Kematian, Akhir Segala Potensi Keburukan

Kematian pasti akan datang. Klise betul kalimat itu. Tapi kenyataannya banyak orang takut dengan maut, diam-diam atau terang-terangan. Kenapa takut? Macam-macam alasannya. Kenapa ingin usia lebih panjang? Macam-macam alasannya. Yang jelas, tak seorang pun dapat memesan tanggal kematiannya, secara online maupun offline.

Membayangkan saat kematian bukan hanya membayangkan bagaimana alam setelah kematian, tetapi juga orang-orang yang kita tinggalkan. Anak kita, istri kita, orang-orang yang kita kasihi, akan seperti apakah mereka setelah kita mati. Seakan-akan kita begitu penting bagi mereka sehingga jika kita mati lebih dulu, maka mereka akan bernasib sial. Seolah-olah kitalah yang menghidupi, menyejahterakan, dan membahagiakan mereka. Celaka betul pemikiran semacam itu.

Coba kalau dari awal kita menstatuskan bahwa kehidupan ini adalah pemberian Allah, dan kematian juga atas kehendak Allah. Sayangnya selama ini kita kerap mensikapi kehidupan secara salah. Bahwa hidup adalah waktu di mana kita mencari karir, harta, kesejahteraan, dan lain sebagainya yang fana. Sedangkan kematian adalah akhir segalanya?

Nabi menyikapi hidup dan kematian dengan santai: Kehidupan adalah waktu menambah kebaikan. Sedangkan kematian adalah akhir dari segala potensi kita berbuat keburukan. Hari ini mungkin kita tidak jahat, tidak korupsi, tidak selingkuh, tetapi selama kita hidup sebenanarya kita punya potensi untuk melakukan hal-hal buruk tersebut. Dan ketika kematian itu tiba maka artinya potensi berbuat buruk itu sudah berakhir.

Tapi kan bekal kita belum cukup untuk perjalanan di negeri akhirat? Lalu apakah kalau kita akan hidup lebih lama pasti akan menambah bekal itu? Atau justru sebaliknya, kita menambah dosa dan memberatkan hidup kita di akhirat? Cobalah kita membalik cara berpikir yang salah itu dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Niscaya hidup jadi ringan, dan rileks saja mengahadapi kematian.

Disarikan dari ceramah Gus Baha’.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »