Diberdayakan oleh Blogger.

Beragam Cara Meningkatkan Potensi Non-Akademik Siswa


Penyaluran bakat menari tradisional
Penyaluran bakat menari tradisional

Ada seorang ayah, sebutlah bernama Ronal, sangat berharap kelak anak lelakinya menjadi pemain sepak bola internasional. Maklum, Ronal begitu tergila-gila dengan bola dan pernah pula bercita-cita menjadi pemain sepak bola yang mendunia. Maka, ketika anak lelakinya lahir, ia menggepalkan tangan sembari membayangkan cita-citanya yang kandas. “Aku boleh gagal, tetapi Dinho anakku tidak! Dinho akan meneruskan cita-citaku, harus!”

Sejak Dinho hingga SMA segala upaya Ronal dilakukan agar anaknya bisa berlaga di pentas dunia. Mulai dari memasukkannya ke sekolah sepak bola, sampai mengajaknya menonton langsung Final Piala Champion di London. Sayang, Dinho tidak begitu tertarik dengan sepak bola. Kalau pun ia selalu menurut setiap kali dibangunkan malam-malam oleh ayahnya untuk nonton sepak bola, bukan karena ia ingin mengamati teknik permaianan tingkat tinggi klub-klub dunia, tetapi karena diam-diam Dinho sudah bertaruh dengan teman sekelasnya. Dan meskipun Dinho mengikuti sekolah sepak bola, bukan semata-mata ia menuruti kehendak ayahnya, tetapi karena banyak teman-temannya juga ikut.

Sebenarnya, sang Ayah sendiri cukup menyadari bahwa anaknya kurang berbakat dalam bermain sepak bola. Sebab selama ini, Dinho sering kalai hanya digunakan sebagai pemain cadangan ketika klubnya berlaga dan Dhinho merasa enjoy saja.

Lalu, seperti apa masa depan Dinho?

Hem, Kawan tentu bisa menebaknya. Sebab toh kisah tersebut hanya fiksi, dan saya membuka peluang selebar-lebarnya kepada Kawan untuk membuat dugaan atas masa depan Dinho.

Meski fiksi, bukan berarti kisah tersebut lahir dari ruang hampa. Betapa sering kita mendengar kisah-kisah serupa, di mana orang tua atau guru yang memaksakan kehendaknya. Memang masa depan anak bisa diarahkan, tetapi keliru jika kita memaksakan.

“Pokoknya kau harus menjadi Dokter!” Padahal si Anak lebih berbakat melukis, dan berakibat anak tersebut jadi pasien. “Kau harus jadi Hakim!” Tapi si Anak memilih jadi pengusaha. “Kau harus begini!” Sementara si Anak ingin begitu, dan seterusnya.

Demikian pula seorang Guru, tidak patut untuk memaksakan siswa agar sejalur dengan kehendaknya. Bagaimana pun seorang siswa adalah manusia. Manusia yang secara fitrah begitu membutuhkan rasa kasih sayang, harga diri, dan kebebasan. Pengekangan terhadap cita-cita, bakat, dan minat anak, adalah bagian dari upaya pemberangusan kebutuhan dasar manusia. Wah, serius amat nih! Maaf, tapi ini penting, sebab Guru adalah juga manusia, tempatnya salah dan lupa.  :)

Betapa kita kerap tercengang ketika mendengar siswa yang dulu bengal di sekolah, yang nilai matematikanya jauh di bawah rata-rata siswa lain, ternyata sekarang menjadi dosen, bupati, atau pengusaha yang berhasil. Kerap pula kita mendapati siswa-siswa kita yang nilainya top, selalu naik kelas, dan rajin menabung di koperasi, tetapi ternyata kini menjadi buronan polisi. Bukankah begitu, Kawan?

Artinya apa? (Stop dulu! Dipikirkan dulu sebelum lanjut membaca! Hehe) Yup, kesuksesan akademis, angka-angka dalam ijazah, belum tentu membawa seseorang meraih masa depan yang gemilang. Lalu kenapa banyak sekolah lebih sering hanya mengembleng siswa untuk meraih prestasi akademis? Bukankah, seturut penelitian di Harvard University tahun 2000, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh pengetahuan dan 80 persen oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain. Dalam arti lain, kemampuan non-akademis siswa lebih bisa membawa siswa sukses di masa depan ketimbang kemampuan akademis.

Mungkin kita akan menyalahkan kurikulum. Boleh-boleh saja. Dan memang sangat masuk akal. Kurikulum, sebutlah KTSP (tahulah kepanjangannya apa?) memang terlampau memberikan banyak beban akademis kepada siswa, sehingga siswa lupa belajar mengelola diri sendiri dan orang lain—yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan.

Lalu bagaimana semestinya seorang guru bersikap, dan apa yang mesti diusakan untuk mengembangkan karakter sukses siswa berupa kemampuan non-akademis? Kita memang pantas berkata “wow” menyambut pertanyaan besar tersebut. Dan sebagai guru, saya punya pandangan dan kegelisahan yang semuanya bertumpu pada apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami.

Inilah beberapa kegelisahan, saran, dan hal-hal kecil yang saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan non-akademis siswa:

Ada Dusta di Brosur PPDB

 Ada banyak siswa yang kecewa karena sekolah mereka yang baru tidak sesuai dengan apa yang yang dilihat di brosur promosi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Ya, brosur atau poster PPDB memang kerap dibuat serupa iklan yang menawarkan janji-janji palsu dan penuh polesan yang menyimpan dusta-dusta. Di brosur PPDB biasanya tertera berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang bisa diikuti secara gratis oleh siswa, tetapi pada kenyataannya hanya ada satu ekskul saja, yakni Pramuka.

berperan sebagai setan (kebetulan saya pembimbing teaternya. hehe)
berperan sebagai setan (kebetulan saya pembimbing teaternya. hehe)
Ini kerap kita temui, tetapi untungnya di sekolah saya tidak. Maksudnya tidak persis benar. J Selain Pramuka ada juga ekskul lain yang bisa mengembangkan potensi non-akademis siswa, seperti musik, teater, rebana, sepak bola, PMR, dan KIR. Sedangkan untuk pencak silat dan TIK, tak pernah tercium baunya, meskipun ekskul itu tertera di brosur PPDB. Terus terang, saya kecewa, juga kasihan terhadap banyak siswa yang berminat ingin mendaftar ekskul tersebut.

Seolah hal itu sepele, tetapi diam-diam banyak siswa yang frustasi dan pada akhirnya melupakan bakat dan minat yang rencananya akan mereka kembangkan di sekolah yang baru.

Mendidik Wali Siswa

Memang kurang tepat melimpahkan gagalnya pendidikan hanya kepada Guru dan sekolah. Sebab pendidikan yang paling utama dan sangat berpengaruh adalah pendidikan di keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, Guru dan Wali Siswa harus berjuang bersama. Untuk menyatukan langkah tersebut, dibutuhkan kesepahaman bersama, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan bagi wali siswa.

Kita tahu, terkadang orangu tua kurang paham bagaimana cara mendidik anaknya dengan baik. Orang tua juga kerap tidak peduli dengan bakat atau kemampuan non-akademis yang dimiliki sang anak. Dan kalaupun ada orang tua tahu bakat non-akademis anak, mereka tidak pernah melaporkan ke sekolahan.

Maka dari itu, sesekali, atau setahun dua kali, wali siswa perlu dihadirkan di sekolahan untuk diberikan pendidikan khusus tentang proses pendidikan anak di rumah, serta melakukan upaya bersama untuk mengembangkan potensi non-akademis anak.

Rapat Pleno
Rapat Pleno Komite

Sayangnya, yang terjadi selama ini, jika sekolah mengundang wali siswa, biasanya adalah dalam rangka memusyawarahkan urusan dana. Jika menyinggung-nyinggung soal pendidikan siswa di rumah, sifatnya hanya memberikan motivasi yang dangkal, jauh dari pengarahan yang mendalam.

Menanamkan Kepada Anak bahwa Nilai Bukanlah Segalanya

Saya percaya kekuatan kata. Lebih-lebih kata-kata yang keluar dari hati. Maka, tidak letih-letihlah saya selalu meminta para siswa untuk jujur ketika mengerjakan ulangan harian. Ingin dengar ceramah yang saya ulang-ulang sebelum ulangan harian dan mengawasi ujian semester? Kurang lebih begini:

“Berapa pun nilaimu, tidak masalah! Tetapi kejujuran kalian harus seratus. Negeri ini sudah terlampau banyak sarjana dengan nilai-nilai yang memukau, tetapi kini mereka menjadi pengangguran dan meresahkan masyarakat. Ketika kamu mati, kamu tidak akan ditanya berapa nilau ulanganmu, tetapi yang akan ditanyakan adalah kejujuranmu. Siswa yang memberikan jawaban kepada temannya bukanlah teman yang baik. Sebab tindakannya itu tidak membuat kawannya pandai, tetapi justru membodohkan!” 

Dan apakah ceramah itu langsung manjur? Tidak! Banyak siswa masih terlihat mencoba mencuri jawaban temannya, dan tidak sedikit pula yang bisik-bisik. Tetapi, karena saya terus dan terus menanamkan kejujuran, perubahan bisa saya lihat pada ulangan-ulangan berikutnya.

Apa kaitannya kejujuran dengan kemampuan non-akademis? Sangat sederhana: Kejujuran adalah usaha menjadi diri sendiri. Seseorang tidak akan bisa memahami dirinya sendiri ketika ia tidak punya pendirian dan bergantung kepada orang lain. Pendidikan mesti dipayakan agar siswa mampu menemukan dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya sanggup mengelola segala kemampuannya.

Uji Bakat

Sejauh ini, jarang ada sekolah mengadakan test bakat bagi siswa. Termasuk di sekolah saya juga tidak ada. Padalah, jika kita ingin mengembangkan kemampuan non-akademis siswa, paling tidak kita memiliki data tentang itu.

Soal bakat memang masih sering menjadi bahan perdebatan. Jika Albert Einstein menyatakan bahwa untuk sukses dibutuhkan 1 persen bakat dan selebihnya kerja keras, itu tentu bisa kita terima. Tetapi bukan berarti bakat tidak penting untuk membawa orang menuju sukses.
Seorang siswa baru sedang uji bakat di ajang pentas seni
Seorang siswa baru sedang uji bakat di ajang pentas seni

Bakat sebenarnya mudah dikenali. Jika Dinho merasa enjoy saja meski selalu dipasang sebagai pemain cadangan, maka bisa dimengerti bahwa ia sebenarnya tidak berbakat bermain sepak bola. Lebih-lebih ketika diketahui bahwa ia tidak aktif dan giat untuk mengamati teknik tingkat tinggi permaian sepak bola dunia, tetapi justru lebih senang taruhan.

Nah, bagaimana cara mudah mengetahui bakat siswa? Kegiatan-kegiatan semacam class meeting sangat penting untuk diadakan. Tentunya dengan jenis-jenis perlombaaan yang memberikan ruang kepada siswa untuk memunculkan kemampuan non-akademis mereka. Seperti lomba menyanyi, menulis, atletik, pidato, dan lain sebagainya.

Saya sendiri punya cara unik untuk mengetahui kemampuan terpendam yang dimiliki siswa. Beberapa kali, saya memberikan tugas kepada siswa, yang mana tugas tersebut boleh dikerjakan sesuai dengan bakatnya masing-masing. Misal, buatlah “sesuatu” dengan tema syukur! Sesuatu itu bisa puisi, boleh gambar, karangan ilmiah, boleh lirik lagu, boleh apa saja. Saya sadar, setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, dan karenanya kita mesti mengawal dan mengembangkan kecerdasan mereka.
Memajang hasil karya siswa di dinding kelas
Memajang hasil karya siswa di dinding kelas

Tahukah, Kawan, betapa para siswa begitu antusias mengerjakan tugas saya tersebut. Dan saya terpana melihat hasil kerja mereka. Hasil yang bisa saya gunakan untuk meraba-raba bakat yang mereka miliki.

****

Tidak terasa, saya sudah terlalu panjang menulis, dan waktu sudah dini hari ketika tulisan ini dibuat. Sebagai penutup, agaknya kita perlu mengingat apa yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan adalah usaha memerdekakan peserta didik agar tidak hidup terperintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya. Dengan begitu, maka kemampuan akademis dan non-akademis siswa dapat berkembang.

Guru dan Karyawan MTs N Wonosobo


Nah ini dia guru dan karyawan MTs Negeri Wonosobo. Sebagian besar dari foto-foto ini diambil ketika Upacara Bendera pada tanggal 17 bulan September 2012 sehinga guru-guru mengenakan seragam Korpri. Bisa didownload lho, dan bisa buat kenang-kenangan.

Memasyarakatkan IPTEK Lewat Fiksi

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) seringkali hanya dipahami sebagai sebuah produk yang sudah jadi. Masyarakat menganggap hukum-hukum serta rumus-rumus fisika atau matematika sebagai sesuatu yang biasa. Sedikit saja orang yang kemudian mempertanyakan, kapan dan bagaimana sebuah suatu rumus fisika atau matematika ditemukan.

Selain kenyataan di atas, pelajaran-pelajaran sains di sekolah juga seringkali dianggap sebagai sesuatu yang rumit, sulit, dan bahkan menakutkan. Para siswa kerap menganggap bahwa mata pelajaran sains hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Mitos-mitos tersebut telah berjalan turun-temurun sehingga membuat generasi muda di Indonesia pada akhirnya memilih menjauhi dunia sains dan merasa “bangga” hanya menjadi penonton dan penikmat (konsumen).

Pertanyaannya, bagaimana untuk lebih mengakrabkan sains dengan masyarakat? Kita tahu, kebanyakan orang masih menganggap sains hanya bisa dipelajari di laboratorium, dengan peralatan dan bahan-bahan tertentu sebagaimana sering kita saksikan di tayangan-tayangan televisi. Padahal tidak melulu begitu. Sebenarnya, sains bisa pula dipelajari oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, melalui berbagai media. Salah satu media yang ampuh untuk mengakrabkan masyarakat dengan sains adalah sastra, khususnya fiksi sains.

Melalui karya-karya fiksi sains, yang di dalamnya dipadukan antara sains dan fiksi, membuat citra sains yang selama ini dianggap berat dan sulit menjadi lebih ringan. Sehingga hal ini akan menarik minat masyarakat yang tadinya menjauhi sains karena menganggapnya sulit.

Fiksi sains bisa menjadi salah satu sarana yang efektif dan komunikatif untuk mengenalkan dan menarik minat masyarakat terhadap dunia IPTEK. Terkadang IPTEK dianggap sebagai sesuatu yang sulit karena orang tidak mengerti dengan istilah-istilah IPTEK yang asing. Tetapi dalam fiksi sains, istilah-istilah IPTEK seringkali lebur dalam cerita, disertai penjelasan-penjelasan yang mudah dipahami. Orang yang ingin memahami cerita terkadang dituntut untuk juga memahami istilah-istilah tersebut.

Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, misalnya, di dalamnya banyak kita dapatkan istilah-istilah fisika dan biologi. Meski tidak semua istilah diterangkan dalam catatan-catatan khusus, tetapi istilah-istilah tersebut menjadi akrab bagi pembaca dan pada akhirnya menarik minat mereka terhadap masalah-masalah sains.
Fiksi sains, yang biasanya di dalamnya memuat perkembangan-perkembangan IPTEK, telah berperan serta membuat masyarakat mengenal sains lebih dekat tanpa merasa digurui. Kemungkinan-kemungkinan munculnya teknologi masa depan di dalam karya fiksi sains juga bisa memotivasi dalam memelakukan perkembangan dan pemanfaatan IPTEK untuk berbagai kebutuhan.

Fiksi sains juga bisa menjadi sarana belajar tentang kehidupan karena di dalamnya terdapat kisah-kisah tentang kemanusiaan. Sedangkan kehidupan, kita tahu, tidak bisa dipisahkan dari lingkungan atau alam sekitar kita. Siapa yang tidak tahu bahwa membuang sampah di sungai akan berdampak banjir dan kerusakan lingkungan yang lain? Tetapi pemahaman saja tidak cukup untuk mendorong orang merubah prilaku masyarakat yang “jahat” terhadap alam. Di sinilah, fiksi sains mengambil perannya. Sebab lewat karya fiksi, orang diajak bukan saja untuk memahami, lebih dari itu adalah untuk merenungi, sehingga yang muncul kemudian adalah kesadaran yang muncul dari dalam.

Selain lewat fiksi, upaya untuk mensosialisasikan IPTEK memang mesti ditempuh dengan berbagai cara lainnya. Olimpiade sains, lomba-lomba sains, penerjemahan buku-buku IPTEK, dan media (cetak dan elektronik) juga harus turut serta berpartisipasi. Dengan itu, diharapkan masyarakat Indonesia tidak lagi buta dan gagap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menguatkan Desa, Menjewer Penguasa

ladang-ladang kentang

Lebaran sudah berlalu, meski barangkali masih menyisa kue-kue di meja tamu. Balon-balon telah diterbangkan, walau jatuh lagi ke bumi dan diterbangkan lagi dan lagi. Bank, pegadaian, dan sekolah kembali ramai, juga Rumah Sakit, yang pasca Lebaran biasanya dipenuhi pasien diare. Demikianlah kita memperhatikan kejadian-kejadian pasca lebaran. Tapi ada yang lebih penting dan menarik, yang kadang-kadang luput dari perhatian: Para perantau yang balik ke kota, meninggalkan istri dan anak mereka tetapi justru menggandeng tetangga dan sanak saudara untuk mengadu nasib di luar tanah kelahiran.

Merantau, kita tahu, bukanlah budaya asli orang Jawa, khususnya bagi masyarakat pedalaman dengan tanah-tanahnya yang subur. Mangan ora mangan sing penting ngumpul, itulah pepatah yang sangat dikenal. Dan selama bertahun-tahun pula pepatah itu membumi. Tapi bumi terus berputar mengelilingi matahari. Dan sekarang kita banyak menjumpai orang-orang Wonosobo merantau ke Kalimantan, Sumatera, Jakarta, Aceh, hingga Malaysia dan Hongkong, yang itu semua semata-mata demi memenuhi tuntutan ekonomi.

Dulu, pada era kemakmuran kentang (sekitar 1985-1995) bagi masyarakat di sekitar pegunungan Dieng, hijrah ke kota karena faktor ekonomi adalah suatu kekonyolan. Bagaimana tidak, dalam satu hektar lahan, bisa dihasilkan 30-40 ton kentang. Panen yang melimpah itu didukung pula oleh harga kentang yang mahal dan stabil, selain juga pupuk dan obat-obatan murah. Maka tidak heran, pada waktu itu, jamaah haji Wonosobo didominasi oleh penduduk Sembungan, Pathak Bantheng, dan warga sekitar pegunungan Dieng yang kemudian dikenal dengan istilah “haji kentang”.

Kini, urbanisasi benar-benar tak terbendung. Meski para petani kentang masih sulit meninggalkan ladang-ladang mereka di lereng-lereng gunung, tetapi penghasilan dari kentang tidak melimpah seperti dulu, sehingga hijrah ke kota atau ke luar negeri menjadi pilihan yang tak bisa dihindari.

Merantau ke kota atau ke luar pulau Jawa, tentu bukanlah sebuah dosa. Bagi Suku Minangkabau merantau bahkan menjadi sebuah budaya yang tak bisa dipisahkan. Orang-orang Minangkabau merantau membawa mimpi-mimpi yang tinggi, dengan pikiran dan hati yang luas, serta keberanian yang baja. Merantau bagi orang Minangkabau juga bagian dari penggemblengan mental dan spritiual, untuk dapat menjalani hidup yang lebih bermakna dan mandiri.

Dengan filosofi merantau yang demikian itu, orang Minangkabau begitu terkenal dengan Rumah Makan Padang di berbagai kota, meski di daerahnya sendiri Rumah Makan Padang tidak pernah ada. Tidak heran pula lahir orang-orang besar dari tanah Minang yang notabene merupakan produk perantauan: Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Mohammad Yamin, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan tidak ketinggalan pula si penyair binatang jalang, Chairil Anwar—untuk menyebut beberapa nama.

Memang, sebagaimana terjadi di negara-negara berkembang, laju urbanisasi tidak bisa dihindari. Faktor penyebab terjadinya urbanisasi yang paling utama adalah karena kemiskinan dan sedikitnya lapangan kerja di daerah pedesaan. Sektor pertanian tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara industrialisasi di daerah perkotaan membuka kesempatan yang luas untuk bekerja. Lebih dari itu, Ahmaddin Ahmad dalam Redesain Jakarta: Tata Kota Tata Kita 2020 (2002) mengatakan, “Daya tarik kota besar bukan hanya luasnya lapangan kerja, tetapi juga yang mencakup daya tarik romantisme dan avounturisme kota yang penuh dengan hal yang heterogen, keserba-enakan, objek rekreasi dan seni yang beraneka ragam”.

Laju urbanisasi yang terus meningkat di bumi pertiwi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kebijakan ekonomi makro pemerintah orde baru, di mana kota dijadikan sebagai pusat ekonomi. Kebijakan tersebut mendapat kritikan yang tajam dari berbagai kalangan.

“Desa harus jadi kekuatan ekonomi. Agar warganya tak hijrah ke kota. Desa adalah kekuatan sejati. Negara harus berpihak pada para petani,” demikian sebuah syair lagu Iwan Fals yang dinyanyikan dengan nada sangat menyentuh. Dan usaha untuk memberdayakan masyarakat perdesaan sebenarnya sudah mulai dilakukan, meski belum menunjukkan hasil yang maksimal. Mantan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo sendiri pernah memopulerkan program Bali Ndesa Mbangun Ndesa, yang cukup memberikan dampak positif bagi kemajuan masyarakat di pedesaan. Sekarang, pasca Bibit digantikan Ganjar Pranowo, penguatan ekonomi pedesaan mestilah dijadikan sebagai bagian penting dari program Agenda 18—istilah yang dipakai Ganjar dalam program-programnya.

Bersiap “nJewer”

Ganjar sendiri pernah berkata: “Kami akan bahu membahu melaksanakan program-program pro rakyat dengan slogan mboten korupsi lan mboten ngapusi. Kalau ada kesalahan silahkan jewer kami." Ya, seorang penguasa (pemimpin) memang harus siap dijewer kapan dan oleh siapa saja. Peduli pemimpin itu minta dijewer atau tidak.

Bicara soal pemimpin di negara demokrasi sulit dilepaskan dengan Pemilu. Memang, Pemilu Legislatif baru akan dilangsungkan April 2014 nanti, tetapi kini kita sudah bisa melihat Daftar Calon Tetap (DCT) orang-orang yang nantinya akan kita beri mandat. Kepada merekalah kita titipkan lidah dan harapan kemajuan bangsa. Dan kita tidak butuh janji yang membusa (bualan), melainkan kerja yang nyata. Setelah mereka terpilih nanti, kita akan lihat: Apakah mereka akan sibuk memikirkan nasib rakyat, ataukah justru sibuk memikirkan bagaimana mengembalikan modal kampanye dan memperkaya diri sendiri. Kalau kemudian mereka ngapusi, maka satukan kekuatan, bersama kita “jewer”! | @jusufan

“Bendera”

Cerpen Jusuf AN, dimuat di Kedaulatan Rakyat 20 Agustus 2006

Dalam upacara Memperingati HUT RI ke 68 di Alun-alun Wonosobo, terjadi peristiwa yang tidak terduga, yakni saat Pengibaran Bendera, tidak bisa naik sampai puncak. Insiden tersebut membuat kita bertanya-tanya, apakah itu hanya kebetulan semata atau merupakan sebuah pertanda. Nah, jauh sebelum itu saya sudah menulis sebuah cerpen yang terdapat peristiwa nyaris serupa dengan insiden tersebut. Semoga menjadikan bahan renungan kita bersama. Merdeka!

Senja merah jatuh di teras rumah. Kesiur angin memainkan bendera di pucuk tiang bambu depan rumahku yang baru saja aku pasang. Bendera berukuran besar, mungkin 3 kali 4,5 meter, dengan warna putihnya kecoklatan. Bendera itu aku terima dari seorang lelaki tua yang aneh kemarin siang. Waktu itu, jika bukan karena Mansur, anak semata wayang yang baru menginjak TK, menangis meminta bendera aku dan istriku lebih memilih diam di rumah. Menikmati campursari lewat radio sambil leyeh-leyeh di ranjang. Ketimbang disengat panas matahari. Tapi akhirnya kami berangkat juga demi kasih kami kepada anak tercinta.
    “Yang ukuran kecil saja ya, Mas,” ujar istriku setelah aku menghentikan motor butut di depan penjual bendera yang pertama kami temui.
    “Bukankah Mansur minta yang besar? Kamu 'kan tahu watak Mansur seperti apa. Kalau tidak cocok dengan keinginannya tidak akan mau menerima,” jawabku.
    “Yang ukuran kecil 10 ribu, yang besar 20 ribu,” jelas penjual itu tanpa diminta.
    Aku dan istriku tertegak.
    “Mau beli berapa? Kalau mborong ya ada diskon.”
    “Cuma bendera, mengapa mesti mahal?” sahutku.
    Penjual itu tersenyum kecut, lalu melangkah menjauh seolah malas tawar-menawar. Penjual bendera kedua yang kami temui seratusan meter dari penjual pertama mematok harga serupa. Begitu juga penjual bendera ketiga, keempat, kelima.... Ah, entah sudah berapa penjual bendera coba kami tawar dan gagal. 
    “Sudahlah, Mas. Kita beli yang kecil saja,” saran istriku. Aku terdiam. Teringat pengumuman Kepala Desa lewat corong menara Masjid untuk memasang bendera di depan rumah. Kebetulan bendera yang biasa kami gunakan setahun sekali entah hilang kemana. Mungkin terbawa tetangga saat karnaval agustusan tahun lalu, atau dijadikan serbet atau keset oleh istriku. Entahlah.
Bagiku tak jadi soal jika tak memasang bendera karena memang tak punya. Untuk apa? Adakah orang-orang yang memasang bendera itu bermasksud agar lebih hikmat mengenang sejarah? Tapi ketika melihat semua rumah teman-temannya sudah lengkap dengan bendera Mansur seketika menangis. Air mata Mansur itulah yang paling ampuh meluluhkan hatiku. “Kecil dalam pandangan kita, mungkin besar di mata Mansur,” lanjut istriku, membuyarkan lamunanku.   
    Ya. Mungkin istriku benar. Maka, di penjual bendera yang kelima belas—mungkin aku salah hitung—akhirnya kami membelinya. Bendera dengan dua warna; merah menyala dan putih bersih dengan ukuran 60 cm x 90 cm. Semoga Mansur menganggap bendera itu besar, sama seperti punya teman-temannya.
    Keringat telah membasah di punggungku, juga terlihat berleleran di kening istriku. Karena ingin lekas sampai di rumah, aku mengambil jalur pintas dan melajukan motor lebih kencang. Belum setengah perjalanan pulang aku tempuh, seseorang dengan kepala dipenuhi uban dan wajah penuh garis keriput mengagetkanku. Jika aku tak cepat menginjak rem mustahil ia akan selamat. Betapa tidak, ia berdiri di tengah jalan dengan merentangkan dua tangan seperti polisi.
    “Maafkan kelancangan saya, Pak. Sudah seminggu ini saya jualan bendera dan belum satu pun yang laku. Belilah bendara-bendera saya ini, Pak,” kata lelaki tua itu. Bola matanya yang kecoklatan berkaca. Gasis-garis keriputnya nampak menebal. Mungkin usinya sekitar 75 dan ketika kemerdekaan negeri ini diproklamirkan ia sedang gagah-gagahnya. Atau, barangkali ia seorang veteran?
    “Saya mohon, Pak. Belilah satu saja,” katanya.
    Mendengar suaranya dan memandang raut wajahnya membuat darahku tak jadi naik. “Yang besar berapa, Pak?” tanyaku. Lalu berbisik di telinga istriku, siapa tahu lebih murah.
    “Dua puluh ribu, Pak. Pas. Sama seperti yang lain,” jawabnya.
    Mendengar itu aku buru-buru menyalakan motor. Tapi lelaki tua itu menjagalku. “Pasti Bapak keberatan dengan harga itu?” tebaknya.
    “Kami sudah beli, Pak. Tapi yang kecil, cuma untuk menyenangkan anak,” jawabku.
    “Bendera saya lebih bagus dari yang lain, Pak. Saya menjahit bendera-bendera ini sendiri, dengan penuh penghayatan, sambil mengenang masa muda di jaman penjajahan,” jelasnya. Mendung tebal menyelimuti dua bola matanya. “Jika Bapak memasangnya di depan rumah, pastilah bendera yang Bapak beli ini akan nampak lebih gagah dan lebih indah dari yang lainnya.”
    Aku lagi-lagi tersentuh dengan getar suaranya yang pelan dan parau. Sejenak aku dan istriku berpandangan. Dari mata istriku aku menebak perasaan yang sama denganku tengah ia rasakan. Tujuh tahun aku bersamanya membuatku paham kalau ia perempuan berhati lembut dan suka menolong orang lain.
    “Bagaimana, Pak?”    
    Aku merogoh saku celana mengeluarkan semua isinya. Hanya selembar uang lima-ribuan. “Maaf, Pak. Tadinya kami ingin beli yang besar. Tapi maaf, uang kami tak cukup,” kataku.
    Mendadak penjual itu meloncat ke belakang, mengambil sesuatu dalam kotak kayu. Aku heran, meski sudah renta, tapi gerakannya begitu cepat. “Pasanglah bendera ini, Pak. Saya berikan cuma-cuma untuk Bapak,” terangnya. Aku tercengang lama.    
    “Matur nuwun, Pak. Kami sudah punya, meski kecil tak apa. Bapak pasang saja bendera itu di depan rumah Bapak,” jawabku. Meski gaji sebagai guru honorerku kecil, tapi aku lebih senang membeli dari pada diberi. Dan iteriku bisa memahami.
    “Meski usia bendera ini cukup tua tapi masih bagus, Pak. Dulu bendera ini biasa saya kibarkan di pucuk tiang yang tinggi setiap bulan Agustus tiba. Tapi sudah puluhan tahun ini, setiap saya memasangnya, ia selalu turun dengan sendirinya menjadi setengah tiang. Saya tak tahu persis sebabnya. Mungkin bendera ini akan bertahan dipucuk tiang jika dipasang di rumah Bapak, dan saya akan turut senang.”
    Karena ia terus memaksa, akhirnya kami menerima. Setibanya di rumah, aku, istriku dan Mansur membentangkan bendera pemberian lelaki tua itu di lantai. Mulanya Mansur tertawa girang. Tapi ketika bendera itu terbentang sempurna dan terlihat bercak-bercak merah pada warna putihnya tawa Mansur seketika berhenti. “Kok kotor?” kata Mansur kecewa.
Sebelum tangis Mansur kembali pecah, aku segera menyuruh istriku mencuci bendera itu. Istriku telah menyikatnya keras-keras dengan busa sabun yang melimpah, tapi bercak-bercak merah itu justeru membuat warna putihnya menjadi kecoklatan dan jelek. Untunglah Mansur mau menerimanya dan esok sorenya aku baru sempat mengibarkannya.
***    
    Lama aku memandang bendera yang berkibar di pucuk tiang itu sambil mengingat wajah lelaki tua yang dalam matanya dipenuhi guratan kesedihan. Tadinya aku kira apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu bohong belaka. Buktinya bendera itu tetap berkibar di pucuk tiang. Tetapi ketika angin berkelebat kencang, dadaku mendadak bergeletar. Aku membelalakkan mata menatap bendera itu pelan-pelan turun dan berhenti di tengah-tengah tiang bambu.
Segera aku turunkan bendera itu, memeriksa apakah tali yang aku pasang kurang kencang, kemudian mengibarkannya kembali. Sungguh, aku yakin benar sudah begitu kencang menalinya Tapi sebentar kemudian, bersama dengan kelebat angin kencang bendera yang berkibar di pucuk tiang itu kembali turun menjadi setengah tiang. Beberapa kali aku menurunkannya dan membenarkan letak bendera itu di pucuk tiang, tetapi tetap saja ia turun menjadi setengah tiang. Tanpa panjang pikir lagi segera aku bergegas mengambil motor dan pergi untuk menemui lelaki tua penjual bendera itu.

Yogyakarta, Agustus 2006