Jehenna, Narasi Jin di Tengah Kita

Artikel ini merupakan review novel Jehenna yang ditulis oleh Ridwan Munawar*) dan pernah dimuat di Koran Merapi edisi minggu.

“kesesatan pun perlu dibaca. Untuk dihindari”
(Ahmad Tohari)


Sederet kalimat di atas kiranya cukup reresentatif untuk menggambarkan spirit dari novel mistik yang menggambarkan bagaimana gigihnya proses penyesatan yang dilakukan oleh kaum jin terhadap manusia ini. Membaca novel ini, adalah mengikuti ketegangan tanpa henti tentang bagaimana perilaku manusia selalu berada dalam godaan dan pilihan nilai baik-buruk sampai pada titik terkecilnya.

Tokoh utama di sini adalah Jehenna, seekor jin jantan yang menggoda para pengikut Muhammad Jumadil Qubra’ dan Sunan Kalijaga sampai pada keturunannya di masa dulu sampai modern sekarang. Dengan kata lain, alur waktu dalam novel ini ada tiga; masa jawa klasik, masa pergerakan nasional dan masa modern sekarang. Dalam satuan waktu kaum jin yang rata-rata berumur ratusan sampai ribuan tahun manusia, kurun waktu tiga periode di atas tentulah pendek saja adanya. “Jehenna” sendiri adalah sebuah kata yang berasal dari Syiria yang berarti “jahanam.



Melihat tema yang mistik dan mungkin terkesan horor ini, di antara kalangan pembaca barangkali ada yang bertanya dan menerka; jangan-jangan novel ini sama saja halnya dengan cerita-cerita hantu lain yang galibnya disukai orang-orang. Memang, dari segi sejarah kesusasteraan, cerita hantu atau novel-novel mistik yang mengeksplorasi mitologi alam gaib, jadag lelembut, alam jin, supranaturalitas pernah meramaikan dunia perbukuan kita, terutama pada dekade 80-90 an. Kita mungkin masih ingat novel-novel stensilan dengan tema di atas yang seringkali nama pengarangnya adalah nama samaran. Marga.T, seorang penulis kisah asmara populer pun ternyata pernah menulis tema demikian dalam beberapa edisi novelnya.

Banyak kalangan dari kritikus sastra yang mengkategorikan novel cerita hantu sebagai sastra ringan/populer. Dari segi kebahasaan, novel-novel itu memang datar-datar saja, tidak mengalami sofistikasi dan estetisasi bahasa yang njlimet. Dan segi penceritaan pun, novel horor stensilan itu tidak memiliki pesan moral yang mendalam.

Namun lain hal nya dengan novel mistik “Jehenna” ini. Dengan dialog yang subtil dan intens, konflik antara jin dan insan (manusia) pun bisa dieksplorasi sampai pada sisi nilai yang dalam; bahwa keberadaan mahluk gaib supranatural bukan sekedar keseraman-keseraman bentuk yang tanpa arti, melainkan juga memiliki peran yang penting dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Dari segi kebahasaan, novel ini cenderung puitis dan cukup peka akan perimaan.

Ini adalah suatu terobosan menarik. Sebab, bagaimanapun jika melihat realitasnya, kepercayaan mistik masih menjadi sesuatu yang kental dalam fikiran masyarakat kita, dari desa sampai kaum urban kota. Apa yang menjadi kesadaran publik, haruslah terus digali dan disikapi dengan nalar yang baik. Bisa dibilang, “Jehenna” adalah suatu usaha pencarian jalan baru dalam menarasikan mitologi mistik masyarakat kita. Sementara, pada kebanyakan pengarang dan penulis, tema-tema semacam ini banyak dihindari, karena bisa terjebak ke dalam nuansa artifisial yang kurang mengindahkan substansi nilai mistisistme Islam.

Di dunia Barat, urban legend semacam kisah hantu “Bloody Mary”, “Dracula”, atau “Bogeyman” terus direproduksi dan dinarasikan ulang lewat film dengan perbaikan yang ketat di sana-sini. Ini menjadikan dongeng yang semula picisan itu menjadi memiliki sisi lain yang patut dipertimbangkan dalam menafsirkan alam bawah sadar masyarakat urban perkotaan di Amerika. Reproduksi dan penarasian ulang menjadikan urban legend bergeser dari sekedar dongeng ringan menjadi sebentuk artefak ketaksadaran kolektif dari masyarakat yang mempercayainya.

Sudut pandang penceritaan yang memposisikan Jin sebagai narator adalah satu kekuatan penceritaan novel ini. Selama ini, hampir semua novel-novel pop mistik sebelum Jehenna selalu memposisikan mahluk gaib sebagai sesuatu yang asing, alienatif dan sesuatu yang hadir sebagai teror tanpa alasan terhadap dunia manusia. Dalam Jehenna, Jin justru ditampilkan sebagai sosok yang memiliki kesadarannya sendiri. Suara tokoh jin dan manusia yang saling berjalin kelindan dalam setiap sudut narasinya, menciptakan ketegangan yang detail dalam setiap sudut kisahnya. Konflik yang padat inilah yang membuat novel unik ini menegangkan dari awal sampai akhir.

Personifikasi jin menjadikan kehadiran alam gaib/alam lelembut itu terasa makna antropologisnya. Kehadiran jin sebagai penggoda manusia juga erat kaitannya dengan alam bawah sadar manusia dalam novel ini. Tentunya hal ini membuka peluang bagi Jehenna untuk ditafsirkan pada banyak sisi dalam kaitannya dengan mitos dan alam bawah sadar masyarakat kita yang notabene percaya akan adanaya alam gaib.

Membaca novel ini, anda tidak akan merinding takut sebagaimana halnya menonton film-film horor di televisi, tetapi menjadi lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan dalam keseharian kita.


*)Ridwan Munawar, Mahasiswa Psikologi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Sumber: Koran Merapi, 9 Januari 2011)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

comments
8 Februari 2011 17.29 delete

agaknya novel ini layak dibaca juga nih, pak, meski marga T dalam dunia sastra selama ini cenderung kurang diperhitungkan.

Reply
avatar
11 Februari 2011 09.19 delete

Iya, Pak. Novel Jehenna sebenarnya bukanlah novel horor. Meskipun ia mengangkat tema dunia jin. Pembaca tidak akan merinding ketakutan, hanya saja akan merasa terteror.

Reply
avatar