Diberdayakan oleh Blogger.
Home » , » Pemikiran Jalaluddin Rakhmat Tentang Pendidikan

Pemikiran Jalaluddin Rakhmat Tentang Pendidikan

Pluralisme Indonesia
sumber gambar: hidayatullah.com
Kita tidak asing lagi dengan nama Jalaluddin Rakhmat. Beliau dikenal sebagai salah seorang intelektual, ahli tasawuf, pembaharu Islam, dan pakar ilmu komunikasi. Memang, kiprah beliau dalam dunia pemikiran Islam, sudah cukup lama, dan kerap menjadi bahan perbincangan. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa pemikiran-pemikiran Kang Jalal, demikian Jalaluddin Rakhmat biasa di sapa, merupakan pemikiran yang kontroversial.

Jalaluddin Rakhmat, yang notabene merupakan alumni Pesantren, tetapi dia sendiri kini menjadi tokoh Syiah Indonesia telah terkenal dengan berbagai karya dan pemikirannya. 

Sekarang beliau juga mengabdi sebagai Kepala Sekolah Muthahhari di mana beliau menerapkan hasil pemikiran Jalaluddin Rahmat dalam bidang pendidikan. Makalah ini akan membahas mengenai biografi dan karya-karya Jalaluddin Rakhmat. Juga mengungkapkan pokok-pokok pemikirannya dalam bidang pendidikan.

Biografi dan Karya Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rahmat yang biasa dipanggil Kang Jalal, dilahirkan di Bojongsalam-Bandung pada 29 Agustus 1949. Pada usia yang relatif kecil, Kang Jalal sudah dapat menguasai bahasa arab di pesantren NU asuhan kiai Shidik. Di pesantren inilah Kang Jalal dididik oleh kiainya sampai bisa hafal Alfiyah Ubnu Malik. Bukan cuma itu, Shidik juga diakui Kang Jalal bersifat "liberal". Semula ia NU, lalu berubah menjadi Muhammadiyah dan berkiblat politik ke Masyumi. Sikap non-sektarian, dalam pengertian terbuka terhadap pelbagai mazhab dan sikap menghormati perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini dikembangkan Jalal, barangkali tak lain merupakan jejak warisan yang diperoleh dari gurunya.

Ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Iowa State University. Ia mengambil kuliah Komunikasi dan Psikologi. Tetapi ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasannya Ia lulus dengan predikat magna cum laude. Karena memperoleh 4.0 grade point average , ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi.

Pada tahun 1981, ia kembali ke Indonesia dan menulis buku Psikologi Komunikasi. Ia merancang kurikulum di fakultasnya, memberikan kuliah dalam berbagai disiplin, termasuk Sistem Politik Indonesia. Kuliah-kuliahnya terkenal menarik perhatian para mahasiswa yang diajarnya. Ia pun aktif membina para mahasiswa di berbagai kampus di Bandung. Ia juga memberikan kuliah Etika dan Agama Islam di ITB dan IAIN Bandung, serta mencoba menggabungkan sains dan agama.

Jalaludin Rakhmat juga mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian, dll. Secara khusus ia pun membina kuliah Mysticism (Irfan/ Tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS), Paramadina University, yang ia dirikan bersama almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Haidar Bagir, dan Dr. Muwahidi sejak tahun 2002.

Di tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah di berbagai kota di Indonesia, ia tetap menjalankan tugas sebagai Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung, sekolah yang yang didirikannya dan kini menjadi sekolah model (Depdiknas) untuk membangun paradigma kritis generasi bangsa serta membina akhlak. Sebagai ilmuwan ia juga menjadi anggota aktif berbagai organisasi professional, nasional dan internasional, serta aktif sebagai nara sumber dalam berbagai seminar dan konferensi. Sebagai mubaligh, ia juga sibuk mengisi berbagai pengajian.

Dengan latar belakang keluarga, pendidikan, sekaligus sosial budaya yang terurai seperti di atas secara umum pemikiran Jalaluddin Rahmat dapat dikategorikan dalam beberapa aspek. Mulai dari aspek bidang pendidikan, fikih, komunikasi, sosial, sampai pada tasawuf seperti karya-karyanya yang mencakup beberapa aspek. Karya-karyanya dibuat dalam rangka menjawab tantangan dan paham paradigma yang beliau anggap keliru.

Di antara karya Jalaluddin Rahmat, baik yang sudah diterbitkan maupun yang disampaiakn kepada para mahasiswa dan masyarakat adalah sebagai berikut : Psikologi Komunikasi (1985), Islam Alternatif (1986), Islam Aktual (1991), Renungan-Renungan Sufistik (1991), Retorika M oderen (1992), Catatan Kang Jalal (1997), Reformasi Sufistik (1998), Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999), Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999), Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999),Rindu Rasul (2001), Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003), Meraih Kebahagiaan (2004), Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005), Memaknai Kematian (2006), Islam dan Pluralisme, Akhlak Al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (2006).[1]

Pemikiran Pendidikan Jalaluddin Rahmat

Jalaluddin Rakhmat, meski belum begitu dikenal akrab oleh pakar-pakar pendidikan, tetapi beliau telah memberikan pemikirannya dalam bidang pendidikan. Pemikirannya sedikit banyak telah memberikan sumbangan bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan, terutama bagi kemajuan ilmu pendidikan, khususnya menyangkut pokok-pokok pemikiran pendidikan Islam.

Berikut ini kami paparkan beberapa pokok pemikiran Jalaluddin Rakhmat dalam bidang pendidikan:

1. Landasan Filosofis Pendidikan Islam

Pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang pendidikan Islam dapat diidentifkasikan antara lain: landasan filosofis pendidikan Islam harus dibangun di atas pondasi yang kuat, baik sisi epistemologi, konsep manusia dengan merujuk pada sumber normatif yaitu al-Qur'an dan Sunnah. 

Epistemologi Islam sudah jelas, sebagaimana konsepnya, Jalaluddin Rakhmat tidak mengenal pada dikotomik, memiliki nilai spritualitas-sufistik, serta holistik. Menurutnya, manusia merupakan makhluk yang Musayyar dan Mukhayyar.

Sebagai musayyar, manusia yang tersusun dari unsur-unsur materi, maka secara otomatis tunduk terhadap hukum-hukum takdir Tuhan. Dan sebagai Mukhoyyar, manusia dari sisi insan dan al-Nas yang dibekali sifat-sifat rabbaniyah dan hembusan nilai Ilahiyah, manusia diberi jaminan oleh Tuhan dengan suatu kebebasan dan kreatif.[2]

2.  Mengembangkan Ilmu dan Iman

Hakikat manusia yang paling esensial menurut Jalaluddin Rakhmat adalah bahwa manusia diberi kemampuan dalam mengembangkan Ilmu dan Iman. Namun, menurutnya, dalam pandangan Al-QUran, sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman sekaligus. sedikit orang yang beriman, sedikit orang yang berilmu dan lebih sedikit algi orang yang berilmu dan beriman. Kelompok inilah yang disebut Alquran, "Allah mengangkat derajat orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu" (Q.S. 58: 11) Maka hidup manusia diukur sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya.[3]


3.   Perpaduan Tubuh dan Jiwa

Secara khas pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang pendidikan Islam mengisyartkan bahwa: pendidikan harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa.

Di dalam buku yang berjudul Belajar cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, Jalaluddin Rakhmat bermaksud membuktikan bahwa sel-sel otak manusia mengalami perubahan, tidak tetap seperti ketika orang lahir. Ia tumbuh dan berkembang terus menerus. Sel-sel baru lahir, cabang-cabang dendrit beranak -pinak. Karena kecerdasan manusia terletak pada hubungan-hubungan di antara neuron-neuran itu, maka tumbuhnya koneksi-koneksi itu juga menunjukkan pertumbuhan kecerdasan.[4]

Selain itu, menurutnya, lingkungan juga memperkuat otak, bukan hanya semata-mata dengan memberikan tantangan. Lingkungan itu juga memberikan peluang untuk belajar dengan banyak begerak.[5] Secara keseluruhan, lingkungan lebih menentukan daripada keturunan. hal ini dibenarkan, karena gen dan pengaruh orangtua ikut membentuk otak, tetapi gen tidak menentukan nasib. Pendidikan dan tantangan menentukan berfungsi tidaknya pikiran kita.[6]

Apa yang dimakan manusia juga akan berpengaruh terhadap otak. Oleh sebab itu otak juga perlu mendapat suplai makanan-makanan yang bergizi.[7]

Selain dimensi tubuh, menurut Jalaluddin Rakhmat, manusia memiliki kemampuan hampir tidak ada batasnya. Dimensi spiritual (mistikal) mampu memberikan pengetahuan baik substansi maupun proses. Sebagai ahli tasawuf, Jalaluddin Rakhmat sangat yakin bahwa Allah akan memberikan ilmu kepada hamba-hamba yang hatinya sepenuhnya diberikan untuk Tuhan. Dia memetik hadist nabi:

"Didunia ini ada sekelompok hamba Allah yang menjadi lemari-lemari penyimpan kebijaksanaan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan hati setujul-tulusnya untuk Allah." Menurutnya, merekalah yang memperoleh pengetahuan tidak melalui otak-atik otak, tetapi melalui pembersihan hati. Ke sanalah kita semua berharap untuk menujur.[8]

Penddikan Islam harus mampu memberikan internalisasi nilai-nilai spiritual. Pendidikan yang mampu memberikan pencerahan spiritual, yaitu pencerahan yang mengantarkan pada keakraban, cinta, keberanian, nilai eskatis dan kemabukan dalam diri sang Khaliq (Allah).

Sebagaimana telah diterapkan pada sekolah Muthahhari, Pembinaan spiritual dilakukan dengan berbagai metode, sebagai berikut:

Pertama, Tadarus Al Qur’an yang diadakan pada jam pertama (sebelum pelajaran dimulai), paling sedikit tiga ayat. Kegiatan ini disamping untuk membiasakan siswa membaca Al Qur’an, juga dalam rangka membersihkan jiwa dengan bertabarruk (mencari berkah) dari bacaan Al Qur’an. Kedua, menggiatkan salat berjamaah dalam rangka membangun kebersamaan di antara guru dan siswa. Ketiga, membaca suat Yasin dan do’a pada malam Jum’at (minimal sekali dalam sebulan), dimana seluruh guru dan siswa diajibkan hadir. Acara ini juga mengundang masyarakat sekitar sekolah. Keempat, Pengajian Ahad Pagi bersama masyarakat sekitar. Kelima, mengadakan peringatan hari-hari bersar Islam.[9]


Pendidikan Inklusif dan Pruralistik.


Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralisme memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.

Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA.

Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif dan humanis.

Jalaluddin Rakhmat mengakui, sekolah yang didirikannya mengajarkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan di antara berbagai madzhab. Dia berpandangan bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang Akhlak, semua orang bisa setujua, apa pun mazhabnya.[10]

Melalui sistem pendikikanya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralisme akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.

 Berangkat dari asumsi dasar bahwa pluralitas agama merupakan sunnatullah, maka SMUTH melalui majalah dan buku-buku yang diterbitkan –baik yang ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, para guru maupun siswa- memperkenalkan bahwa perbedaan manusia dengan agama yang dipercayainya merupakan merupakan kenyataan ontoligis yang tak terbantahkan. Karenanya, dialog yang santun menjadi sebuah prasyarat terbangunnya pluralitas yang sehat, terlebih dalam era globalisasi dewasa ini. Dalam era globalisasi pluralitas sosial, kultur, ideologi bahkan agama merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap umat beragama, tidak bisa ditolak. Menolak pluralitas justru akan sangat membahayakan terciptanya kedamaian yang diidamkan semua pihak.[11]

Penutup

Jalaluddin Rakhmat memiliki latar belakang keluarga, pendidikan, sekaligus sosial budaya yang terurai penuh liku. Perjalanan hidupnya tersebut mempengaruhi pemikiran Jalaluddin Rahmat dalam berbagai bidang. Mulai dari aspek bidang pendidikan, fikih, komunikasi, sosial, sampai pada tasawuf. Pemikiran Jalaluddin Rahmat telah ditulis dalam karya-karyanya yang sebagian dibuat dalam rangka menjawab tantangan dan paham paradigma yang beliau anggap keliru.

Dalam bidang pendidikan, Kang Jalal telah menelorkan beberapa pokok pemikiran. Epistemologi Islam menurutnya sudah jelas, yakni tidak mengenal dikotomik, memiliki nilai spritualitas-sufistik, serta holistik.

Hakikat manusia yang paling esensial menurut Jalaluddin Rakhmat adalah bahwa manusia diberi kemampuan dalam mengembangkan Ilmu dan Iman. Namun, menurutnya, dalam pandangan Al-QUran, sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman sekaligus. sedikit orang yang beriman, sedikit orang yang berilmu dan lebih sedikit algi orang yang berilmu dan beriman.

Selain itu, Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa pendidikan Islam harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa. Keduanya tidak boleh timpang, melainkan harus berjalan secara seimbang.

Yang paling terkenal dari pemikiran Jalaluddin Rakhmat adalah pemikirannya tentang pendidikan inklusif dan pluralistik. Melalui sistem pendikikanya, sebuah pendidikan berbasis pluralistik akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.


Catatan kaki:
[1] http://www.referensimakalah.com/2013/01/biografi-jalaluddin-rahmat.html, diunduh 10 Januari 2013
[2] Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, Serambil Ilmu Semesta: Bandung, 2006. Hlm. 135-136.
[3] Ibid, hlm. 138.
[4] Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak, Cet. VII, Penerbit MLC: Bandung 2007. Hlm. 27.
[5] Ibid., Hlm. 33
[6] Ibid., hlm. 37
[7] Ibid., hlm. 35
[8] Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi, Pustaka IlMaN, Depok, 2008. Hlm. 119
[9] Abdul Wahid, Pendidikan Prulalistik: Belajar dari SMU Muthahhari,  (http://abdulwahidilyas.wordpress.com/2010/08/26/pendidikan-pluralistik/) diunduh, 26 Januari 2013
[10] Jalaluddin Rakhmat, Islam dan…, Op.Cit, hlm. 7.
[11] Abdul Wahid, op.cit, tanpa halaman.
Daftar Pustaka


Sumber Bacaan:


Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak, Cet. VII, Penertbit MLC: Bandung 2007.

Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, Serambi Ilmu Semesta: Bandung, 2006.

Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi, Pustaka IlMaN, Depok, 2008.

http://www.referensimakalah.com/2013/01/biografi-jalaluddin-rahmat.html

Abdul Wahid, Pendidikan Prulalistik: Belajar dari SMU Muthahhari, http://abdulwahidilyas.wordpress.com/2010/08/26/pendidikan-pluralistik/