilkan 60 keranjang. Masing-masing keranjang berisi 90 cup. Artinya dalam sehari pabriknya menghasilkan 5400 cup. Anggaplah 1 cup harganya Rp. 3000, maka tinggal kalikan saja dengan 5400 cup. Agaknya bisnis manisan carica begitu menggiurkan? Hemmmm tentu tidak semudah itu. Ada proses yang tentu punya lika-liku yang rumit.

Untuk usaha yang baru berumur satu tahun, dan sanggup bersaing dengan berpuluh-puluh jenis usaha carica yang sama, apalagi kalau bukan stempel SUKSES patut kita sematkan untuk Mas Alfa.

Carica Gemilang, itulah brand produknya. GEMILANG: seGEr, ManIs, LezAt, dan NGangeni. Dengan nama dan label yang unik itu saya percaya Mas Alfa punya kelihaian di bidang pemasaran, juga imajinasi yang baik; meski ia sendiri adalah lulusan Fakultas Matematika. Ya lulusan Matematika. Saya su’udhan, jangan-jangan doi suka baca karya sastra juga. Entahlah.


pabrik manisan carica

pabrik carica

cara membuat carica


Rumah ini baru di tempati bulan Maret 2015 silam, dan di sinilah para karyawan UD. Carica Gemilang bekerja 6 hari dalam seminggu. Ada 23 orang pekerja produksi dan 1 orang cewek yang mengurusi administrasi. Gambar-gambar di atas saya ambil hari Jumat (5/6) sekitar pukul 14.30 dan mereka sudah bekerja sejak pagi. Tetapi saya amat-amati mereka tetap tampak bersemangat. Guru aja yang kerja dari pagi sampai sampai pukul 13.30 biasanya air muakanya tampak lusuh. Kok ini…. heran!
harga carica


Cara membuat carica sendiri sebenarnya cukup mudah. Di mulai dari pengupasan buah carica, pemisahan biji dengan dagingnya, pemotongan, perebusan sampai yang terakhir adalah pengemasan. Setelah carica dikemas dalam cup atau botol, didiamkan dulu selama 1 minggu baru kemudian diberi label dan di kemas lagi dalam dus yang siap untuk dipasarkan. Hingga sekarang, pemasaran Carica Gemilang sudah sampai Bali, Makassar dan beberapa kota di luar Jawa. Dan sebentar lagi produk Carica Gemilang juga akan sampai Singapura, Subhanallah. Itu karena Mas Alfa sendiri dalam waktu dekat akan berkunjung ke sana dan pasti akan membawa serta manisan caricanya, minimal 5 dus, mungkin sih.

agen carica

Carica adalah buah khas yang hanya bisa ditemui di dataran tinggi, seperti Dieng dan saya dengar juga ada di daerah Bali. Untuk harga manisan Carica sendiri terbilang murah dan peminatnya cukup banyak, karena selain bergizi juga ngangeni (bikin ketagihan), meski tanpa bahan pengawet. Nah, kalau Anda berminat mencicipi carica Gemilang, bisa order lewat saya. Dan berikut adalah harga Jual Carica.

Harga Jual Carica

berikut adalah harga jual carica
1 Dus isi 4 Cup Rp16,000.00
1 Dus isi 6 Cup Rp22,000.00
1 Dus isi 12 Cup Rp40,000.00
1 Dus isi 6 Botol Rp72,000.00
Contact: SMS/WhatsApp 085230373555 BBM: 555E291D
(Harga belum termasuk ongkos kirim. Pemesanan dalam jumlah banyak mendapat potongan harga. silakan kunjungi agen carica gemilang)

Ohya, masih penasaran dengan manisan carica, datanglah ke wonosobo atau pesan saja! Anda juga boleh kok kunjungi juga web resmi Carica Gemilang. Atau jika ingin melihat proses pembuatan carica mainlah ke Pabrik Carica Gemilang nanti saya temani. Dan ini saya kenalkan FB orang tekun dan fokus itu: Alpha Gemilang.
bos carica gemilang

Demikian, kalau toh anda tidak mau beli, semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

Yusuf 6/05/2015 0
TAGGED UNDER: ,

Lomba Blog Guru, MPI dan Web Sekolah 2015

Sudah lama tidak posting info lomba. Hem, okelah...ini ada info lomba terbaru yang menjadi semacam ritual tahunan BPTIKP Jateng. Lomba blog guru, MPI, dan Web Sekolah.

Dalam upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang berkualitas dalam menghadapi persaingan global di era perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge based economy) yang semakin ketat, maka peranan pembangunan pendidikan menjadi sangat penting. Untuk itu, setiap warga negara diharapkan mampu meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi, produktivitas, serta daya saing SDM Indonesia. Mengingat di era global sekarang, transformasi itu berjalan dengan sangat cepat yang kemudian mengantarkan pada masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Penerapan TIK untuk pendidikan (e-pendidikan), memiliki dua tantangan besar, yaitu:
1) penerapan TIK sebagai “enabler” efektivitas dan efisiensi proses pendidikan; dan 2) penerapan TIK untuk menghasilkan masyarakat berpengetahuan (knowledge-based society), yaitu masyarakat mandiri yang mampu mengambil keuntungan dari TIK untuk mengembangkan diri secara terus menerus (long life learning) dan meningkatkan produktivitas

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa dalam melaksanakan profesinya, guru berkewajiban meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Dalam memenuhi ketersediaan sumber belajar, BPTIKP mengembangkan model dan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis TIK. Pengembangan yang dilakukan pada tahun 2015 adalah perancangan model multimedia pembelajaran berorientasi karakter bangsa, sesuai UU Sisdiknas Pasal 3 (2003) yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 Dalam mengembangkan multimedia pembelajaran berorientasi karakter bangsa seorang guru harus mempertimbangkan unsur kesesuaian isi/materi dengan kurikulum pembelajaran (substansi materi), desain pembelajaran, rekayasa perangkat lunak, dan desain komunikasi visual. Dari semua unsur tersebut, model dan aplikasi yang dirancang harus terintegrasi dengan penilaian karakter bangsa. Sehingga bahan ajar berbasis TIK yang dirancang secara sistematis, dan memenuhi pertimbangan-pertimbangan di atas dapat meningkatkan daya tarik dan menumbuhkan karakter positif siswa.
Dalam hal ini kreatifitas guru amat diperlukan. Kreatifitas guru dalam bersinergi di era teknologi informasi dan komunikasi sangat dimungkinkan untuk mengemas bahan ajar dalam format digital yang interaktif dan berorientasi karakter bangsa.

Salah satu pengembangan proses pembelajaran yang inovatif dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information Communication and Technology (ICT) adalah dipublikasikan kepada khalayak umum melalui blog.

Selain itu Sekolah juga perlu berbenah dan turut serta memfasilitasi, menyediakan wadah bagi kreatifitas guru serta mengoptimalkan layanan pendidikan untuk seluruh stake hordernya melalui penyediaan website sekolah.

Oleh karena itu Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BPTIKP) menggagas kegiatan Pengembangan dan Pengayaan sumber belajar bagi guru dan sekolah di Provinsi Jawa Tengah

 Sasaran
1.Guru SD /MI, SMP /MTs, baik Negeri dan Swasta se-Provinsi Jawa Tengah.
2. Sekolah tingkat SD / MI, SMP /MTs baik Negeri dan Swasta se-Provinsi Jawa Tengah.


Persyaratan Umum
1.Terdaftar sebagai pendidik atau tenaga kependidikan di SD / MI, SMP / MTs negeri atau swasta yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah dibuktikan dengan NUPTK
2. Karya Multimedia Pembelajaran berorientasi Karakter Bangsa dan blog guru yang diajukan adalah karya individu, sedangkan Website sekolah adalah karya guru atau tenaga kependidikan pada sekolah yang bersangkutan sesuai dengan jenjangnya.
3. Khusus untuk Multimedia Pembelajaran
Karya yangdiikutsertakan belum pernah menjadi juara I, II, atau III pada kegiatan serupa pada tingkat provinsi maupun nasional.
4. Peserta belum pernah menjadi juara I, II, dan III pada kegiatan serupa di BPTIKP
dalam 3 tahun terakhir
5.Membuat pernyataan yang menyatakan bahwa karya adalah original dalam ide dan
kreasi.
6.Tidak mengandung unsur SARA
7.Semua karya Multimedia Pembelajaran yang diterima panitia menjadi hak BPTIKP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

8. Karya Multimedia Pembelajaran berorientasi Karakter Bangsa yang menjadi juara I, II dan III akan dipreview dan dipublikasi ke dalam Portal “Jateng Pintar”

Lomba Blog Guru, MPI dan Web Sekolah 2015


Hadiah:

Juara I : mendapatkan Trophy, Uang Pembinaan sebesar Rp. 5.000.000,00 , sertifikat dan
menjadi nara sumber pada Diseminasi yang diselenggarakan oleh BPTIKP.
Juara II : mendapatkan Trophy, uang pembinaan sebesar Rp. 4.000.000,00 dan sertifikat
Juara III : mendapatkan Trophy, uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,00 dan sertifikat
32 finalis lainnya akan mendapatkan sertifikat

Untuk lebih jelasnya silakan baca panduan lomba blog guru dan web sekolah  dan juga MPI ini dengan mengunjungi situs penyelenggara: BPTIKP JATENG

Demikian semoga bermanfaat. salam

Yusuf 5/29/2015 0
TAGGED UNDER:

Pendidikan Kita: Jangan Berhenti Pada Wacana!

kembangkitan pendidikan

Terkait keterpurukan pendidikan Tanah Air, kita begitu yakin bawah ada sesuatu yang tidak beres. Dan jika pendidikan kita ibaratkan pasien maka sebenarnya ia adalah pasien yang telah dibawa ke banyak dokter untuk diobati. Dokter dengan ilmunya telah melakukan chek up lalu mendiagnosa penyakitnya, sudah pula memberinya obat. Jika sang pasien tidak kunjung sembuh maka ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, bisa jadi dokter salah dalam mendiagnosa sehingga memberikan obat yang salah. Kedua, dokter sudah benar dalam mendiagnosa tetapi obat yang diberikan salah atau tidak mampu menyembuhkan. Ketiga, dokter sudah benar mendiagnosa dan memberikan obat yang bagus, tetapi pasien enggan meminum obatnya.

Sudah banyak dokter spesialis (pakar) pendidikan berusaha mendiagnosa penyakit yang membuat pendidikan di negeri ini ogah bangkit. Kalau kita rajin membuka koran, maka hampir tiap hari kita menemukan opini perihal persoalan pendidikan. Belum lagi diskusi, seminar, dan obrolan-obrolan di warung kopi, tak terhitung banyaknya mulut ikut sibuk mengupas persoalan yang nyaris sama: pendidikan.

Tatkala dilangsungkan seminar tentang Peran Kurikulum dalam Pendidikan di Kota A, misalnya, di kota B sedang diadakan diskusi tentang Usaha-usaha Membangkitkan Semangat Pengabdian Guru. Pada hari yang sama pula di kota C digelar Refleksi dan doa bersama dengan tema: Meneladani Perjuangan Ki Hajar Dewantara. Begitu pula di kota D, E, F, G sampai Z, di koran A, B, C, D, sampai Z, tidak ada yang diam dalam memikirkan nasib pendidikan negeri ini yang terpuruk. Betapa luar biasa energi yang sudah kita salurkan untuk kemajuan bangsa ini!

Entah sudah berapa buku dan penelitian tentang pendidikan yang telah lahir, dan akan terus menetas bagaikan hujan. Berapa blog, berapa posting, berapa status, dan debat di kolom komentar yang meributkan persoalan pendidikan? Sudah tak terhitung. Namun, kenapa semua itu seolah tidak banyak membawa perubahan? Apakah karena tidak ada dukungan dana dari pemerintah dan masyarakat guna mengaplikasikan ide-ide yang telah begitu banyak? Tidak! Sekitar 20 % APBN sudah digelontorkan negara, meski hampir sebagian besar habis untuk menggaji pegawai tetapi toh sisanya cukup besar juga. Masyarakat juga tidak segan-segan untuk membayar mahal biaya sekolah dan buku. Lalu apa?

Duh, pendidikan negeri tercinta ini agaknya sudah terjangkit penyakit komplikasi yang kronis. Maka penanganan yang dilakukan juga mesti intensif. Tidak cukup hanya berpikir, beropini, berdebat, berdiskusi, soal bagaimana menyembuhkannya, tetapi yang terpenting adalah pengobatan itu sendiri. Bagaimana menyembuhkan adalah konsep atau wacana, dan pengobatan adalah aksi, kerja nyata.

Gagasan Kecil Kerja Besar Akan Membawa Hasil Besar

Saya selalu kagum pada orang-orang atau kelompok yang tidak banyak berwacana, tetapi aktif melakukan hal-hal nyata dalam memberikan perubahan. Mereka bergerak, bukan hanya ngomong. Mereka beraksi tidak sekadar bersilat lidah. Mereka menyalakan lilin, dan tidak hanya memperdebatkan bagaimana supaya lampu bisa menyala tanpa listrik.

Tentu saja kita sepakat, bahwa ide, gagasan, dan diskusi tetaplah penting. Buku-buku pemikiran dan protes juga harus ada. Namun, upaya membumikan gagasan jauh lebih mengena.

Gagasan Besar Kerja Kecil Bisa Jadi Tidak Menghasilkan Apapun

Apakah kita pernah kekurangan stok gagasan terkait pendidikan? Gagasan-gagasan baru memang akan terus lahir, tetapi bukan berarti gagasan lama tidak lagi kontekstual untuk diterapkan. Kalau kita datang ke perpustakaan, maka kita akan menemukan buku-buku tempat bersemayamnya berbagai diagnosa dan ramuan obat mujarab dari pakar pendidikan yang menunggu (ya, menunggu!) diterapkan. Tapi begitulah, sepertinya bangsa ini lebih senang untuk menambah stok gagasan atau memperdebatkannya, ketimbang segera melakukan pengobatan untuk pendidikan yang sakit. Maka beginilah nasib kita sekarang; belum beranjak! Padahal kita tahu benar akibat dari penyakit yang tidak segera ditangani.

Gagasan Besar Kerja Besar Akan Membawa Kesempurnaan

Pembangunan pendidikan karakter, pemerataan pendidikan, pendidikan murah, kesejahteraan para guru, pendidikan humanis, pendidikan berbasis komunitas, wa’ala alihi washahbihi ajma’in adalah gagasan-gagasan besar yang pernah tercetus, telah dibicarakan di forum-forum akbar, dan sebagian daripadanya telah pula diusahakan untuk dibumikan. Anies Baswedan telah cukup berhasil melakukan program Indonesia Mengajar, meski semenjak beliau menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan seakan-akan lupa dengan gagasan besarnya yang lain yakni mem-VIP-kan para guru. Bahruddin dan teman-teman di Qaryah Thayyibah telah menerbitkan matahari di desa Kalibening dengan pendidikan berbasis komunitas, dan Pemerintah telah hampir sekses mengajari para guru membuat RPP berbasis karakter, juga merehab kurikulum agar tidak hanya menggarap aspek pengetahuan.

Tentu saja ada orang-orang hebat yang tidak hanya menjadikan gagasan sebagai wacana di puncak menara gading, tetapi berusaha mengkonkritkannya. Terpujilah mereka. Dan bagi kita atau juga pemerintah yang hanya senang menerbitkan gagasan sebagai lipservice, atau bahkan untuk menenangkan para demonstran, maka hanya Allah-lah sebaik-baik pemberi petunjuk dan kekuatan.

Memang, siapapun paham, ngomong lebih mudah ketimbang melakukan. Gagasan besar tidak dibangun dalam semalam, dan untuk mewujudkannya tidak semudah mencari informasi terkait bocoran soal UN di Google. Tapi bagaimana lagi? Tidak ada cara terbaik membangkitkan pendidikan Tanah Air selain dengan action! Dan sebagai rakyat kita sudah sepatutnya bersabar untuk terus mengingatkan para pemimpin agar tidak keblinger dalam membuat suatu kebijakan.

sumber gambar: www.arkansasbusiness.com

Yusuf 5/13/2015 0
TAGGED UNDER:

Bebas: Ngeblog atau Mati?

untuk apa ngeblog

Kenapa harus ngeblog? Hah! Itu pertanyaan bodoh yang lebih pantas dijadikan sebagai judul buku ketimbang awal sebuah tulisan. Orang mungkin akan mengatakan bahwa blog memiliki segudang manfaat, dan karenanya kemudian ia berfatwa bahwa ngeblog adalah suatu keharusan. Apakah tidur dan facebookan tidak memiliki manfaat yang tidak lebih besar dari ngeblog? Toh hukumnya tidak sampai pada suatu kewajiban. Behhh! Apa perlu saya ungkapkan qaidah fiqihnya?

Kita memang pandai memberi label yang besar untuk sesuatu yang sebenarnya kecil. Ngeblog itu kecil, sebab hampir semua orang bisa melakukannya, termasuk anak kecil dan imut-imut macam saya. Tapi sesuatu yang kecil, tengau misalnya, bisa membuat tanganmu tidak keluar dari sarung sepanjang malam. Kecil, jika banyak, akan menjadi besar pula, seperti utang-utangmu pada teman dan tetangga. Dan karenanya tidak bisa kita meremehkannya (dhomir -nya kembali kepada blog, ok).
diskusi blog mbakyublogger

Ketika diminta sharing pengalaman seputar Ngeblog dalam acara #EduTalk dalam rangka Ultah @MbakYuBlogger saya pura-pura keget! Hah. Apa memang tidak ada pembicara yang lain? Dan karena beliau pengasuh MbakYuBlogger Wening Tias Suminar mengatakan tidak ada, ditambah lagi iming-iming akan diberi kaos, jadilah saya bilang “siaaaap!” Sayangnya saya tidak hanya diberi kaos EduTalk yang putih seperti susu, tetapi juga diberi cangkir raksasa, carica, dan diberi kesempatan foto bersama para Mbakyu Blogger yang imut-imut.

foto bareng mbakyublogger

 Lalu, seperti hendak berbicara di muka Seminar Nasional, saya membuat slide dengan master "Ngeblog atau Mati?” Pikir saya, pastilah hadirin akan merinding begitu membaca judulnya, ditambah melihat tubuh saya yang ringkih dan mendengar suara saya yang gemetar, mereka akan mengalami komplikasi aneh yang kemudian membawa mereka pada sebuah lorong gelap dan di sanalah mereka pelan-pelan akan saya tunjukkan seberkas cahaya. Subhanallah! Rasanya kalimat panjang itu tidak sengaja saya ketikkan.

Jadi begini…ekhem (dehem) Blog adalah bla…bla..bla… Masa’ saya mesti melihat file tesis saya (yang kebetulan juga mengupas soal blog) dan tempelkan di sini. Tidak ah! Adakalanya kita dapat dengan mudah memahami sesuatu setelah melihat contohnya, tidak penting benar suatu definisi tekstual kecuali ketika anda mengerjakan karangan ilmiah. Begitulah saya berkhotbah.

Klik spasi! Dan muncullah di layar sebuah pertanyaan: Apa manfaat ngeblog? Sebenarnya saya lupa mengatakan, kadang-kadang ngeblog bisa tidak bermanfaat sama sekali dan justru hanya membuat madzarat. Tapi ucapan seperti itu akan membuat semangat mereka yang ingin mengenal blog bisa jadi melempem.

Tahulah kita, bahwa sesuatu itu bisa memberi manfaat atau madharat bukan semata didasarkan pada kepentingan pribadi. Menurutmu mungkin blog esek-esek begitu najis dan bahaya (meski kadang-kadang kau sendiri mengintipnya), tapi bagi pemilik blog ia bisa membuatnya makan berhari-hari. Kadang pula manfaat bercampur dengan madharat, bagaikan alkohol dan rokok. Dan yang super adalah ketika tidak ada hal lain kecuali itu hanya berbagi sesuatu yang bermanfaat. Inilah yang anda harapkan! Soal postingan-postingan sebuah blog mengandung kontroversi, tentu saja itu tak bisa dihindari. So, kembali kepada hati di mana niat bersemayam dalam damai.

Sebagai tempat menampung kegelisahan, berekspresi, bersosial, menambah teman, berbagi ilmu, berbagi masalah, mendulang Dollar, hanyalah sebagian kecil saja dari apa yang didapat seseorang dari ngeblog. Bisa saja orang menjadi terkenal gara-gara blog, dan itu boleh. Menjadi terkenal adalah cita-cita yang tidak selalu miring, sebab dengan itu suara anda akan lebih banyak didengar, dan anda akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Wijaya Kusuma (Omjay), misalnya. Guru SMP Lab School Jakarta ini mengenalkan dirinya lewat blog dan media sosial. Akibatnya cukup gawat: Ia diundang ke sana-kemari, berkeliling Indonesia untuk berbagi ilmunya dan membawa pulang honor untuk sangu anak istri dan sisanya untuk beli Avansa. Tapi setiap orang punya jalannya sendiri, Omjay tidak harus anda jadikan patokan blogger sukses (untuk menyebut orang yang eksist karena blog)

Jangan pula tiru saya yang tidak pandai mencuri waktu untuk menulis di blog ini. Jadilah diri anda sendiri! Bebas! Di sinilah kenikmatan terbesarnya. Perasaan bebas. Sebebas-bebasnya. Termasuk ketika anda memutuskan memilih: Ngeblog atau mati? Orang Ngeblog akan mati. Tidak Ngeblog juga pasti mati. Tapi kalau orang ngeblog mati blognya bisa jadi akan tetap hidup. Jadi bebas saja. Hidup anda kok! Dan saya akan memberi tahu anda bagaimana contoh paling jelek dari wujud “kebebasan” itu dengan mengakhiri tulisan ini tanpa saya harus berjanji untuk melanjutkannya lain waktu. Blog-blog saya sendiri kok!

Yusuf 5/05/2015 0
TAGGED UNDER:

31

Angka macam apa itu? Usiaku!
Kau akan mengatakan betapa hidup berlari terbirit-birit
Kau akan mengatakan jika usia begitu singkat
Kau menanyakan apa saja yang sudah kau perbuat
Kau, iya kau! Aku

Sejauh ini saya merasa belum menjadi apa-apa, bahkan untuk sekadar menjadi manusia rasanya masih jauh. Tetapi saya menyadari bahwa hidup adalah proses.

Lalu kau bertanya, sampai kapan prosesmu itu akan menemu muara?

Tanyakanlah itu kepada semua orang dan tak seorang pun akan sanggung menjawabnya. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah ia telah sampai kepada sebuah kesempurnaan, puncak pencapaiannya sebagai manusia.

Saya merasa masih muda. Masih jauh dari apa yang mereka bilang dewasa. Tetapi Ia dapat mengambilku sewaktu-waktu, saya tahu. Dan saya sudah minta ampun, selalu. Semoga Allah menghapuskan dosa-dosa saya, memberikan cahaya, dan menuntun saya menemukan diri saya yang sebenarnya.

Pembaca...Minta Aminnya!

Yusuf 5/04/2015 0

Recent Articles

About Us

Apalah daya pena jika tidak ada tinta. Apalah daya pena yang sudah terisi tinta jika tidak ada tangan. Apalah daya tangan, jika tidak ada kekuatan dari Tuhan. Tapi tolong, jangan diartikan secara harfiah! Dan jika anda ingin menjadi kontributor www.tintaguru.com silakan kirimkan tulisan anda ke jusufan@gmail.com.
© 2014 Tinta Guru. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top