Diberdayakan oleh Blogger.

TIK, Guru, dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

image
M. Yusuf Amin Nugroho *)

Entah berapa banyak orang yang kerap memperlakukan teknologi tanpa rasa syukur. Guru-guru yang belum lancar mengetik Rencana Proses Pembelajaran (RPP) dengan bantuan laptop misalnya, yang dilakukannya bukan kemudian berlatih mengetik, melainkan lebih memilih mendownload dan bahkan membeli RPP yang sudah jadi. Kekufuran berjamaah semacam itu bukannya coba diakhiri dengan upaya pendayagunaan teknologi secara maksimal, melainkan justru dirawat dan pelihara. Ya Tuhan, ampunilah kami.

Sebenarnya, ketertinggalan kita dengan bangsa lain dalam bidang teknologi bukanlah semata pada segi kemampuan memproduksi, lebih-lebih daya masyarakat dalam membeli, melainkan lebih pada bagaimana kita memanfaatkan produk-produk teknologi yang sudah jadi.
Kita tahu, masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Guru menjalin ikatan yang kuat. Ibarat sekeping uang logam, guru dan TIK tidak bisa terpisahkan. Memang, teknologi pendidikan tidak sebatas pada TIK. Namun, jika guru abai pada TIK, niscaya langkahnya dalam mengemban amanat kemerdekaan akan terseok-seok di tengah jalan.
Pemanfaatan TIK dalam menunjang tugas profesi pendidik selama ini memang telah diupayakan oleh pemerintah. Namun, upaya tersebut lebih sering hanya berhenti pada proyek pengadaan sarana TIK, belum pada bagaimana pemanfaatan agar perangkat TIK yang tersedia dapat lebih berguna.

Dengan adanya peningkatan kesejahteraan yang cukup besar yang diterima oleh guru (khususnya guru PNS dan yang sertifikasi) mestinya dapat disisihkan sebagian untuk meningkatkan kualitas pribadinya sebagai pendidik. Selama ini yang kerap terjadi justru bertolak belakang; alih-alih kursus komputer, membeli buku, atau mengundang para blogger untuk membimbing membuat blog, banyak guru justru lebih tergiur untuk mengikuti trend gaya hidup. Harapan meningkatkan kesejahteraan guru untuk kemajuan pendidikan pun pupus. Dan sayangnya pemerintah tidak segera membuat kebijakan khusus untuk mengakhiri fenomena ini; misal, dengan mewajibkan guru yang sudah sertifikasi untuk memiliki laptop dan blog.

Tetapi kita cukup beruntung, karena di saat pemerintah cenderung abai pada guru-guru buta Information Comunication and Technology (ICT), muncullah orang-orang dan komunitas-komunitas nirlaba yang peduli. Mereka bergerak, turun langsung ke sekolah-sekolah, menyebarkan virus ngeblog kepada guru-guru di berbagai pelosok, menulis dan sharing tentang pentingnya TIK bagi guru dan kemajuan pendidikan negeri ini.
Kita patut angkat topi dan mengapresiasi mereka yang melakukan gerakan mensyukuri teknologi, khususnya bagi guru-guru yang masih asing dengan dunia IT. Sebab menunggu pemerintah bergerak sama saja menunggu hujan di musim kemarau.
Ibarat air bagi orang kehausan, pengoptimalan pemanfaatan TIK untuk menunjang proses mengajar merupakan satu hal yang mendesak. Kita tahu, TIK sendiri sifatnya tidaklah ajeg, melainkan terus berkembang. Semakin lama mengabaikan pemanfaatan TIK, maka semakin sulit pula kita mengejar ketertinggalan.

Saya pernah mengadakan survey tentang bagaimana para siswa memanfaatkan teknologi internet. Ajakan survey itu saya pasang di blog, dan di sanalah para siswa saya, yang menjadi sampel, mengisi kuisioner. Hasilnya bisa anda lihat di sini.

survey pemanfaatan internet Sebagaimana Anda tebak, hasil survey yang saya lakukan menunjukkan bahwa ungkapan syukur atas nikmat teknologi yang dilakukan oleh siswa tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh guru pada umumnya. Internet bagi anak-anak digital native memang tidak lagi menjadi makhluk asing. Tetapi sayangnya mereka menggunakan internet masih bolak-balik antara socmed, Youtube, dan game online. Sebagai guru kita mesti melek dan menyadari realitas ini, lalu berupaya bagaimana mengarahkan siswa didik untuk lebih mensyukuri teknologi.

Ngeblog: Puncak Gunung TIK

Bagaimana orang dikatakan telah optimal dalam memanfaatkan teknologi? Orang boleh pintar membuat dan menjalankan slide pembelajaran, membuat software Exel, mendesain dengan Corel, bahkan membuat game. Tetapi ia belum bisa dikatakan sebagai orang yang optimal dalam memanfaatkan TIK ketika ia belum ngeblog.

Apakah saya berlebihan? Tidak juga. 
Jika TIK kita ibaratkan sebagai gunung, maka para blogger adalah orang-orang yang berada di puncak gunung TIK. Meski memang, ngeblog tidaklah sesulit membuat software atau game. Tapi ingatlah, puncak keilmuwan bukanlah ketika kita bisa menguasai dan memahami sesuatu, tetapi ketika kita sudi membagikan sesuatu (ilmu) yang kita miliki (meskipun hanya setetes) kepada yang lain.
Dengan membagikan ilmu yang kita punya, misal tentang pembuatan media pembelajaran interaktif (MPI), maka memungkinkan ribuan orang untuk bisa melakukan hal yang sama. Berbeda jika kita diundang untuk seminar, atau pelatihan, dengan peserta dan waktu yang sangat terbatas. Padahal belum tentu juga ada yang mau mengundang kita.

Kerelaan untuk berbagi melalui media blog menjadi cara sakti kita dalam mensyukuri teknologi. Lebih bagus lagi jika para guru juga mengajak siswa didik untuk ikut ngeblog, atau paling tidak mengenalkan kepada mereka tentang blog. Salah satu langkah strategis yang bisa dilakukan adalah dengan membuat blog dan menggunakannya sebagai media pembelajaran sekaligus sumber belajar bagi siswa didik kita.
tintaguru
Apa yang saya sarankan tersebut sudah saya lakukan sejak kurang lebih 5 tahun belakang. Saya menciptakan ruang belajar virtual bernama Ruang Siswa: Belajar Fiqih Seru, Tanpa Dibatasi Ruang dan Waktu. Saya tantang mereka untuk ulangan harian online, dan tidak lupa pula saya memberikan materi-materi pengayaan melalui blog.
Kita paham, memberikan petuah saja tidak cukup. Anak-anak sudah paham jika korupsi itu haram, betul? Mereka juga bukan tidak tahu bahwa sebenarnya selain socmed dan game online juga banyak fasilitas lain yang tersedia di internet. Mereka sudah bisa membedakan baik dan buruk. Maka, tugas guru dan orang tua adalah bagaimana mengarahkan mereka untuk mendayagunakan teknologi dengan baik, salah satunya adalah memanfaatkan blog sebagai media dan sumber belajar bagi mereka.
Selain di gunakan sebagai media dan sumber belajar siswa, blog guru juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk mendokumentasikan karya-karya siswa, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolah. Karenanya, saya juga membuat saluran Youtube yang khusus menampung video pembelajaran dan hal-hal penting yang terjadi di sekolah, dan tidak lupa menautkannya di blog.
image
Klik gambar untuk mengunjunginya!

Manfaat memiliki blog yang digunakan sebagai media pembelajaran akan berlipat ganda. Apa yang kita share di blog tidak hanya akan dimanfaatkan oleh siswa didik kita, tetapi juga oleh orang lain yang jumlahnya tak terkira. Jika ini dilakukan dengan ikhlas, tentu akan menjadi amal jariyah yang tak nilainya tak terbatas.

Demikianlah, TIK ada untuk kita, untuk memudahkan kerja manusia. Tetapi tanpa usaha memanfaatkannya secara optimal, TIK tak lebih seperti mutiara di mulut kerang. Perubahan memang tidak bisa terjadi sekerdipan mata. Dan karenanya, kita perlu menjadi bagian dalam mengawal perubahan, salah satunya dengan bersetia mengampanyekan gerakan guru melek TIK. Mari kita mulai dari diri sendiri.

*) Penulis adalah Guru MTs N Wonosobo. Akitf ngeblog sejak tahun 2009. Cerpen, puisi, dan esainya dimuat di berbagai surat kabar dan majalah. Sudah menerbitkan 4 novel, 1 buku cerpen, 1 buku puisi, dan beberapa buku non-fiksi. Memenangi Lomba Pengayaan Sumber Belajar Berbasis Blog yang diselenggarakan BPTIKP Jateng (2014). Mendapat penghargaan Sastra untuk Pendidik dari Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra (2013). Baru saja menyelesaikan Tesis dengan tema seputar Pemanfaatan Blog sebagai Media dan Sumber Belajar.
lomba blog guru 2014 Catatan:
Artikel ini ditulis untuk diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK). Sebelumnya saya juga sudah menulis beberapa artikel terkait Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam menunjang proses mengajar, yang bisa dijadikan bacaan pendukung untuk artikel ini. Berikut adalah bacaan pendukung untuk artikel berikut:
>> Internet, ICT dan Dunia Pendidikan
>> Pemanfaatan Blog Sebagai Media E-Learning
>> Pendidikan di Era Digital dan Hilangnya Mapel TIK
>> Respon Siswa Terhadap Ulangan Harian Online
>> Blog Guru dan Blog Bukan Guru

Ulasan Lengkap Seputar Sumber Belajar

Dalam istilah Bahasa Inggris sumber belajar sering disebut dengan learning resources. Secara umum sumber belajar diartikan sebagai segala sesuatu baik itu buku, orang dan alat tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam kegiatan belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas dari media pembelajaran. Media pembelajaran sendiri adalah bagian dari sumber belajar. Menurut Mulyasa[1], sumber belajar dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar. Sehingga, sumber belajar dapat berupa segala sesuatu yang ada baik manusia, bahan, alat, pesan, teknik, maupun lingkungan yang dapat dijadikan tempat untuk mengungkap suatu pengalaman belajar dan memberikan kemudahan-kemudahan dalam memperoleh informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap yang lebih baik.

Definisi sumber belajar yang lain juga telah ada dalam buku petunjuk pelaksanaan Pendidikan Agama Islam untuk guru agama SMP, dikatakan:

“Sumber/sarana pengajaran adalah: alat-alat dan media pengajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga tercapai tujuan pengajaran secara maksimal, misalnya: buku siswa, perlengkapan sholat, alat peraga, dan lain-lain.”[2]

Sumber belajar dapat didapatkan oleh peserta didik di dalam maupun di luar sekolah. Dengan sumber belajar itulah maka peserta didik dapat semakin termudahkan dalam proses belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Berdasarkan asal-usul sumber belajar Mulyasa[3] membaginya menjadi 2 (dua) bagian:

a. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design)

Yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk tujuan instruksional. Sumber belajar jenis ini sering disebut sebagai bahan instruksional (instructional materials). Contohnya adalah bahan pengajaran terprogram, modul, transparansi untuk sajian tertentu, slide untuk sajian tertentu, guru bidang studi, film topik ajaran tertentu, komputer instruksional, dan sebagainya

b. Sumber belajar yang sudah tersedia (learning resources by utilization)

Yaitu sumber belajar yang telah ada untuk maksud non instruksional, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang kualitasnya setingkat dengan sumber belajar jenis by design. Contohnya adalah taman safari, kebun raya, taman nasional, museum bahari, kebun binatang, dan sebagainya.

Terkadang peserta didik tidak tahu bahwa disekelilingnya terdapat sesuatu yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar. Di sinilah seorang guru penting untuk mengenalkan kepada mereka bagaimana memanfaatkan sumber belajar yang ada.

Jenis-Jenis Sumber Belajar

Belajar tidak sebatas membaca buku atau mendengarkan sang guru ceramah di depan kelas. Belajar bisa dilakukan dengan banyak cara, dan tidak terbatas pada ruang sekolah. Tuhan menciptakan segala sesuatu, termasuk kejadian-kejadian yang kita alami salah satunya adalah agar manusia dapat terus belajar. Karena itulah, dapat dikatakan bahwa sebenarnya sumber belajar sangatlah luas dan tidak terbatas jumlahnya.

Meski begitu, sumber belajar dapat di kelompokkan dan diklasifikasikan berdasarkan jenisnya masing-masing. Fatah Syukur mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 5 (lima) jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Pesan (massage)

Yaitu, sumber belajar yang berupa informasi yang harus disalurkan oleh komponen lain berbentuk ide, fakta pengertian atau data. Contoh; bahan-bahan pelajaran, cerita rakyat, dongeng, nasihat, dan lain sebagainya

b. Manusia (people)

Orang yang menyimpan informasi atau menyalurkannya. Tidak termasuk yang menjalankan fungsi pengamanan dan pengelolaan sumber belajar. Contoh sumber belajar berupa orang adalah guru, aktor, siswa, pembicara, pemain, dan lain sebaginya. Tidak termasuk tim teknisi dan tim kurikulum.

c. Bahan (materials)

Sesuatu, bisa disebut media/software yang mengandung pesan untuk disajikan. Contoh; transparansi, film, slide, tape, buku, gambar, dan sebagainya.

d. Peralatan (devices)

Sesuatu, bisa disebut media/hardware yang menyalurkan pesan untuk disajikan yang ada di dalam software. Contohnya adalah OHP, TV, kamera, papan tulis, komputer, dan sebagainya.

e. Metode/teknik (technique)

Prosedur atau cara yang disiplin dalam memanfaatkan bahan, peralatan, atau situasi untuk menyampaikan pesan. Contohnya ceramah, diskusi, simulasi, belajar mandiri dan sebagainya.

f. Lingkungan

Situasi sekitar di mana pesan disampaikan. Contoh; ruang kelas, studio, aula, dan sebaginya.

Masih menurut Fatah Syukur, bahwa selain klasifikasi sumber belajar di atas ada juga klasifikasi lain yang biasa dilakukan terhadap sumber belajar, yaitu sebagi berikut:

a. Sumber belajar cetak: buku majalah, koran, brosur, poster, denah, kamus, ensiklopedi, dan sebaginya
b. Sumber belajar non cetak: film, slides, video, model, audocassette, transparansi, realita, objek, dan sebagainya
c. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas: perpusatakaan, ruangan belajar, carrel, studio, lapangan olah raga, dan sebaginya
d. Sumber belajar yang berupa kegiatan: wawancara, kerja kelompok, observasi, simulasi, permainan dan sebagainya
e. Sumber belajar yang berupa lingkungan di masyarakat: taman, terminal, pasar, toko, pabrik, museum, dan sebagainya.

Tidak dipungkiri, sumber belajar memiliki peran yang besar dalam menentukan kesuksesan proses pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa manfaat sumber belajar:

a. Dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan langsung.
b. Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi atau dilihat secara langsung dan kongkrit. Misalnya denah, sketsa, foto, film, majalah dan sebagainya.
c. Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas, misalnya buku teks, foto, film, nara sumber, majalah dan sebagainya.
d. Memberikan informasi yang akurat dan terbaru. Sumber belajar juga dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru. Misalnya : Informasi yang di dapat anak melalui buku bacaan majalah yang terbit tiap minggu untuk anak dan nara sumber. Selain memberikan informasi terbaru, juga akan meningkatkan minat baca anak dan terlatih untuk senantiasa haus akan informasi.
e. Meningkatkan motivasi belajar anak. Kreativitas guru untuk memilih dan memanfaatkan berbagai sumber belajar akan mendorong anak menyenangi kegiatan belajarnya karena anak diberikan pilihan sumber pengetahuan, sumber informasi dan sumber belajar yang beragam.
f. Mengembangkan kemampuan berfikir anak secara lebih kritis dan positif. Dengan diberikannya berbagai alternatif sumber belajar kepada anak, kemampuan berfikir kritis anak akan semakin meningkat. Hal tersebut di tunjukan oleh anak dengan banyak mengemukakan pertanyaan terhadap berbagai fakta, peristiwa, kajadian yang ditemukannya di tempat yang disediakan sebagai sumber belajar.

-----------------
catatan:

[1] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2002), hal. 48
[2] Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Depag RI, bagian Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam pada SMTP, 1987/1988), hal. 14.
[3] Mulyasa, Manajemen., hal. 50-51

Media Pembelajaran: Pengertian, Manfaat, Prinsip dan Kriteria Pemilihannya

Jika pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi, maka guru yang bertindak sebagai komunikator mesti pintar memlih wahana penyalur pesan agar apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Wahana penyalur pesan itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan media pembelajaran.

Kata media sendiri berasal dari bahasa latin, yakni medius atau bentuk jamak dari medium yang secara etimologi berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara umum, media dapat diartikan dengan perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Jika media itu banyak, maka sering disebut dengan multimedia. Multimedia yang merupakan kombinasi dari media ini bisa berupa visual, audio, grafik, dan juga informasi berbentuk teks dengan menggunakan teknologi sederhana. Multimedia bukan sekadar sebagai media yang dikumpulkan, namun berupa sejumlah media yang saling melengkapi yang dikombinasikan dan diorganisasikan secara integral dengan memanfaatkan teknologi sebagai sasarannya.[1]

Meski ada yang membedakan antara media dan multimedia, namun secara umum media pembelajaran adalah segala sesuatu yang berupa alat, baik itu berupa buku, televisi, koran, majalah, internet dan lain sebagainya yang membantu pengajar dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran melalui penggunaan alat bantu pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik penggunanya.

Pentingnya media pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran memang tidak diperdebatkan lagi. Namun begitu, para ahli berbeda pendapat berkaitan dengan konsep atau definisi yang tepat mengenai media pembelajaran. Susilana dan Riyana telah merangkum pendapat-pendapat tersebut dalam. Berikut adalah pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan terkait dengan media pembelajaran:

a. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru (Schram: 1977);
b. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk
teknologi perangkat kerasnya (NEA: 1969);
c. Alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar (Briggs: 1970);
d. Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan (AECT: 1977);
e. Berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Gagne: 1970);
f. Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso: 1989).[2]

Media pendidikan tidak hanya terbatas pada alat-alat audiovisual yang dapat dilihat dan didengar, melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini, pribadi dan tingkah laku guru juga tercakup pula sebagai media pendidikan atau pembelajaran.[3]

Secara menyeluruh, pola media pembelajaran terdiri dari:

a. Bahan-bahan catatan aau memaca (suplementari materialis), misalnya buku, komik, koran, majalah, buletin, pamflet, atau lainnya.
b. Alat-alat audiovisual. Alat-alat yang tergolong ini seperti:
1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar
2) Media pendidikan tiga dimensi, misalnya benda asli dan benda tiruan, contoh diorama, boneka dan lain-lain
3) Media yang menggunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas, instrukfi ruang kelas otomatif, interkomunikasi dan komputer.
c. Sumber-sumber masyarakat, berupa obyek-obyek peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.
d. Kumpulan benda-benda, berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih bibit, bahan kimia, darah, dan lain sebagainya
e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru. meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki , gerakan badan mimik, dan lain-lin.[4]

Apapun bentuk media pembelajaran, pastilah media tersebut memiliki dua unsur, yaitu hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak). Unsur hardware adalah unsur pembangun yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau materi pembelajaran. Sementara software adalah unsur pembangun yang berupa informasi atau pesan yang dibawa oleh hardware.

Kedua unsur pembangun media pembelajaran ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Tapi media yang terpenting bukanlah peralatan itu (hardware), melainkan pesan/informasi pembelajaran yang dibawakannya (software).[5]

Urgensi dan Manfaat Penggunaan Media dalam Pembelajaran

Media pembelajaran memiliki banyak manfaat. Ia menjadi salah satu aspek yang menentukan tercapainya tujuan pembelajaran. Tetapi bukan berarti bahwa media pembelajaran adalah segala-galanya. Dalam memilih media pembelajaran juga tidak boleh sembarangan. Media pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran, juga kontes pembelajaran dan karakteristik peserta didik.

Adapun manfaat penggunaan media pembelajaran, menurut Nana Sudjana adalah sebagai berikut:

a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa.
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi.
d. Siswa melakukan kegiatan belajar, seperti mengamati, melakukan dan mendemonstrasikan.[6]

Sementara Susilana & Riyana[7] Kemp & Dayton dalam Susilana & Riyana (2008: 8) mengemukakan kontribusi media dalam pembelajaran sebagai berikut:

a. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar;
b. Pembelajaran dapat lebih menarik;
c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar;
d. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek;
e. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan;
f. Proses belajar dapat berlangsung kapan pun dan di manapun diperlukan;
g. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan;
h. Peran guru berubah ke arah yang lebih positif.

Jadi, berdasarkan paparan para ahli pendidikan di atas, media pembelajaran memiliki fungsi dan peran yang sangat vital dalam menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran yang baik dan tepat penggunaannya, maka semakin memudahkan dan membuat semangat peserta didik dalam belajar, juga membantu guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Media pembelajaran bukan sekadar alat bantu yang berfungsi sebagai pelengkap, namun sebagai sarana untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif, proses pembelajaran menjadi lebih cepat dan kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.

Meski menjadi komponen yang integral, tapi media pembelajaran tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dengan komponen lainnya untuk menciptakan siatusi pembelajaran yang diharapkan.

Prinsip dan Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Sebagaimana sudah disinggung di muka, bahwa media pembelajaran tidak boleh digunakan secara serampangan. Ada kiat dan prinsip tertentu yang mesti diperhatikan agar media pemebelajaran dapat memberikan manfaat yang maksimal guna tercapainya tujuan pembelajaran.

Dalam pemilihan media pembelajaran menurut Sanaky[8], pertimbangan media yang akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan utama, karena media yang dipilih harus sesuai dengan:

a. Tujuan pembelajaran.
b. Bahan pelajaran.
c. Metode pengajaran.
d. Tersedia alat yang dibutuhkan.
e. Pribadi pengajar.
f. Minat dan kemampuan siswa.
g. Situasi pengajaran yang sedang berlangsung.

Sementara itu, Mulyani Sumantri[9] menggaris bawahi tentang prinsip-prinsip dalam pemilihan media pembelajaran yang layak, yakni sebagai berikut:

a. Media harus berdasarkan pada tujuan pembelajaran dan bahan ajar yang akan disampaikan.
b. Media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
c. Media harus disesuaikan dengan kemampuan guru, baik dari pengadaannya maupun penggunaannya.
d. Media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.

Guna melengkapi prinsip-prinsip pemilihan media pembejaran, kiranya penting juga ditambahkan paparan yang disampaikan Azhar Arsyad. Ia memberikan beberapa kriteria pemilihan media pembelajaran yang layak harus memperhatikan beberapa hal, antara lain:

a. Media yang digunakan harus sesuai dengan hasil yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
b. Isi dari media harus tepat untuk mendukung materi pelajaran, agar dapat membantu proses pembelajaran yang efektif, media harus sesuai dan selaras dengan kebutuhan pembelajaran dan kemampuan siswa.
c. Media sebaiknya praktis, luwes dan bertahan. Kriteria ini menuntun para guru untuk memilih media yang ada, yang mudah diperoleh, atau mudah dibuat oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan di mana pun dan kapan pun.
d. Guru terampil menggunakan media tersebut. Ini merupakan salah satu kriteria utama, apapun media yang digunakan guru harus mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat dari media ditentukan oleh guru yang menggunakannya.
e. Pengelompokan sasaran. Media yang layak dan efektif untuk sebuah kelompok kecil atau perorangan, belum tentu menjadi efektif jika digunakan dalam sebuah kelompok besar.
f. Mutu teknis. Pengembangan visual harus memenuhi persyaratan teknis tertentu, misalnya pada sebuah slide informasi utama yang disampaikan tidak boleh terganggu dengan elemen latar belakang.[10]

Keberhasilan penggunaan media pembelajaran tergantung dari beberapa faktor, seperti proses kognitif dan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu para ahli mengajukan prinsip-prinsip kelayakan media pembelajaran sehingga menghasilkan media pembelajaran yang efektif.

Azhar Arsyad[11] menyebutkan prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran antara lain:

a. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dapat dibuat sedemikian rupa, misalnya dengan permainan instruksional, atau dengan yang lainnya.
b. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif. Dengan media pembelajaran yang baik, maka proses pembelajaran diharapkan akan menjadi lebih interaktif. Membuat media pembelajaran yang mudah digunakan oleh siswa,akan membuat siswa lebih tertarik dan berperan aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
c. Tersedia feedback (umpan balik). Media pembelajaran yang baik, seharusnya tersedia umpan balik atau feedback yang dapat dengan mudah dipahami oleh siswa, sehingga jika terdapat kesalahan yang dikerjakan siswa dapat dengan segera diketahui dan dipahami. Media pembelajaran yang menyediakan feedback dapat meningkatkan motivasi diri pada siswa, dengan menginformasikan hasil yang didapat oleh siswa saat mengerjakan.

__________________
[1] Fathurrohman Al-Munawar, Pengembangan Multimedia berbantuan Komputer dalam Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an di PTAI, Jurnal Al-Qalam Vol. 01/I/2007. hal. 71.
[2] Susilana, R. & Riyana, C. Media Pembelajaran. (Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2008), hal. 5.
[3] Drs. Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, (Semarang: RaSAIL, 2005), hal. 131-132.
[4] Ibid, hal. 32.
[5] Ibid, hal. 6.
[6] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002), hal. 2.
[7] Ibid, hal. 8
[8] Hujair Sanaky, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2009), hal. 6.
[9] Mulyani Sumantri, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: CV Maulana, 2001), hal. 156.
[10] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006), hal 75-76.
[11] Ibid, hal. 166

Kelebihan dan Kekurangan E-Learning

Sebelumnya sudah dibahas mengenai Teknologi dan Prasyarat Pendukung E-Learning. Nah Kali ini kita akan bicara soal apa saja kelebihan dan kekurangan e-learning itu sendiri.

Ya, pembelajaran berbasis elektronik atau e-learning memiliki beberapa kelebihan. Menurut Dewi Salma P. & Eveline S[1] berikut e-learning memiliki kelebihan sebagai berikut:

a. Tersedianya fasilitas e-moderating dimana pengajar dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.

b. Pengajar dan siswa dapat menggunakan bahan ajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet.

c. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja apabila diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.

d. Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet.

f. Baik pengajar maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.

g. Berubahnya peran siswa dari yang pasif menjadi aktif.

h. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari Perguruan Tinggi atau sekolah konvensional dapat mengaksesnya.

Selain hal yang sudah disebutkan di atas, banyak kalangan menilai bahwa e-learning adalah pembelajaran yang cocok bagi peserta didik generasi sekarang. Sebab, peserta didik sehari-hari sudah akrab dengan gadget, internet, atau perangkat digital lainnya sehingga mereka akan lebih mudah didekati dengan dunia mereka sendiri.

Meski begitu, pemanfaatan internet untuk e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, yaitu sebagai berikut:

a. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.

b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.

c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.

d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).

e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).

g. Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.

h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Cat:
[1] Dewi Salma P. & Eveline S, Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), hal. 200-201

Teknologi dan Prasyarat Pendukung E-Learning

Memang, fokus e-learning terdapat pada kata ‘learning’ bukan pada elektroniknya. Meski begitu, e-learning baru dapat dilakukan apabila terdapat teknologi pendukungnya, yakni media elektronik.

Sebagaimana sudah dipaparkan di atas bahwa teknologi yang digunakan untuk mendukung e-learning adalah perangkat elektronik apa saja, bisa berupa komputer, film, video, kaset, OHP, Slide, LCD Projector, tape, dan tekonologi internet. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Technology based learning dan Technology based web-learning.

Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara guru dan peserta didik bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.

Penyampaiaan materi e-learning juga dapat melalui synchronous atau asynchronous. Synchronous berarti guru atau dosen dan peserta didik berinteraksi secara waktu nyata. Ini bisa ditempuh dengan menggunakan teknologi semacam videoconferences, audiocenferencing, internet chat, dan desktop video conferencing.

Penyampaian materi dengan synchronous tidak secara bersamaan. Guru atau Dosen menyampaikan intruksi melalui video atau komputer, kemudian peserta didik merespon pada lain waktu. Bisa juga, intruksi disampakan melalui web atau feedback disampaikan melalui e-mail. Meskipun teknologi mempunyai peranan penting dalam penyampaian materi, namun guru mesti tetap fokus pada apa yang disampaikan bukan pada teknologi penyampaiannya. Sebab kunci e-learning yang efektif adalah harus fokus pada kebutuhan peserta didik, kebutuhan materi dan hambatan-hambatan yang dihadapi guru sebelum menggunakan peralatan teknologi informasi.[1]

Sistem e-learning mau tidak mau dapat mengadopsi sistem-sistem yang sudah ada pada sekolah konvensional ke dalam bentuk sistem digital dan internet dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian teknis yang diperlukan. E-learning bisa diibaratkan sebagai hasil cangkokan dari sebuah sistem pendidikan konvensional dan masih merupakan sebuah eksprerimen. Artinya. Sebuah cangkokan baru akan dapat berkembang dengan baik melalui suatu proses penyesuaian dengan lingkungannya yang baru dan akan berkembang secar akontinu dan suatu saat akan setara dan sejajar dengan sekolah konvensional.[2]

Sebagai hasil cangkokan, menurut Onno W Purwo, dkk (2013), sebagaimana dikutip Afrizal Mayub, e-elarning juga mewarisi sifat-sifat dan sistem yang dilakukan nduknya. Sebagai misal sifat yang diwarisi oleh sistem e-elarning dari induknya adalah proses belejar mengajar, seorang guru yang akan menyampaikan matari ajarnya kepad amuridnya yang ada di belahan dunia dihubngan dengan internet. Cara ini relatif sama dengan guru menyampaikan materi ajar pada siswanya. Hanya saja, di sekolah menggunakan papan tulis dan alat tulis lainnya sedangkan di dalam sistem e-learning menggunakan perangkat-perangkat digital yang fungsinya sama dengan fasilitas yang ada di kelas konvensional.[3]

Fungsi E-Learning

Sebelum dipaparkan tentang fungsi e-learning, terlebih dulu kita harus tahu bahwa dalam proses pembelajaran bisa terjadi dengan beberapa model berikut:
a. Pembelajaran yang sepenuhnya secara tatap muka (konvensional).
b. Pembelajaran yang sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet.
c. Pembelajaran yang sepenuhnya dilakukan melalui media internet.

Alternetif model pembelajaran nomor 1 dan 2 paling banyak mendominasi. Dan karenanya gedung sekolah menjadi sarana utama untuk mempertemukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan untuk model pembelajaran nomor 3, masih jarang dijumpai, untuk tidak menyebutnya tidak ada.

Siahaan[4] menyebutkan, 3 (tiga) fungsi e-learning terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi)

a. Suplemen

Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

b. Komplemen (pelengkap)

Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada peserta didik dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka.

Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di dalam kelas. Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka.

c. Substitusi (pengganti)

Dikatakan substantif karena pembelajaran e-learning sudah menggantikan tatap muka antara guru dan siswa. E-learning yang fungsinya substantif ini merupakan satu-satunya model yang digunakan dalam proses pembelajaran. Tidak ada tatap muka secara langsung. Guru dan siswa hanya berkomunikasi dan berinteraksi malalui media internet. Ini sudah diterapkan di beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswa/inya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa/i.

Catatan:
[1] Ristek, Sains dan Teknologi, Berbagai Ide untuk Menjawab Tantangan & Kebutuhan (Gramedia: Jakarta, 2003), hal. 305.
[2] Afrizal Mayub, E-Learning Fisika Berbasis Macromedia Flash MX, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), hal. 12.
[3] Ibid, hal. 12.
[4] Sudirman Siahaan. “Studi Penjajagan tentang Kemungkinan Pemanfaatan Internet untuk Pembelajaran di SLTA di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Ke-8, No. 039, November 2002. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 51

Baca juga:

E-Learning dan Sejarah Perkembangannya

Istilah e-learning memiliki definisi yang sangat luas. Namun, secara sederhana e-learning dapat diartikan dari huruf “e” yang merupakan singkatan dari elektronik dan kata “learning” yang bearti pembelajaran. Dengan demikian e-learning bisa diartikan sebagai pembelajaran dengan memanfaatkan bantuan perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer.

Definisi lain tentang e-learning adalah sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Jika menggunakan definisi ini maka pengertian e-learning menjadi sangat luas. Sebuah portal (web/blog) yang menyediakan informasi tentang suatu topik dapat pula tercakup dalam lingkup e-learning ini.[1] Namun, istilah e-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet.

E-learning dapat pula diartikan sebagai sebuah proses pembelajaran yang dilakukan melalui network (jaringan komputer), biasanya lewat internet atau intranet. Dengan fasilitas internet, e-learning tidak tergantung pada pengajar, karena akses informasi (knowledge) lebih luas dan lengkap, sehingga pembelajar dapat belajar kapan saja dan dimana saja.

Dalam teknologi e-learning, semua proses pembelajaran yang biasa didapatkan di dalam sebuah kelas dapat dilakukan secara live namun virtual. Artinya pada saat yang sama seorang pengajar mengajar di depan sebuah komputer yang ada di suatu tempat, sedangkan pembelajar mengikuti pembelajaran tersebut dari komputer lain di tempat yang berbeda.

Secara umum terdapat dua persepsi dasar tentang e-learning yaitu:

a. Electronic based e-learning, yaitu pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama perangkat yang berupa elektronik. Artinya, tidak hanya internet, melainkan semua perangkat elektronik seperti film, video, kaset, OHP, Slide, LCD Projector, tape dan lain-lain sejauh menggunakan perangkat elektronik.

b. Internet based, yakni pembelajaran yang menggunakan fasilitas internet yang bersifat online sebagai instrumen utamanya. Dalam hal ini, e-learning bukanlah pembelajaran yang dilakukan secara offline (tanpa jaringan internet), tetapi e-learning adalah pembelajaran yang dilakukan secara online yang harus difasilitasi komputer yang terhubung dengan internet. Artinya pembelajar dalam mengakses materi pembelajaran tidak terbatas jarak, ruang dan waktu, bisa dimana saja dan kapan saja (any where and any time).

E-learning untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, e-learning terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Wikipedia[2] menyebutkan perkembangan e-learning melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

a. Tahun 1990 Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.

b. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

c. Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.

d. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

Sekarang, hampir semua perguruan tinggi memiliki situs, meski tidak semuanya dilengkapi dengan fasilitas e-learning. Mudahnya membuat web atau blog juga membuat banyak sekolah membuatnya. Demikian pula blog-blog yang dibangun oleh guru, yang sebagian sengaja untuk digunkan sebagai tempat untuk membagikan materi kepada peserta didik, bahkan sebagian lagi sudah digunakan untuk melakukan evaluasi (test) secara online.

Di Indonesia sendiri penerapan e-learning terus berkembang seiring dengan perkembangan infrastruktur ICT. Kemudahan akses internet dan murahnya perangkat untuk mengakses internet membuat pengguna internet di Indonesia terus bertambah.

Dewasa ini program-program e-learning (baik electronic based learning atau internet based) sudah mulai banyak diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, dan terus bertambah. Banyak guru sudah menciptakan blog pribadi untuk kemudian dimanfaatkan sebagai e-learning. Pemerintah juga telah menyediakan dan membuat beberapa portal yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi siswa. Ke depan, semakin bertambahnya pemakai internet dan kesadaran akan penggunaan internet secara sehat, diprediksikan perkembangan e-learning melalui internet dalam pembelajaran akan semakin meningkat pesat.

caatatan:
[1] Munir, Pendidikan Dunia Maya, Ilmu & Aplikasi Pendidikan, (Bandung: Imtima, 2007). hal 506.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik, diakses 15 September 2014.

Baca juga: Penjelasan tentang Internet, ICT dan Dunia Pendidikan